
"Malam ini ada pesta di ballroom hotel. Aku akan memperkenalkanmu sebagai calon istriku pada semua orang. Jadi kamu harus bersiap-siap. Seseorang akan mengantar gaunmu. Jangan lupa untuk berdandan yang cantik,"Zen tersenyum sebelum meninggalkan kamar itu.
Zen sialan! Ia telah menjebakku, gerutu Ara kesal.
~%%~
Ara tampak cantik mengenakan gaun malam hasil rancangan designer Eva. Ia adalah designer terkenal langganan bangsawan vampir. Tentu saja karena Eva juga berasal dari kalangan vampir.
Bagi Ara ini adalah pesta yang paling membosankan yang pernah ia datangi. Semua orang tampak sibuk dengan kenalan masing-masing seperti sedang bernegosiasi bisnis.
"Sebenarnya mereka sedang pesta atau rapat?"gumam Ara sendirian. Sementara Zen sedang mengambilkan minuman untuknya.
"Ada apa?"tanya Zen seraya menyerahkan segelas minuman untuk Ara.
"Apa ini?"tanya Ara seraya mengamati isi gelas yang ada dalam genggaman Zen."Bukankah kita tidak minum sirup?"tanya Ara heran.
"Kamu setengah manusia, Ara,"bisik Zen."Lagipula di tempat ini ada banyak sekali manusia. Dan juga vampir. Kami menyembunyikan identitas kami dari mereka,"imbuhnya masih dengan berbisik.
__ADS_1
Ara mengerti sekarang.
Malam itu Zen memperkenalkan Ara sebagai tunangannya kepada semua hadirin. Sorak sorai terdengar riuh menyambut kedatangan Ara.
Bahkan Zen juga mengumumkan hari pernikahan mereka berdua minggu depan. Tentu saja Ara protes dengan keputusan sepihak ini. Setelah ia menculik Ara dan menjadikannya manusia setengah vampir, kini ia memutuskan untuk menikahi Ara tanpa minta pertimbangan gadis itu terlebih dulu. Bisa-bisanya ia melakukan itu padaku, batin Ara kesal.
"Rasa-rasanya aku mencium aroma aneh disini,"tegur seorang cowok berpakaian jas lengkap kepada Ara yang sedang berdiri disudut ruangan sendirian. Zen pamit sebentar untuk berbincang dengan genk vampir dari kalangan bangsawan.
Ara kaget melihat sosok cowok keren dihadapannya. Rambut cowok itu berwarna pirang, tapi bola matanya abu-abu. Ia pasti vampir juga, batinnya menebak.
"Kamu siapa? Dan apa maksudmu?"tanya Ara sedikit ketakutan. Bagaimanapun juga ia adalah orang asing di dalam ruangan itu.
"Perkenalkan namaku Kay. Aku adalah sepupu Zen,"tandas cowok itu memperkenalkan diriya.
Ara tergagap saat dipaksa berjabat tangan dengan Kay.
"Selera Zen lumayan juga. Pantaslah dia melakukan ini padamu,"sindir Kay."Tapi aku masih mencium harum darah manusia disini,"bisiknya seraya menyeringai.
__ADS_1
"Kay!"Zen datang.
Dan Kay langsung menyingkir dari hadapan Ara begitu mengetahui sepupunya datang.
"Apa yang dia katakan padamu Ara?"tanya Zen agak cemas."Jangan dengarkan dia..."
"Aku ingin pulang sekarang,"pinta Ara seraya menarik lengan jas Zen.
Hari pernikahan Ara dan Zen digelar dalam sebuah pesta mewah dan meriah. Meski ini bukan yang Ara inginkan tapi gadis itu tak bisa menghindar. Ia menganggap ini adalah bagian dari jalan hidupnya. Ia akan kehilangan statusnya sebagai manusia usai melakukan ritual malam pertamanya dengan Zen.
"Kamu menyesal?"tanya Zen saat matahari baru saja merekah di ufuk timur.
Ara terbaring membelakangi tubuh Zen. Dan air mata membasahi pipinya yang pucat.
"Aku minta maaf Ara,"bisik Zen. "Aku melakukan ini karena aku teramat sangat mencintaimu,"imbuhnya lagi.
Zen mencium punggung Ara yang terbuka dengan lembut.
__ADS_1
"Sudah terlambat untuk menyesal,"Ara membalikkan tubuhnya dan menatap wajah suaminya."Apa sekarang mataku sudah berwarna abu-abu?"
Zen mengangguk.