
Teka teki di benaknya Nabila selama ini terjawab mengenai siapa ayah kandungnya, namun dia tak tau harus bersikap seperti apa, meskipun mendengar ceritanya seperti apa, bukan sepenuhnya kesalahan secara sadar dilakukan oleh ayahnya.
Nabila terbayang gimana kehidupan masa kecil dulu, saat dirinya butuh sosok ayah seperti yang lainnya
Wijaya mendekat ke arah Nabila, tangisan di matanya menunjukan rasa penyesalannya selama ini.rasanya dia ingin sekali memeluk anaknya itu
"Maafkan papa nak papa menyesal, izinkan papa menebus semua kesalahan papa, papa tau pasti kamu kecewa sama papa nak, tapi tolong maafkan papa"
"Anda yakin bisa menebusnya? yakin bisa ngembaliin waktu kecil aku saat aku butuh sosok ayah?"
Anda tidak tau bagaimana rasanya tidak diterima main dengan teman lain karena aku tidak punya ayah, dan mereka bilang aku anak haram?"
Nabila menyeka air matanya, dia teringat gimana dirinya di bully oleh temannya.
"Maafkan papa, papa sangat menyesalinya nak"
"Tidak cukup waktu kecil, sampai sekarang meskipun sudah ada ayah Ridwan, tak mampu menutup status aku, aku tetap tak diterima, aku tidak bisa bersama dengan orang yang aku sayang, anda tau itu karena apa? semuanya karena kesalahan anda, itu baru aku yang rasain, bagaimana dengan bunda?"
Tidak hanya Wijaya dan Nabila,bunda pun ikut menangis mendengarkan ucapan Nabila, sedangkan Pandu, dia merasa iba dengan cerita Nabila.
__ADS_1
Wijaya mendekat, kemudian memeluk Nabila sambil terus mengucapkan kata maaf, sedang Nabila berusaha terus melepaskan pelukan dari Wijaya.
"Papa tidak akan bisa menebusnya,tapi papa janji akan memperbaikinya, papa akan berusaha mengembalikannya demi kebahagiaan kamu"
Akhirnya Nabila diam, tak dipungkiri dirinya merasa nyaman saat di pelukan Wijaya, pelukan yang selama ini Nabila impikan.
Wijaya melepaskan pelukannya dan kembali menatap Nabila
"Mau memaafkan papa?"
Nabila hanya diam tertunduk.
cup
Wijaya mencium puncak kepala Nabila, dia mengerti apa yang di rasakan anaknya, dia tidak akan terburu buru menunggu maaf dari anaknya, karena dia sadar kesalahannya begitu besar.
"Papa keluar dulu"
Sedangkan Pandu masih tetap bertahan di ruangan itu, melangkah mendekat ke arab Nabila
__ADS_1
"Bil, boleh aku peluk adik aku?"
Tanya Pandu yang ingin memeluk adiknya, meredakan segala beban hidup adiknya ini, tidak ada jawaban dari Nabila, Pandu pun hanya duduk di ranjang Nabila sambil memegang tangan Nabila
"Nabila, jujur aku juga susah buat maafin papa, namun melihat papa begitu menyesalinya, aku jadi luluh untuk memaafkannya, bukan hanya kamu dan bunda kamu, aku dan mamah juga kecewa karena sudah selama ini papa menyembunyikan ini semua, bahkan mamah masih mendiamkan papa"
Nabila tetap diam menunduk sambil sesekali menyeka air mata di pipinya.
"Apa kamu marah juga sama aku?"
Nabila menggelengkan kepala
"Aku ga nyangka kita saudaraan, kita adik kakak.
Kamu tau saat pertama aku melihatmu, entah lah tiba tiba ada rasa tertarik sama kamu, kaya aku seperti menemukan orang yang sudah lama tak ketemu, semakin kesini rasa itu makin kuat, dan aku jadi sayang sama kamu, dan ternyata sekarang sudah terjawab, apa yang aku rasain dari awal itu sampai sekarang karena kita punya ikatan darah Bil, aku sayang sama kamu ternyata sebagai adik"
jelas Pandu panjang lebar tentang bagaimana perasaannya dari awal bertemu dengan Nabila, sampai akhirnya takdir mempertemukan mereka sebagai adik kakak.
... **Puasa ke empat masih pada semangat ga nih??...
__ADS_1
... 😊**...