
Wijaya masih belum yakin bahwa pria di depannya ini adalah pria yang dia lihat di rumah sakit yang tak lain pacarnya Nabila
"Ini anak kamu Dew?"
Tanya Wijaya memastikan kepada mamahnya Faris
"Iya, ini Faris anak aku"
"Faris? berarti benar orang yang sama, Pacarnya Nabila jika tak salah namanya Faris, berarti aku harus bicara sama Dewi dan suaminya nanti"
Batin Wijaya
"Lama di Bekasi?"
"Barj kemarin,paling besok atau lusa juga pulang kasian suami di tinggal.he he"
"Kita pamit pulang ya Din, wijaya"
Ucap mamah Faris
"Pria barusan suami tante Dina mah?"
tanya Faris saat di jalan menuju pulang
"Iya, dia suaminya, dia itu seorang Dokter loh pemilik rumah sakitnya juga loh ris"
"Itu berarti Pandu anak mereka mah?"
"Iya anak semata wayangnya, kamu kenal Pandu ris? kalian pernah ketemu ga sih? mamah lupa"
"Kenal mah, beberapa kali Faris meeting di sini"
"Oh."
"Mah, setelah Faris nganter mamah pulang,Faris izin ke rumah sakit ya nengok Nabila"
"Kenapa susah sekali sih kamu nurutin kata mamah?"
"Mah please, bentar aja ya"
__ADS_1
"Terserah lah, mamah harap setelah Nabila sehat kamu bisa tinggalin Nabila"
Malam ini kembali Faris ke rumah sakit, rasa lelahnya hilang diganti dengan rasa senang karena mau bertemu dengan Nabila, kerja Faris selama beberapa hari ini terasa tidak semangat karena tidak ada Nabila di kantornya
"Malam, tante Bil"
Sapa Faris saat masuk ke kamar Nabila
"Malam nak"
"Ada Denis juga disini?"
"Iya ka, nemenin bunda"
Jawab Denis.
"Eh bun, bunda mending istirahat di kosan Nabila aja, biar Denis yang tunggu disini, kasihan bunda belum istirahat dari kemarin"
Ucap Nabila saat melihat mata bunda yang terlihat lelah
"Iya bun, mumpung ada ka Faris, Denis antar aja bunda sekarang, pasti bunda udah ngantuk kan?"
Bunda menyetujuinya, memang dirinya sudah merasa ngantuk, dan ingin memberikan waktu kepada Faris dan Nabila
"Hai"
Sapa Faris mendekat ke arah Nabila,
Nabila tetap diam tidak menjawabnya
"Kamu tau beberapa hari kerja tanpamu rasanya terasa lama, cape karena tak ada penyemangatku"
Faris memegang jemari Nabila
"Harus di biasain, nanti kalau akau keluar kamu sudah biasa"
"keluar? siapa yang mau pecat kamu dari kantor?"
"Ya bisa aja kan aku yang risen sendiri"
__ADS_1
"Ga aku izinin, tapi kalau kamu keluar sesudah kita menikah aku mungkin menyetujuinya"
"Jangan mimpi kejauhan ris, nanti sakit"
"Lah emang tujuan kita kan, ko kamu ngomongnya gitu?"
"Kita ga bisa sampai di titik itu ris"
Faris membuang nafas kasar
"Bila, kamu percaya sama aku kan, aku yakin kita pasti sampai ke tujuan kita, sekarang kamu doain aku ya semoga aku bisa luluhin hati mamah"
"Tapi jika mamah kamu tetap dengan pendiriannya, aku harap kamu bisa melepaskanku"
"Percayalah pasti ada jalan untuk kita berdua Nabila, aku boleh ga sih nginap nemenin kamu di sini?"
"Jangan aneh aneh kamu, nanti kalau kamu samapi nginep di sini, mamah kamu bisa marah sama aku, lebih baik kamu pulang sekarang"
"Ngga ah masih kangen sama kamu"
Ucap Faris sambil memegang pipi Nabila,
Nabila yang di perlakukan seperti itu segera melepaskan tangan Faris dari pipinya, karena merasa tak baik untuk jantungnya sekarang yang sedang berdebar kencang.
"Aku pulang nanti kalau Denis sudah datang"
"Denis kemana lagi tuh anak, udah sejam lebih belum balik, kosanku kan ga jauh dari sini"
gerutu Nabila yang masih terdengar oleh Faris
"Denis aja ngertiin aku, dia sengaja ngasih kita waktu buat kangen kangenan Bila"
Faris sambil tersenyum
"Kamu ko jadi gini sih?"
Nabila heran kenapa tingkah Faris jadi aneh seperti ini
"Ini gara gara nahan rindu sama kamu"
__ADS_1