Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
Cinta Mustahil 1


__ADS_3

Aku berjingkrak ketika dia datang. Gadis itu, sudah lama aku tidak melihatnya sejak ia putus dengan—yang orang bilang—kekasihnya. Ia tampak sehat, meski gurat sedih masih nampak jelas di wajahnya.


“Ssstt! Diamlah!” Dia menatapku tajam. Ah, tanpa sadar aku bersuara dan mengganggunya. Sejenak, aku lupa bahwa ini adalah perpustakaan.


Aku diam. Memandangi tiap jengkal wajah manisnya yang selalu terbayang di benakku. Rambut hitamnya tergerai sebahu, kacamata duduk tenang di hidungnya, bibir berwarna merah muda yang tipis, ah, dia terlihat menawan. Ia menunduk. Menatap barisan kalimat dalam buku bersampul birunya, sesekali mengangguk.


Aku tersentak ketika kudengar langkah kaki seseorang mendekat. Sial, laki-laki itu! Lelaki lembek yang membuat gadisku menangis. Dulu. Entah kapan, aku tidak ingat. Lelaki itu berjalan perlahan ke sebuah rak, dan mengambil buku bersampul hijau. Ia membawa buku itu ke tempat duduk terjauh dari si Gadis. Si Gadis melirik sekilas, aku tak bisa menerjemahkan ekspresinya saat ini. Apakah ia senang? Ataukah sedih?

__ADS_1


Mereka diam. Mematut buku masing-masing dengan pandangan hampa. Aku memahami raut wajah orang yang benar-benar membaca, tidak seperti raut mereka saat ini.


Si Gadis datang lagi. Masih di tempat yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Sudut belakang selalu menjadi tempat favorit untuk menenggelamkan diri pada buku-bukunya. Namun, kali ini terasa berbeda. Ia tidak fokus. Berulang kali ia menoleh, seperti mencari seseorang. Ah, kurasa aku tahu siapa yang sedang dicarinya.


Lalu, beginilah yang terjadi. Si Lelaki datang. Kali ini duduk sedikit lebih dekat dari gadis itu, dengan buku bersampul hijaunya. Bisa kurasakan kecanggungan merayap manja mengelilingi mereka. Aku benci suasana seperti ini. Aku tak dihiraukan, dianggap pun tidak.


Si Gadis menyelipkan rambut, membetulkan letak kaca matanya. Si Lelaki duduk gelisah, membenarkan letak duduknya. Aku? Aku hanya mencoba mendekat pada gadisku, melangkah perlahan.

__ADS_1


“Hei, pergilah! Jangan mendekat!” Seperti yang kuduga, aku malah diusir olehnya. Aku tidak tahu apa yang salah sampai ia selalu berlaku kasar padaku. Aku kesal. Aku cemburu pada lelaki itu yang tak pernah diusirnya seperti ini.


Aku menjauh dengan langkah gontai. Di saat aku menjauh, lelaki itu malah semakin mendekat pada si Gadis. Aku mengumpat dalam hati. Kutatap si Lelaki setajam yang kubisa, tapi tak dihiraukannya.


“Eh, Rik,” lelaki itu memanggil canggung. Si Gadis mendongak. “Rik, aku... minta maaf.” Ucapnya pelan, sarat ketakutan. Aku berharap saat itu si Gadis membentak dan mengusir lelaki itu sama seperti ia membentak dan mengusirku barusan. Namun, sepertinya harapku hanya untaian kesia-siaan. Aku tahu ia pura-pura kaget dengan kedatangan si Lelaki, tergambar jelas di wajahnya bahwa ini memang hal yang telah dinantikannya. Aku kesal.


Gadis itu melirikku sebentar, tersenyum tipis. “Lupakan itu, Rik!” Mereka berpandangan, sesaat kemudian tergelak.

__ADS_1


Untuk sebentar saja, suasana kecanggungan di antara mereka menguap. Tergantikan tawa yang meluluhkan ketegangan yang sempat menyelubungi keberadaan mereka.


__ADS_2