
ketika beres dari toilet, bunda pun merasa ada yang aneh dengan pria yang tadi menabraknya, seperti pernah bertemu tapi tak ingat dimana.
saat bunda berjalan kembali ke ruangan Nabila berada, dan Wijaya keluar dari ruangannya, namun matanya terfokus pada perempuan yang sedang berjalan ke arahnya. buru buru dia menghentikan perempuan itu.
"Tunggu"
cegah Wijaya
"maaf ada apa ya dok?"
bunda melihat jas dokter yang dikenakan pria itu
"ini KTP anda terjatuh tadi"
Wijaya menyerahkan KTP kepada Bunda
"oh, terimakasih"
ucap bunda
"ini juga milik anda?"
wijaya kembali menyerahkan kartu nama
bunda mengambilnya, dan dia heran kenapa kartu nama yang telah lama hilang ada ditangan pria di depannya.
"kenapa bisa ada pada anda?"
"bisa kita bicara sebentar?"
pinta wijaya kepada bunda
sementara bunda masih mengernyitkan dahi bingung
"ada perlu apa?"
__ADS_1
" bisa saya bicara sebentar di ruangan saya"
wijaya menunjuk pintu ruangannya
" baiklah"
karena melihat pria di depannya berseragam dokter, bunda berpikir pria yang di hadapannya ini tidak akan macam macam, akhirnya bunda menyetujui permintaannya
"jadi anda mau bicara apa dokter?"
saat kini mereka berada di ruangan
"maafkan saya Hani"
wijaya menatap memohon kepada bunda
sedangkan hani bingung kenapa pria ini tiba tiba meminta maaf
"maafkan saya atas kesalahan yang saya perbuat"
ucap wijaya lagi kini dirinya menunduk tak mampu dia menatap Hani, karena teringat kejadian yang lalu.
"apa anda sama sekali tidak mengingat dengan wajah saya?"
Hani masih diam di tempat, dia semakin bingung oleh ucapan dokter dihadapannya ini
"tolong katakan langsung apa yang ingin dokter katakan, saya tidak waktu banyak"
Hani teringat akan Nabila yang masih terbaring lemah di ruangannya
"maafkan kesalahan saya yang telah melecehkan dan menodai kehormatanmu puluhan tahun lalu"
deg
"maksud dokter? dok ter yang merampas kesucian saya dulu?"
__ADS_1
tanya Hani dengan Nada sedikit meninggi
Wijaya hanya menganggukan kepala sebagi jawabannya
Hani melongo, tak percaya orang yang dulu mengambil kesuciannya kini ada dihadapannya
dia mendekat dan menampar pipi Wijaya beberapa kali
sambil terisak dia teru memukul dan menampar pria yang telah menghancurkan masa mudanya, impian dan cita citanya.
"saya mohon maafkan saya Hani"
"kenapa? kenapa baru sekarang anda bilang maaf? dimana hati dan pikiran anda saat saya diperlakukan seperti itu?"
karena anda, hidup saya hancur, impian saya hancur.hiks"
"saya mohon maafkan saya, saya khilaf,saya menyesal"
wijaya bersimpuh di kaki Hani sambil terus mengucapkan maaf, karena sungguh hatinya begitu menyesal
"khilaf? menyesal? setelah 25 tahun baru sekarang anda menyesal? apa anda pernah memikirkan bagaimana kehidupan saya setelah kejadian itu? huh?"
"saya benar benar menyesal Hani, dulu saya dalam pengaruh obat perangsang, dan kamu datang, maaf saya melampiaskannya kepadamu"
Hani terus menangis, tak bisa digambarkan bagaimana perasaannya saat dihadapannya kini adalah pria yang merenggut kehormatannya
kesal, marah, sedih, terasa ada yang mengganjal di dadanya
"saya sudah berusaha mencarimu dulu untuk mempertanggung jawabkan perbuatan saya, namun nihil tidak ada hasilnya, tolong maafkan saya, saya akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan saya"
"anda pikir semuanya bisa ditebus begitu saja? akan kembali seperti semula sepeti tidak terjadi apa apa?huh?"
wijaya menggeleng
"tolong maafkan saya"
__ADS_1
Hani pergi berlalu meninggalkan wijaya sendiri, dia tak kuat jika harus membuka luka lama, luka yang selalu membekas di hatinya, beruntung ada Ridwan datang yang menutupi luka itu, namun bagaimana dengan Nabila?
Nabila tak jauh dengannya, dia juga merasakan luka itu, karena perlakuan bejatnya Nabila tidak diterima oleh teman temannya, dia tumbuh tanpa seorang ayah kandung.