
drrrrt...drrrrt
Faris membuka notifikasi pesan masuk di Hpnya, ternyata satu pesan masuk dari mamahnya
mamah
Faris mamah sudah di depan pintu rumahmu, kamu dimana? dari tadi mamah telpon kamu ga di angkat
Faris terkejut, dia kira mamahnya kemarin tidak serius untuk menyusulnya ke Bekasi, Faris segera berbalik arah, niat untuk menjenguk pujaan hati harus dia tunda besok hari, karena kasihan mamahnya menunggu di rumah.
"Halo mah, Faris lagi di jalan pulang mamah tunggu sebentar ya"
"kamu habis dari mana? bukannya kamu sudah pulang dari tadi?"
"Faris habis dari rumah sakit mau jenguk Nabila, tapi ga jadi ya sudah mamah tunggu ya"
Faris menutup telpon dari segera mengemudi mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata.
"Jadi kamu melakukan ini hanya karena ingin menjauh dariku Nabila, jika kamu masih terus memikirkan ucapan mamah, aku akan terus berusaha meluluhkan hati mamah, kamu sabar ya Bil"
batin Faris sambil mengemudikan mobilnya
"Jadi pria yang kemarin itu kekasih kamu Nabila?"
tanya Wijaya, setelah kemarin dia penasaran kenapa Nabila memintanya untuk berbohong, ternyata ini alasannya.
__ADS_1
Hatinya terasa sedih mendengar apa yang Nabila ucapkan barusan, ingin rasanya dia membantu Nabila dengan menyatukan Nabila dengan kekasihnya.
"Bukan urusan anda"
Jawab bunda Hani ketus
Nabila merasa aneh melihat bundanya bersikap seperti itu, kenapa bundanya bersikap ketus kepada dokter yang memeriksanya.
"Nabila, saya ingin menyampaikan sesuatu hal penting kepadamu, mumpung disini ada Pandu dan Hani bunda kamu"
Wijaya mengambil nafas dalam, sudah keputusannya untuk segera memberitahu yang sebenarnya kepada Nabila.
"Saya rasa Nabila harus beristirahat dok"
Cegah bunda, saat bunda sudah bisa menebak apa yang ingin Wijaya katakan
Nabila hanya bingung melihat sika bunda dan dokter yang ada di hadapannya
"Bun, ini sebenarnya ada apa? biarkan dokter ini mau menyampaikan apa"
meskipun bunda berusaha mencegah Wijaya mengatakannya sekarang pasti lain waktu dia akan berusaha menceritakannya juga.
"Nabila, saya Wijaya ayah biologis kamu nak"
Nabila tersentak kaget mendengarnya, tidak angin tidak ada hujan ada seorang dokter di hadapannya mengaku ayahnya.
__ADS_1
"Apa yang dokter bicarakan, dokter jangan bercanda dok"
Nabila menyangkal karena rasanya tidak mungkin, dengan tiba tiba ayah kandungnya muncul di hadapannya.
"Saya serius Nabila, saya ayah kamu, ayah kandung kamu"
"Bun ini maksudnya apa?"
Nabila melihat ke arah bunda yang hanya diam tidak menyangkal apa yang dokter itu ucapkan
"Mungkin ini pertanyaan kamu selama ini nak, tentang siapa ayah kamu, ini saatnya kamu bertemu dengan ayah kandung mu, bunda juga tak menyangka dipertemukan kembali dengan laki laki seperti dia"
Jawab bunda sambil menatap tajam Wijaya
"Bila ga percaya bun, ini pasti mimpi"
"Ini bukan mimpi Nabila, kini di depan kamu berdiri ayah kandung kamu yang tak lain adalah papa aku, itu artinya kita saudara kandung bil"
Pandu ikut bicara meyakinkan Nabila. Apa yang Nabila rasakan sama dengannya saat dia baru mengetahui kebenaran dari papa nya.
"Kamu bercanda juga kan Pan? mana bisa kita adik kakak?
Bun katanya Bunda tak mengenal wajah orang yang melecehkan Bunda waktu itu"
Wijaya menceritakan semua kejadian mulai dari malam itu sampai usahanya mencari Hani yang tidak ada hasilnya.
__ADS_1
Nabila terdiam, tak tau harus merasa senang atau sedih.