
sebulan kerja bersama nabila, membuat perasaan faris tak karuan, jika berdekatan dengan nabila bukan hanya membuat jantung nabila ga karuan begitu juga dengan faris, entah kenapa perasaan yang sudah lama hilang kini menyelinap masuk.
faris ingin mulai mendekati nabila tapi nabila seolah menutup diri, dan menjaga jarak dengannya.
"untuk acara audit dari kantor pusat minggu besok tolong persiapkan dengan baik, persiapkan meeting untuk membahas masalah ini"
" baik pak, oh iya tadi ada orang dari bagian finance ingin menemui bapak, katanya untuk kekurangan staff finance akan kita rekrut sendiri atau mau ambil dari kantor pusat?"
"Saya ingin ambil dari kantor pusat saja bil, biar lebih berpengalaman dan untuk menghemat waktu rekrut biar tidak perlu proses training, karena kalau dari kantor pusat dia pasti sudah paham mengenai kerjaannya karena tidak jauh beda dari kantor pusat kan?"
"oh iya pak saya juga pikir begitu"
"nabila sabtu malam ada acara?" tanya faris ke nabila saat nabila sudah mau keluar dari ruangannya
"tidak ada pak"
"jam 8 saya jemput kamu, ada undangan resepsi dari teman saya sekaligus relasi kerja kita"
"maksudnya saya ikut juga pak?"
"iya, kamu temani saya perwakilan dari kantor. kenapa? sepertinya kamu merasa keberatan?"
tanya faris saat melihat raut muka nabila yang seakan ingin menolak ajakannya
"apa tidak ada orang lain lagi selain saya pak?" nabila berusaha menolak, dia merasa tidak nyaman harus pergi hanya berdua dengan faris apalagi pergi ke acara resepsi pernikahan.
"tidak ada penolakan, jam 8 saya jemput kamu"
mau tak mau nabila meng iyakan ajakan faris,karena dia sudah paham gimana CEOnya, jika sudah merintah dia tidak bisa ditolak,apalagi terhadap nabila.
Nabila merapikan mejanya karena jam kerja sudah selesai. hari ini dia merasa lelah ingin cepat pulang dan merebahkan diri di atas kasur.
__ADS_1
setiba di kosan Nabila dia merebahkan dirinya di atas kasur. kosan yang disediakan oleh kantor lamanya cukup nyaman, kosan lebih tepatnya rumah yang disewakan, tidak terlalu besar namun cukup menurut nabila, satu ruang kamar, satu kamar mandi, dapur minimalis dan ada ruang tamu.
sambil rebahan Nabila mencoba menelpon ibunya"
"Halo Assalamualaikum Bunda apa kabar?"
"waalaikumsalam bila, alhamdulillah baik, kamu gimana ko baru nelpon bunda sih? gimana betah disana?"
" baik juga bun,iya bila betah ko bun disini, maaf baru telpon, bila kemaren kemaren sibuk bun, maklum masih awal pengalaman baru jadi sekretaris"
"iya gapapa bil, dengar kamu sehat aja bunda udah senang, kapan pulang bil?"
"ga tau bun, bila usahakan pulang bulan ini bun, bulan kemaren kan bila ga bisa pulang, sudah kangen sama bunda" ucap nabila dengan suara manjanya kepada bundanya
"kamu ini masih manja, umur kamu udah 25 tahun bila"
"ih bunda mah, oh ya Denis mana bun? bila pengen tanya dia, gimana rasnya jadi mahasiswa"
"ayah mana bun, bila pengen ngomong sebentar"
"halo bil, gimana kabarmu nak? gimana betah disana?"
" baik yah, bila betah ko disini"
"alhamdulillah kalau betah, ayah cuma titip jaga diri baik baik yah, kamu disana sendiri, jaga kesehatan"
" iya ayah pasti"
jujur saat mendengar nabila di mutasi ke Bekasi, bunda sempat khawatir dengan keadaan putrinya nanti, dia teringat masa mudanya dulu, bunda jadi gelisah jika ingat anak gadisnya tinggal sendiri di Bekasi.
namum Nabila terus meyakinkan bundanya bahwa nabila bisa jaga diri dengan baik.
__ADS_1
Nabila dan bundanya beruntung bisa dipertemukan dengan Ridwan, seorang laki laki yang lembut dan tanggung jawab yang menerima keadaan bunda hani dan nabila.
"dah ayah bunda, salam buat Denis"
Nabila menutup pembicaraan mereka.
Nabila menyayangi ayah Ridwan, meskipun tidak tau gimana rasanya punya ayah kandung, tapi nabila sayang sama ayah Ridwan, karena ayah Ridwan yang selalu menjaganya dan bundanya, yang selalu membelanya saat ada orang yang menghinanya. Nabila jadi teringat saat pertama bertemu ayah Ridwan
flash back:
"kamu mah ga punya ayah nabila, kamu cuma punya bunda doang, ga kaya kita. nanti siapa yang bakal ngajak kamu main?"
"iya kita kan suka main bersama keluarga, ada mamah sama papa, kamu cuma ada bunda doang, ayah kamu kemana?"
nabila kecil merasa terpojok atas ucapan teman temannya, tak jarang nabila kecil sering dikatai tidak punya ayah dan dia sering merasa sedih. Nabila pun berlari pergi meninggalkan temannya.
hiks..hiks, nabila menangis
"kamu kenapa anak manis ko nangis?" datang seorang pria dewasa menghampiri nabila yang sedang menangis
"aku diledek ga punya ayah om, hiks, aku cuma bunda doang, aku pengen main sama ayah sama bunda, tapi aku ga punya ayah om"
adu nabila sambil menangis
" ya udah main sama om aja, panggil om ayah juga gapapa"
"beneran om?" tanya nabila antusias senang
pria itu pun yang tak lain ridwan pun mengangguk.
flash back off.
__ADS_1