
tak terasa kini langkah Bunda sudah sampai di depan ruangan Nabila,
"kamu kenapa bun?"
tanaya ayah ridwan heran melihat mata istrinya sembap seperti habis menangis.
bukannya menjawab bunda langsung menarik suami dan masuk kedalam pelukannya.
"yah..hiks"
"bunda kenapa? cerita sama ayah, kenapa bunda menangis? hem?"
" bunda bertemu dengan orang yang membuat bunda ternoda yah.hik"
"maksud bunda?"
tanya ridwan sambil melepas bunda dari pelukannya
"dia ada disini yah, ayah Nabila"
"bunda serius?"
"iya yah dia seorang dokter disini"
"dia tidak melakukan apa apa kan ke bunda?"
tanya ridwan khawatir
"tidak yah, dia hanya bilang maaf dan menyesalinya, tapi bunda masih tak bisa terima kejadian dulu yah"
"ya sudah bunda tenang ya, lebih baik bunda fokus sama keadaan Nabila aja yah"
bunda mengangguk, kemudian melihat keadaan sang anak
"ayah kandungmu datang nak,orng yang membuatmu terluka, bunda takut dia merebutmu dari bunda"
batin bunda
__ADS_1
"permisi"
ucap salah satu perawat yang menangani Nabila
"ibu, dari pihak rumah sakit tidak bisa mendapatkan darah untuk pasien, bagaimana dari pihak keluarga apa sudah mendapatkan? Pasien harus segera di operasi"
"gimana yah?"
bunda melirik ridwan
"kami juga belum mendapatkan sus, tapi kami akan usahakan lagi sus"
"baiklah kami tunggu kabarnya ya pak secepatnya, karena kalau terlalu lama dibiarkan, kasihan pasien"
mereka terdiam setelah kepergian perawat
"bun, tadi kata bunda orang yang..
ridwan menjeda ucapannya
maksud ayah, ayah biologis Nabila seorang dokter disini?"
bunda nampak baru mencerna maksud ucapan ridwan
"tapi bunda ga setuju yah"
"bunda, sekarang yang terpenting kesehatan Nabila, kita sudah usaha kesana kemari mencari pendonor darah untuk Nabila, tapi tidak ada hasil, bunda lihat apa tidak kasihan sama Nabila, dia belum sadar dari tadi malam bun?"
ibu mana yang tak kasihan melihat anaknya terbaring lemah dan belum sadarkan diri sudah semalaman. tapi bunda tidak mau jika anaknya menerima darah dari pria yang dia benci, pria yang menjadikan Nabila tidak bisa menikmati masa kecil bermain sama halnya dengan anak lain.
"bun, mungkin jalan Tuhan mempertemukan bunda kembali dengannya, dia datang supaya bisa menolong Nabila"
ridwan masih mencoba meluluhkan hati istrinya
"baiklah yah, bunda lakukan hanya demi kesehatan Nabila, bunda ingin Nabila sembuh dan kembali ke kita yah"
saat mereka bunda dan ridwan ingin menemui wijaya di ruangannya, namum disana kosong, karena wijaya sedang tidak ada.
__ADS_1
"permisi sus, apa suster tau dimana dokter wijaya?"
bunda melirik ruangan dan membaca nama yang tertulis di pintu
"oh dokter wijaya sedang ada operasi, ada perlu sama dokter wijaya?"
"iya kami ada perlu sama dokter wijaya, masih lama ga ya dok operasinya?"
"mungkin sebentar lagi bu, pak"
disini lah mereka, duduk di kursi tunggu tak jauh dari ruangan dokter wijaya, ternyata dia adalah seorang dokter bedah, rasanya masih kesal jika bunda mengingat perbuatannya, jika tidak darurat seperti ini, mungkin bunda tak akan mau menemui wijaya.
tak lama terdengar suara pintu terbuka, teryata pintu ruangan wijaya yang terbuka dan dan nampaklah dokter pria yang masuk kedalam, yang pasti itu sang pemilik ruangan,
mereka segera menghampirinya
"permisi dok"
ucap ridwan
Wijaya kaget saat dihadapannya adalah orang yang dia ajak bicara tadi.
"Hani"
ucap Wijaya
"bisa bicara sebentar?"
tanya Hani
"bisa, mari masuk"
"langsung saja saya tidak mau berbasa basi, jadi apa golongan darah anda O?"
tanya bunda dengan nada dingin
"iya"
__ADS_1
"apa bisa anda mendonorkan darah untuk anak saya?"
tanya Hani