
saat tiba di rumah sakit, Nabila langsung ditangani di IGD, karena kondisi yang cukup parah, mengakibatkan Nabila harus dibawa ke ruang ICU, dan besok pagi harus segera di operasi.
hati bunda sangat hancur ketika mendengar penuturan dokter mengenai anaknya, bagaimana tidak dia merasa tak tega melihat kondisi sang anak, begitu banyak darah yang mengalir di badan sang anak.
dia terus menangis terisak didalam dekapan sang suami, sedangkan Pandu yang mengurus administrasi dan lain lain.
dia segera menelpon sang ayah, dia teringat bahwa sang ayah adalah seorang dokter bedah sekaligus pemilik rumah sakit ini.
"Halo pa, papa besok bisa operasi pasien yang kecelakaan barusan pa?"
tanya Pandu kepada papa nya karena sesuai penuturan dokter IGD tadi yang menangani Nabila
"ga tau, jika masih ada dokter lain mungkin dokter lain, memangnya kenapa? apa kamu yang menabraknya Pandu?"
Wijaya kaget tiba tiba anaknya menelpon dan meminta untuk operasi pasien korban kecelakaan.
"bukan Pandu yang tabrak pa, dia teman Pandu, Pandu melihatnya saat lewat di jalan, pa Pandu minta tolong pak, Papa yang operasi Nabila"
pandu berharap Papa nya lah mengoperasi Nabila, selain pemilik rumah sakit ini, Wijaya terkenal sebagai dokter terbaik, dia sudah banyak berhasil dalam melakukan operasi.
"kenapa kamu begitu ingin papa yang operasi?"
__ADS_1
" Pandu yakin papa bisa pa, papa dokter hebat, tolong selamatkan Nabila pa?"
Wijaya pun heran kenapa anaknya ngotot ingin dia yang operasi, padahal masih ada dokter lain, kalau hanya sekedar teman kenapa Pandu sangat peduli terlihat dari nada bicara Pandu di telpon, bahkan terdengar seperti mau menangis.
"jika tidak ada jadwal lain, akan papa usahakan"
bunda dan ayah Ridwan masih setia menunggu Nabila yang terbaring lemah di dalam ruangan sana, mereka hanya bisa melihat dari kejauhan.
"yah Nabila yah, kasihan Nabila, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama anak kita yah?"
Bunda Terus saja menangisi sang anak
Pandu melihat sepasang suami istri itu menangis sambil menatap Nabila dari kejauhan rasanya dia tak tega, Pandu menghampiri mereka. dan ikut menunggu Nabila
"permisi pak bu, apa kalian keluarga pasien?" datang seorang dokter dan perawat yang tadi menangani Nabila
"iya dok, gimana anak saya? dia bisa sembuh kan?"
tanya bunda tak sabar ingin melihat anaknya sembuh
"akibat kecelakaan membuat Nabila kehilangan banyak darah, dan keadaan Nabila sekarang kritis, Nabila membutuhkan pendonor darah,kebetulan stok darah di rumah sakit sedang kosong, dan golongan darah O lumayan cukup sulit bu, mungkin dari pihak keluarga ada yang bisa mendonorkan?"
__ADS_1
ucap sang dokter menjelaskan keadaan Nabila
tangis Bunda semakin menjadi saat mendengar penjelasan dokter, tubuhnya terasa lemas, bagaimana tidak dari keluarga Nabila tidak ada yang memiliki darah O, mengingat golongan darahnya tak sama dengan anaknya, apalagi Ridwan karena dia bukan ayah kandungnya.
"kami juga sudah menghubungi pihak PMI namun stok di sana juga kosong, operasi akan dilakukan jika pasien sudah mendapatkan pendonor darah"
"saya dan kelurga tidak memiliki golongan yang sama dengan anak saya dok"
jawab bunda lemas
"bunda sabar, kita usahakan ya, kita cari sama sama, Insyaallah pasti dapet"
ucap ayah ridwan untuk menenangkan hati sang istri
tak jauh beda dari mereka, Pandu pun merasakan hal yang sama, entahlah dirinya juga merasa sangat sedih melihat Nabila,
Sayang
mungkin itulah perasan yang Pandu rasakan terhadap Nabila selama ini.
dia juga akan berusaha mencari pendonor darah untuk Nabila.
__ADS_1