Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
Dilamar Alumni 1


__ADS_3

Di trotoar jalan dekat kampus, sedang ramai-ramainya mahasiswa berjalan hilir mudik. Dua mahasiswi tengah asyik mengobrol sambil cekikikan. Entah apa yang mereka perbincangkan, yang pasti… hanya mereka yang tahu.


Tanpa sengaja, tanpa melihat kanan dan kiri, depan dan belakang, salah satu dari mahasiswi itu berjalan menabrak laki-laki tinggi menjulang tengah memainkan ponselnya bersama satu temannya yang berambut keriting.


“Astagfirullah!” pekik perempuan itu sambil mentup mulutnya dengan satu tangan.


Alhasil, ponsel milik sang laki-laki itu tergeletak dengan layar terang namun dalam hitungan detik ponsel itu langsung mati.


Dengan sigap perempuan itu langsung mengambil ponsel milik laki-laki di depannya.


“Maaf, Mas. Aduh.. aku nggak sengaja.” Perempuan itu menampakkan wajah memelas karena merasa bersalah. Raut wajahnya syarat akan penyesalan karena ceroboh telah mengobrol tanpa melihat kanan dan kiri.


Sedangkan teman satunya sama saja. Dia yang ikut andil karena mengobrol sambil tertawa tanpa melihat sekitar ikut merasa bersalah.


Secepat kilat perempuan itu memutar otak apa yang harus dia lakukan untuk menyelesaikan masalah ini.


“Gini aja, Mas.” Putus mahasiswi berkerudung pashmina navy itu. “Hp nya kita ganti, ya, Mas. Kita bisa patungan, kok.”


“Ck!” laki-laki berambut keriting itu ikut berdecih menanggapi anak muda jaman sekarang yang seolah menyepelekan masalah. Dengan uang masalah bisa langsung selesai.


Sedangkan laki-laki yang tampan dengan pakaian casual itu mengulai senyum manis.

__ADS_1


“Nggak apa-apa, Mbak. Nanti sa—”


“Dasar anak jaman sekarang, ya, bisanya cuman gampangin masalah. Asal ada uang langsung beres.” Ucap laki-laki keriting sambil mendelik.


“Tanggung jawab!” perintahnya tegas. Hingga membuat dua mahasiswi di depannya tersentak, begitu pula mahasiswa di sekitar yang langsung bisik-bisik menanggapi kejadian itu.


“Serem banget kalo Kang Yuga udah marah, gitu!”


“Berasa ospek, Bro!” timpal yang lain.


“Mereka nggak tau ya itu alumni paling nyeremin?”


Bisik-bisik dari kalangan mahasiswa itu tak membuat dua mahasiswi itu sadar karena mereka sama sekali tak mendengar apa yang mereka ucapkan. Juga, tentang ketidaktahuan mereka akan siapa dua laki-laki dewasa di depannya ini.


“Nggak usah, Mbak, gak apa-apa. Lagian hpnya cuma—”


“Apaan, sih, Bro. Mereka harus tanggung jawab!” protes laki-laki berambut keriting tak terima.


“Udah ah, yuk pulang!” laki-laki tampan itu menyeret teman keritingnya menuju mobil mereka.


Ada lega dalam diri dua mahasiswi itu. Lega karena mereka berhasil terbebas dari bentakan laki-laki keriting yang julid dan galak itu.

__ADS_1


Namun, perempuan berjilbab itu malah tak tenang.


“Heh, Mbak. Kalau mau tanggung jawab, jadi istrinya Gilang aja. Dia lagi cari istri!” teriak laki-laki berambut keriting.


Deg!


Hah?


“Hushh!! Ngaco kamu, Gi!” protes Gilang sambil terus menyeret Yuga ke parkiran.


Sontak mahasiswi disana menjerit manja karena sang alumni pujaan mahasiswi itu tengah mencari istri. Siapa tahu bisa daftar kan?


“Alana! Rani!” panggil Nada yang berada di lokasi sama.


“Sini!” ajaknya sambil melambaikan tangan.


“Ada apa?” tanya Alana—perempuan berjilbab panjang—dengan raut penasaran.


“Kalian nggak tahu mereka?”


Alana dan Rani menggeleng kompak membuat Nada tepuk jidat.

__ADS_1


“Astaga! Kalian bener-bener nggak inget? Itu Kang Yuga sama Kang Gilang. Yang ospek kita waktu masuk kampus. Masa lupa sih?”


__ADS_2