
"oh keluarga bu Hani ya? iya dia dulu tetangga saya disini namu mereka sekeluarga pindah ke padang saya juga kurang tau kenapa mereka pindah ke padang tiba tiba dan menjual rumahnya segala"
"oh rumahnya ikut dijual bu?" tanya Toni kepada seorang ibu warung yang tak jauh dari rumahnya nabila dulu
"iya dijual"
"oh seperti itu ya bu"
"adek ini siapa? ko cari orang yang sudah lama pindah?"
"oh saya temannya nabila bu"
"oh Nabila, dia dan ibunya beruntung bertemu pak Ridwan yang mau menerima mereka" ucap sang ibu pemilik warung.
"loh beruntung kenapa? pak ridwan suaminya ibunya nabila kan?" tanya Toni heran karena ucapan ibu tadi
"kamu ga tau dek, si Nabila kan bukan anak kandungnya pak Ridwan, dia itu anak dari bu hani yang ga tau siapa bapaknya"
ucapnya dengan nada rendah takut didengar oleh orang lewat
"maksud ibu ga tau siapa bapaknya gimana bu?"
" ya itu hasil pe********n, dulu katanya bu hani menjadi korban, dia di pe****a oleh pria tak dikenal, meskipun yang ibu tau dia adalah korban, tapi orang orang disini tak sedikit yang menganggap rendah bu hani di awal awal kehamilan sampai lahiran anaknya,tapi lama kelamaan mereka acuh dengan berita itu sampai datang pak Ridwan yang datang menikahi bu Hani, waktu itu nabila sudah masuk sekolah TK kayanya"
tapi tetap aja de tetangga yang nyinyir julid ada aja"
__ADS_1
"oh seperti itu ceritanya bu, terimakasih ya bu" Toni berniat mengakhiri obrolan mereka, karena baginya sudah cukup mendengar cerita ini.
"jadi seperti itu bos ceritanya"
Toni menceritakan hasil dari penyelidikannya, awalnya Toni mendatangi alamat rumah nabila di Bandung dulu, namun sang pemilik rumah tidak mengenal dengan nabila, dan ternyata rumah itu sudah lama dijual kepadanya, saat Toni berniat mau pulang, namun dia melihat ada warung, dia berniat membeli air minum, dan iseng nanya ke si pemilik warung, dan akhirnya Toni mendapatkan sedikit cerita tentang latar belakang keluarga Nabila.
"keja bagus Ton, terimakasih"
faris sedikit ada gambaran tentang nabila, namun dia belum puas dengan alasan kenapa nabila memutuskannya 5 tahun yang lalu
" ada hubungan apa bos dengan nabila sebenarnya?" Toni tambah penasaran kenapa si bos tertarik sekali dengan kehidupan nabila
"nanti juga kau tau jika audah saatnya, sekarang tolong kamu siapkan ruang untuk meeting nanti siang"
"permisi bos"
"iya kemana aja lu udah dua munggu pindah kantor ga ngasih kabar kabar ke gua, pasti lu betah ya sampai lupa ngabarin" omel sang sahabat di sebrang telepon sana
"sorry gua belom sempet, gua sibuk ca"
"sesibuk apa sih jadi sekretaris? gimana CEO nya masih muda apa sudah om om? awas lu hati hati digenitin sama om om?"
nabila baru menceritakan ke caca soal posisi kerjanya di kantor cabang, selain itu belum ada yang diceritakan lagi.
"masih muda ca bukan om om"
__ADS_1
"wah CEO muda nih ceritanya, gimana ganteng ga?" tanya caca antusias mendengar nabila cerita
"ganteng tapi ga baik buat kesehatan jantung ca"
"ga baik gimana bil, ya enak dong cuci mata tiap hari"
"bukan cuci mata yang ada jantung gua ketar ketir tiap ketemu dia"
"lah kenapa gitu, pasti dia tipe CEO tampan dingin gitu kaya di novel novel gitu ya?"
"dasar lu korban pecinta novel, lu tau ga ca siapa CEO gua?
" ya ga tau lah, orang belum ketemu juga, lu juga belum cerita, ya mana gua tau bila, gimana sih lu"
" ca CEO gua itu ..."
obrolan mereka terhenti saat Toni menghampiri mejanya.
" nabila tolong bilang ke bos persiapan meeting sudah siap, tinggal kamu siapkan berkas berkasnya"
"oh ok Ton"
Toni pergi meninggalkan meja nabila
" ca udah dulu, gua sebentar lagi ada meeting, nanti lanjut lagi ceritanya"
__ADS_1
tut..sambungan telepon terputus, karena nabila harus menyiapkan berkas berkas meeting.