
Berat aku pertimbangkan kedua pilihan itu dengan singkat, aku pun memilih keluar dari pintu dan membiarkannya menangis di kantor. Kepalaku terasa begitu pusing, karena banyak sekali masalah yang tiba-tiba datang menghampiriku.
Di dalam keragu-raguanku itu, aku pun kembali masuk ke kantor dan menjemputnya untuk mengantar pulang.
“Ayo pulang, tidak baik kalau orangtuamu tahu kamu pulang larut malam,” ucapku menghampirinya.
“Elman,” ucapnya dengan wajah yang sumringah dan senang.
Saat di atas motor bututku dia bercerita banyak tentang kisah hidupnya di Korea yang sangat menyenangkan baginya, walaupun aku tidak peduli ucapan-ucapan itu masih saja masuk ke gendang telingaku dan sangat mengganggu.
“Cung, kita pergi ke tempat biasa yuk, kita kan sudah lama gak ketemu,”
“Gak ah, ngapain kesana buang-buang waktu aja,”
“Cung kamu kenapa sih, sudah 2 tahun gak ada kabar sekarang jadi cuek banget sama aku, kamu sudah punya pacar ya? Hmmmm apa yang di kafe tadi siang itu pacarmu? Cantik ya? Keren banget,” ocehnya yang mengganggu perjalanan.
Aku tak bicara sepatah kata pun dan menjawab pertanyaannya, dia pun kesal dan meminta berhenti untuk memintaku turun sebentar. Tak kusangka dia malah menggantikanku menyetir.
“Heh Van, apa yang kamu lakukan?”
“Sudah kamu diam saja!!!”
Aku yang lelah dan pusing ini pun menurut saja dengan apa yang dilakukan oleh Livana, tiba-tiba ia membelokkan setir motorku ke arah tempat favorit kita dulu, ia pun turun dan menarikku ke pinggiran sungai yang penuh taman bermain sejak masih kecil. Dia mengajakku jalan dan duduk kemudian duduk di tempat duduk favorit kita saat melihat balap perahu naga.
“Kenapa kamu mengajakku ke tempat ini?”
“Aku tidak ingin saat kita berjalan-jalan disini dulu hanya menjadi sebuah kenangan,”
“Hah? Kamu ngomong apa lagi ini, hmmmm dari tadi kamu nggak jelas,”
__ADS_1
“Baiklah, tuan jenius yang kuliahnya cum laude, aku tahu kamu pasti kesel saat aku tiba-tiba pindah ke Korea tanpa memberitahumu kan?”
“Hmmmm, sok tau,”
“Oke, aku jelaskan,”
Livana menjelaskan padaku kalau dia bukan sengaja untuk tidak memberitahukan kepindahannya padaku, namun suatu telepon dari atasan ayahnya yang benar-benar urgent yang harus membuatnya seluruh keluarganya pergi ke Korea Selatan dan menetap disana.
Namun dia pun tetap memutuskan untuk menjadi warga negara Indonesia yang melanjutkan kuliah disana, dia juga bercerita betapa tersiksanya dia setelah tidak pernah memberitahukan hal itu dan dia juga tidak berani menyapa bahkan saat di Facebook, karena takut aku marah. Setelah mendengar penjelasannya aku hanya mengangguk dan tidak peduli.
“Yah, aku memaafkanmu, sudah cukup ceritanya apa masih ada lanjutannya?” ucapku dengan ekspresi yang mendatar.
“Aku sudah cukup, tapi masih ada yang menjanggal hingga kali ini di hatiku, kenapa kamu tidak mencariku bahkan menyapaku di facebook?”
“Baiklah aku akan beri alasannya, aku merasa kecewa waktu itu dan hingga saat ini,”
“Kecewa kenapa? Kan aku sudah menjelaskan semuanya barusan,”
“Aku tidak mau, kamu masih menutupi sesuatu dariku,”
“Tidak ada yang aku tutup-tutupi, ayo,”
“Mancung!!!! Aku mengenalmu dari semua orang yang kamu kenal, setiap kamu menghindar begini pasti ada rahasia yang kamu sembunyikan,” bentaknya terhadapku.
“Heh… tenang Bu’, ayo pulang, kalau kamu gak mau pulang ya terserah,” ucapku memalingkan badan dan berjalan menuju tempat parkir.
Dia masih ingat dengan jelas kebiasaanku yang tidak pernah hilang sejak dulu, bahkan dia mampu memojokkanku dengam kata-katanya. Saat masih melangkah dia langsung menarikku dan menyadari sesuatu yang langsung ia ucapkan padaku.
“Aku tau, kenapa kamu mendiamkan aku terus dari tadi?” ucapya sambil memegang erat tanganku.
__ADS_1
“Kamu ngomong apa sih?” jawabku mencoba menghindar.
“Kamu pasti pernah melihatku berfoto mesra dengan orang Korea dan melihat status hubunganku yang berpacaran dengannya bukan?”
“Lantas apa masalahnya denganku Van, itu kan hakmu untuk memilih pasangan hidup, sudah lepaskan tanganmu, gak enak dilihat orang, kayak kita ini orang pacaran yang lagi berantem aja,” ucapku untuk mengelak semua ucapannya.
Aku mempercepat langkahku dan bergegas meninggalkannya agar dia tidak lagi menggapaiku, karena bagiku hal itu tidak akan merubah segalanya. Meski aku juga merasakan bahwa perasaan sayangku ke dia tidak akan pernah hilang lebih baik aku menjauh, karena aku dan dia sudah dibatasi dinding sangat tinggi yaitu persahabatan. Keputusanku sudah bulat dan bisa melihatnya bahagia saja sudah cukup bagiku.
Hei orang yang paling nyebelin, apa kamu masih saja membodohi perasaanmu hingga saat ini?” teriaknya sambil menitihkan air matanya.
“Hah?” sambilku menoleh kearahnya.
“Apa kamu terus berpura-pura acuh soal perasaanmu ke aku hah?”
“Heh jangan nangis, dilihat banyak orang ini loo,” ucapku sambil mencoba menenangkan.
“Biarin!!!! Pasti kamu juga gak tau apa alasannya menolak semua cowok yang pengen jadi cowokku?” ucapnya sambil terus menangis.
Tak banyak berkata, aku pun memeluknya agar dia lebih merasa tenang.
“Bodoh, banyak yang lihat itu lo, kamu gak malu apa?”
“Aku menolak semua cowok itu, karena memang kamulah satu-satunya orang yang ingin kujadikan pasangan di sisa hidupku,”
Aku masih memeluknya dan tetap terdiam hingga tak mampu mengungkapkan secuil kalimat sedikitpun. Dalam diam langsung kitarik dia dan kuajak kembali pulang. Susah untuk diungkapkan dengan kata, tiba-tiba malam itu kami resmi menjadi sepasang kekasih dan keesokan harinya akupun memutuskan untuk menolak Defina.
“Def, maaf aku gak bisa sama kamu, akhirnya aku sudah mendapatkan kembali pasangan tulang rusukku yang pernah hilang beberapa waktu lalu. Maaf banget Def, aku juga bukan pria yang pantas bagi wanita secantik kamu, diluar sana masih banyak kok yang lebih baik dariku,”
“Hmmmm… jika itu memang keputusanmu aku terima kok,” jawab Defina yang langsung pergi dengan linangan air mata.
__ADS_1
Kini aku sudah tak lagi terbebani dengan jawaban yang telah kulontarkan dengan rapi dan aku pun mencoba menjalani hidup baruku dengan wanita idamanku yang telah kembali lagi di sisiku.