Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
Come Back 3


__ADS_3

Glodakk.. Gluoodaakk.. Gloodakk.. Suara ember jatuh di dalam kamarku dan teriakan Ibu yang membuatku terbangun dari impian tentang masa laluku.


“Mama berisik sekali, ini masih jam berapa?” ucapku marah-marah.


“Ini sudah sore, dasar anak males, kamu gak sholat ashar apa, tidur mulu!!!”


Dalam umpatku, aku merasa kesal dengan Ibuku namun dalam hati aku merasa sedih, karena ucapan masa kecil itu takkan lagi diingat oleh Livana yang kini sudah menjadi gadis populer dan idaman pria di kampus.


Siapa yang tidak suka padanya, tuturnya yang ramah dan sopan, membuatnya mendapat nilai plus dari segala sudut pandang bahkan aku sebagai sahabatnya hanya bisa menjaganya dari jauh tidak untuk mendapatkan hatinya.


Jam kuliah kembali bergulir, sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Livana sejak terakhir aku mengantarnya pulang dan baru kali ini si pembuat onar tidak menampakkan batang hidungnya padaku meski kami tidak bertengkar.

__ADS_1


Aku merasa ada yang kurang dalam hidupku dan memutuskan ke rumahnya sepulang kuliah, namun rumahnya tidak ada orang sama sekali dan anehnya Ivana tidak bisa dihubungi sama sekali.


Kesepian mulai menjalar ke sekujur tubuhku dan aku pun tak tahu harus berbuat apa jika saja kemudian dia tak lagi kembali ke kehidupanku. Aku masih belum siap jika sesuatu yang berharga tiba-tiba hilang dari kehidupanku dengan sekejap mata.


Saat di kampus banyak mata yang memandangku dan hampir semua cowok yang naksir Livana selalu bertanya-tanaya padaku, kemana Livana dan kenapa tidak masuk kuliah lebih dari 2 minggu. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutku, karena aku sendiri juga merasa kehilangan saat tiba-tiba Livana hilang tanpa jejak.


“Wooei bro, Livana kok gak ada kabar ya tiba-tiba?” tanya Benny.


Aku pun merasa despresi saat Livana tiba-tiba pergi dan tak kembali, namun suatu ketika kucoba cek facebooknya yang kebetulan saat itu aktif dan aku pun ingin menanyakan keberadaannya dimana saat ini.


Saat aku buka profilnya, aku yang juga memiliki rasa padanya langsung mengurungkan niatku untuk bertanya, karena dia banyak upload foto-foto bersama cowok bule korea dan semua foto yang diupload hanya dengan orang itu saja.

__ADS_1


Aku pun tak menanyakannya dan menyerah untuk mendapatkan hatinya, karena status hubungannya pun sudah berpacaran dengan si bule Korea itu.


Dua tahun berselang sejak kejadian itu, aku sudah tak lagi menjadi stalker di media sosial tentang cinta pertama yang tak mungkin bisa aku dapatkan. Kini aku sudah bekerja di salah satu perusahaan advertising terbesar di Surabaya sebagai desainer web, aku salah satu orang yang pekerja keras dan hampir tidak mempedulikan mengenai hal percintaan.


Di tempat kerjaku ini, tidak sedikit wanita yang menaksirku, karena memang saat aku memutuskan untuk membuang masa lalu pahitku, aku juga merubah semua hidupku termasuk style yang kini lebih dewasa dan lebih trendy. Sejenak aku melepas perkenalanku, tiba-tiba ada teman karyawan yang sungguh rupawan dan cantik mendatangi meja kerjaku.


“Siang ganteng, makan siang bareng yuk, ini kan sudah jam makan siang,” ajak Defina untuk makan siang.


“Sebentar ya Def, aku selesaikan satu bait dulu nih, nanggung soalnya,”


“Okey, aku tunggu ya di mejaku,” ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2