Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
Come Back 5


__ADS_3

Setelah aku berpamitan ada sesuatu yang mengganggu dalam otakku dan selalu bertanya-tanya dan terus bertanya dengan kondisi yang kini aku alami. Tapi aku pun mencoba menjalankan kehidupanku yang normal dengan pikiran yang lebih santai dan rileks.


Jam sudah menunjuk tepat ke arah jam 5 sore dan itu juga bersamaan dengan pulang kerja, tidak hanya itu saja jam-jam segini juga waktunya keramaian dan kepadatan kota terus memanggil dan melambai-lambai seakan mengajak pulang. Untuk hari ini aku masih duduk di meja kerja dan memutuskan untuk tidak pulang dulu dan menunggu malam agar tidak terjebak macet.


“El, kamu tidak pulang?” sapa Defina.


“Nanti aja Def, masih macet dan lebih baik aku selesaikan pekerjaan untuk besok pagi biar besok gak kelabakan waktu presentasi,” jawabku.


“Oh gitu, aku duluan ya El, jangan lupa besok yah,” ucapnya sambil melambaikan tangan.


Aku yang begitu serius dengan pekerjaanku tak menyadari jika Livana sudah duduk di meja yang ada di seberangku, dan ia pun mendatangiku dengan wajah cantiknya yang sumringah.

__ADS_1


“Serius amat sih bapak senior yang satu ini hehehe,” ucap Livana menyapaku.


“Eh… Kamu Van, ada yang bisa dibantu?” jawabku dengan wajah serius menatap komputer.


“Nggak ada sih, cuma ada yang beda aja saat pertama kali aku melihatmu sejak aku pergi dua tahun lalu,”


“Oh, pas dapat kerja disini aku mulai memperbaiki penampilan dan gaya hidupku, ya untung aja si Mila menjadi desainer pakaian yang trendy dan keren dan setiap style yang kupakai pasti diperhatikan sama dia,”


“Iya kamu bener, Oh iya pekerjaanku sudah selesai aku pamit pulang dulu, bye,” ucapku sedikit menghindar.


Ketika aku berdiri dan melangkahkan kakiku untuk pergi, tiba-tiba Ivana menarik tanganku untuk menahan kepergianku. Aku sontak terdiam dan sedikit melirik ke belakang, kulihat wajahnya yang cantik itu merah dan murung.

__ADS_1


“Cung, kamu kok gak ada kabar sama sekali, bahkan nomer handphonemu sudah tidak aktif saat aku mencoba menghubungimu, kamu mau ninggalin aku?”


“Kamu ngomong apa sih Van, ini sudah jam setengah 8 malam, waktunya pulang,”


“Kali ini aku gak bakalan melepasmu lagi,” ucap Livana yang tiba-tiba memelukku dari belakang.


“Kamu ngomong apa sih dari tadi, hmmmm pakek acara peluk-peluk segala, Van lepasin gak baik tau’ dilihat satpam. Aku pergi dulu ya, sudah ada janji sama teman-teman kuliahku,” ucapku yang kemudian pergi.


tidak berani menoleh ke belakang, karena jika aku melakukan itu mungkin akan seakan menghinanya dalam diam, aku pun langsung menuju pintu keluar, sesaat aku memegang gagang pintu, tiba-tiba aku mendengar Livana teriak.


“Elmaaannn… Apa kamu lupa dengan ucapan yang kamu ucapkan saat masih kecil, saat kamu bilang kalau kamu tidak akan meninggalkanku, dan akan terus disampingku,” teriak Livana yang terurai air mata.

__ADS_1


Aku sontak terdiam dan mengingat saat kalimat itu terucap dari bibir mungilku waktu itu, aku dihantarkan dua pilihan yang tiba-tiba bersarang di otakku. Pertama aku harus kembali dan menenangkan cewek yang dari kecil memang penakut dan cengeng dan pilihan kedua yang tersemat di dalam otakku adalah aku akan pergi dan melupakan ucapan masa kecilku, karena dia sudah bahagia dengan orang lain saat di Korea.


__ADS_2