
Semua orang tersenyum ramah kepada Pandu, siapa yang tak kenal sama Pandu Wijaya karena dia merupakan anak dari pemilik rumah sakit. Pandu terus melangkahkan kakinya ke kamar Nabila berada.
Tak jauh beberapa meter dari Pandu ada seorang pria juga yang sedang berjalan melangkah ke arah yang sama dengan Pandu tuju, yang tak lain adalah sang kekasih dari pemilik kamar yang dituju.
ceklek
Saat pintu terbuka di sana sudah ada Wijaya, papanya, satu orang perawat dan bunda Hani, kebetulan sekarang saatnya Nabila kontrol.
Sesaat Wijaya nampak berpikir, kemudian menghela nafas panjang
"kamu boleh kembai duluan suster"
ucap Wijaya, kemudian sang suster keluar dari ruangan
"Hai Nabila"
Sapa Pandu pada Nabila
"Hai, aku belum ngucapin terimakasih loh sama kamu, kamu udah nolongin aku pas kecelakaan"
"Sudah kewajibanku menolongmu, bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Sudah mendingan, seperti yang kamu lihat"
"Oh ya ini aku bawa makanan kesukaan kamu kalau order di resto"
Bunda mengerutkan dahinya
"kamu ingat sama Pandu nak? bukankah kalian berteman baru baru ini kan?"
__ADS_1
tanya bunda heran
sesaat Nabila melototkan mata, bisa bisanya dia keceplosan seperti ini, dan bunda nampak curiga kepada Nabila.
Akhirnya Nabila memutuskan untuk jujur pada bundanya.
"Ingat mah"
Jawab Nabila sambil menunduk
"Memangnya kenapa Tan?"
"Nabila, bukannya kamu kehilangan ingatan kamu nak?
dok bukannya dia mengalami amnesia antero grade seperti yang anda bilang kan?"
tanya bunda kembali pada Wijaya
Wijaya nampak kasihan melihat Nabila
"Nabila yang meminta saya untuk mengatakan hal itu pada kalian waktu itu, padahal saya sudah menolak karena sudah melanggar peraturan saya sebagai dokter, tapi saya yakin Nabila punya alasannya"
Kini giliran bunda yang menatap anaknya
"kenapa kamu pura pura seperti itu nak? tau ga bunda itu khawatir sama kamu, kasihan Faris juga, dia terlihat sedih saat kamu pura pura tak ingat sama dia"
Nabila teringat kembali sebelum dirinya kecelakaan, dia menerima telpon dari ibunya Faris
Flash back on:
__ADS_1
"Halo"
Nabila mengangkat telpon dari nomor yang dia tidak kenal, terdengar suara perempuan di seberang telpon sana
"Nabila, ini tante mamah nya Faris"
"Oh iya tan ada apa ya?"
"Nabila, tante sengaja telpon kamu tante harap kamu bisa tinggalin Faris, tante tau kamu tak sepenuhnya salah, tapi tante mengharapkan yang terbaik buat anak tante, jauhin Faris!, dulu kamu bisa kan meninggalkan Faris? sekarang tante harap kamu juga bisa melakukannya, karena Faris tak mungkin melakukannya"
Nabila terdiam, karena untuk yang ke dua kalinya mamah Faris memintanya untuk meninggalkan Faris
"Halo Nabila, kamu dengar tante kan?"
"Iya tante, sakan Bila usahakan"
mamah Faris langsung menutup telponnya.
Flash back off
"Bila ingin menjauh dari Faris mah, kita berdua tak cocok, Bila pikir dengan pura pura seperti itu Bila mudah menjauh dari Faris"
"Tapi kenapa? kalian nampak serasi ko, Faris sepertinya laki laki baik dan dia benar benar serius sama kamu"
Nabila menggelengkan kepala seraya menunduk menahan air mata yang akan menetes.
"Kita ga cocok bun, Nabila ga pantas bersanding sama Faris, mamahnya Faris pun tidak bisa nerima Nabila mah"
"Tapi kenapa?"
__ADS_1
"Karena latar belakang hidup Nabila bun"
Bundanya tau apa yang dibicarakan anaknya, dia juga merasa sedih kenapa ini terjadi pada anaknya. Dia menatap tajam pada Wijaya seolah mengatakan "lihat ini hasil dari perbuatanmu, anaknya menjadi korban"