Kembalinya Sang Mantan

Kembalinya Sang Mantan
34


__ADS_3

di kediaman orang tua faris, ayah faris nampak sedang berbicara dengan istrinya


"mah apa mamah ga bisa lihat keseriusan faris sama Nabila?kelihatannya anak kita sudah sangat menyayangi Nabila dan tak bisa mamah pisahkan begitu saja"


"tapi pah, papa tau sendiri siapa Nabila,apa nanti tanggapan keluarga kita pak?"


"mah faris sudah dewasa biarkan faris memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya, mamah jangan terlalu over thingking tentang tanggapan mereka"


papa faris sedang berusaha untuk menjadi penengah bagi istri dan anaknya


" perasaan mamah dulu suka sama Nabila, sampai terakhir kali ketemu sebelum tau masalah ini"


"iya memang mamah suka sama Nabila, tapi pah setelah tau masalah ini, mamah jadi kurang setuju, oke ga papa jika faris berteman dengannya, tapi untuk jadi istri faris mamah jadi ga setuju"


apa mamah jodohkan faris saja ya pah?"


"jangan ngawur kamu mah, anak sekarang mana ada yang mau di jodoh jodohkan, apalagi faris yang sudah jelas punya kekasih"


papa faris heran sama pemikiran istrinya


sedangkan di lain tempat Nabila sedang merenung sendiri, menatap tetesan hujan yang tersisa di kaca jendela kamarnya, karena hujan beberapa waktu tadi


"aku mencintaimu faris, tapi jika bersamaku membuat mamahmu marah dan benci padaku aku rela melepasmu, aku tak bisa memaksa orang untuk bisa menyukaiku"


batin Nabila


dia jadi teringat dulu masa kecilnya, sebelum dirinya bertemu dengan ayah Ridwan.


flash back on:


"mah aku ingi main sama teman teman di luar ya?"tanya Nabila kecil ke bundanya, sang bunda hanya mengangguk, dan Nabila pun berlari ke luar rumah

__ADS_1


"teman teman aku ikut main ya sama kalian"


saat Nabila sudah berada di antara mereka


"ngga ah bila, kata mamahku aku jangan main sama kamu"


jawab salah satu anak perempuan di antara mereka.


"aku juga ga mau ah Nabila"


ucap anak yang lainnya dan akhirnya semua anak anak tadi meninggalkan Nabila sendiri.


Nabila berlari ke rumahnya sambil menangis


"hiks..hiks..bunda"


tangis Nabila semakin kencang, bunda pun segera menghampiri Nabila


"kamu kenapa sayang? katanya mau main, kenapa pulang lagi dan malah nangis?"


"aku ga punya teman bunda, mereka ga ada satu pun yang mau main sama aku, hiks"


jawab Nabila sambil terisak


"ga papa sekarang kamu mainnya sama bunda aja di rumah ya kita main masak masakan, mau?"


"katanya mereka ga di bolehin sama mamahnya main sama aku bun..hiks"


bunda merasa sedih melihat anaknya tidak bisa menikmati masa kecilnya dengan bermain dengan temannya.


"kenapa kamu harus mengalami ini nak, kamu ga salah, kita ga salah, pria itu yang bersalah"

__ADS_1


batin bunda sambil memeluk putri kesayangannya


flash back off


"kenapa kehadiranku selalu tidak diterima ya Tuhan, apa aku di takdirkan untuk seperti ini?"


Nabila menyeka air mata yang tak terasa sudah mengalir deras di pipinya.


entah kenapa tiba tiba hati bunda jadi gelisah, dia jadi teringat anaknya di sana.


dia mencoba menelpon namun tak ada jawaban dari sang anak, membuat hatinya menjadi semakin tidak karuan.


"Denis ayah mana nis?"


"ada di teras depan mah, mamah kenapa ko muka mamah gelisah gitu?"


bunda tak menghiraukan denis, dia terus melangkahkan kakinya ke teras.


"yah kita ke Bekasi yu tengok Nabila"


ucap bunda tiba tiba mengajak suaminya untuk nengok ank perempuannya


"bunda kenapa tiba tiba ngajak ke bekasi?"


"bunda khawatir sama Nabila yah, dari tadi bunda inga terus ke Nabila"


" coba bunda telpon dulu Nabila, pastikan kabar dia dulu"


"udah yah, udh 3 kali tapi ga di angkat"


hati bunda tak tenang taku terjadi sesuatu sama anaknya.

__ADS_1


"ya sudah nanti sore aja ya bun, ayah ke rumah sakit dulu, ada janji sama rekan ayah"


"iya yah"


__ADS_2