
Si Lelaki berhenti tertawa, “Sudah lama kita tidak memanggil nama masing-masing dengan ejaan yang sama.” Si Gadis tersenyum, seakan lupa akan air mata yang dulu sempat ditumpahkannya karena lelaki itu. Ah, mengapa hati wanita cepat sekali berubah?
Seharusnya gadis itu tak begitu saja mengatakan “lupakan”, apa dia tidak merasa sakit hati pada lelaki seperti itu? Firasatku tidak enak. Aku tidak ingin berpikir bahwa gadis itu masih mencintainya.
Aku terkejut ketika beberapa detik setelah tawa itu, si Gadis meneteskan air mata. Aku tidak menyangka ia akan menangis di sini, di depanku lagi, dan di depan lelaki kurang ajar itu. Membuatku bingung. Membuat lelaki itu pun canggung. Si Gadis menelungkupkan kedua telapak tangannya di wajah, mencoba menyembunyikan tangisnya yang terlanjur pecah. Si Lelaki salah tingkah, berdiri dengan kalut. Ia menggaruk kepalanya dan tampak tengah memikirkan sesuatu dengan gugup.
“Aku-Aku-eh... perkenalkan, aku Erik dan kau?” Akhirnya sebuah suara berhasil keluar dari mulut lelaki itu. Si Gadis tampak sedikit tenang, tak lagi sesenggukan. Ragu, ia membuka telapak tangan dari wajah, menatap si Lelaki dengan mata sembab. Ia tersenyum canggung. Ih, aku jengkel tak pernah bisa membuatnya tersenyum seperti itu.
__ADS_1
Lelaki bernama Erik itu mengulurkan tangan layaknya orang yang baru berkenalan. Si Gadis menatap tangan yang terulur itu, kemudian membalas jabat itu dengan senyum terkembang di wajahnya. “Na-namaku Rika. Senang bertemu denganmu,” Rika tertawa kecil, menimbulkan kelegaan di wajah Erik.
Hatiku hancur. Patah hati. Aku tahu yang sedang mereka lakukan. Itu adalah hal yang mereka lakukan dulu ketika pertama kali berkenalan di perpustakaan ini. Di depanku.
Rika mencoba menyeka air matanya yang tersisa, tapi Erik menghalanginya. Ia menggantikan tangan Rika, menyeka air mata dengan tangannya. Aku marah. Aku cemburu, tapi tak ada yang bisa kulakukan selain berlari pergi. Menghindari cinta yang tak kurestui, berbunga kembali.
Aku melirik Rika yang terlihat antusias dengan ucapan Erik. Semburat merah nampak samar menghiasi kedua pipinya.
__ADS_1
“Aku tahu aku salah,” Erik duduk di samping Rika. Menatap Rika dalam, sambil meletakkan buku yang baru saja diambilnya. “Aku-aku tahu aku telah berlaku jahat dengan meninggalkanmu untuk gadis lain,” ia menggigit bibir, “aku minta maaf.” Sesalnya.
Rika menunduk, mungkin mencoba menerka perasaannya sendiri. Lama mereka bergelut dalam hening. Aku berdebar, berharap semoga mimpi burukku tidak menjadi kenyataan.
Rika menghela nafas. Pelan, tapi tenang. Seakan melepaskan segala beban berat yang selama ini dibawanya.
“Dan kau tahu?” Rika menatap Erik. Nafasku memburu. Aku ingin agar hari ini tak pernah ada dalam hidupku. “waktu selalu berjalan tanpa kompromi, merenggut apapun, siapapun, tanpa pernah sekalipun meminta persetujuan. Namun, waktu juga adalah obat, obat bagi lukaku dan penyesalanmu,” Aku meneguk ludah mendengar ucapan Rika yang mengalun lembut, tapi hampir merenggut kesadaranku. “seberapapun aku mencoba melangkah jauh, aku selalu kembali pada sosokmu.” Rika tersipu, Erik tak kalah bersemu. Aku lesu.
__ADS_1
Mereka terdiam lagi untuk beberapa saat. Tersenyum-senyum sendiri. Membuat hidupku seolah berhenti.