
Zen benar-benar memenuhi janjinya untuk menculik Ara. Cowok cool dari kalangan bangsawan vampir yang berambut merah itu menyekap Ara di kamar pribadinya. Dan Zen telah menggigit leher Ara sesaat setelah ia berhasil menculik gadis manis itu.
Dan imbasnya Ara pingsan selama tiga hari berturut-turut. Ia mengalami demam yang sangat tinggi setelah itu. Pertanda proses perubahan statusnya dari manusia menjadi vampir sedang berlangsung.Dan inilah yang diharapkan oleh Zen. Ia ingin Ara menjadi bangsa vampir seperti dirinya agar ia bisa punya alasan kuat untuk memiliki gadis itu seutuhnya. Agar perbedaan yang semula menghalangi niatnya hilang.
Cinta benar-benar sungguh ajaib! Dan Zen telah menciptakan keajaibannya sendiri.
"Selamat datang di dunia kami, Ara!"
Teguran itu terdengar sesaat setelah Ara tersadar dari pingsannya. Gadis itu kaget mendapati tubuhnya tengah terbaring lemah di atas tempat tidur besar nan mewah. Ia mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Apa yang kamu lakukan padaku?"tanya Ara sedikit cemas.
Gadis itu melangkah perlahan ke depan cermin besar yang terpajang di dinding. Betapa terkejutnya saat ia melihat pantulan wajahnya didalam cermin.
Wajah pucatnya terlukis samar didalam cermin. Dan lihatlah, rambutnya yang semula hitam telah berubah menjadi kemerahan. Ara baru tahu jika Zen benar-benar telah merubah statusnya. Dan bekas luka itu masih tampak jelas dilehernya.
__ADS_1
"Luka itu akan hilang empat hari lagi,"beritahu Zen seraya mendekat ke tempat Ara berdiri.
"Aku tidak menduga kamu benar-benar melakukannya. Kenapa mesti aku Zen?! Kenapa?!" teriak Ara kencang. Ia berbalik dan memukul dada cowok itu bertubi-tubi untuk melampiaskan kekesalan hatinya.
Zen diam seperti patung. Ia sudah menduga Ara akan marah padanya.
"Kenapa kamu tidak pernah menerima perbedaan kita?"tanya Ara mulai meredakan pukulannya lantas berhenti sama sekali. Digantikan tangis yang mulai merebak diwajahnya.
"Bagi vampir seperti kami hidup sekali, mencintai juga sekali. Memiliki atau mati. Itu adalah prinsip kami,"tandas Zen tegas. Sifat kebangsawanannya tampak dari gaya bicaranya yang elegan saat mengucapkan prinsip hidup bangsa vampir.
"Tapi kalian pembunuh...."
Ara tersenyum pahit.
"Jadi ada etika di dunia kalian?"sindir Ara sinis.
__ADS_1
"Dunia kita, Ara,"tukas Zen meralat ucapan Ara.
"Aku tidak mau menjadi bagian dari kalian. Aku ingin menjadi manusia kembali. Aku ingin pulang,"tegas Ara. Gadis itu hendak meninggalkan kamar Zen tapi dicegah oleh cowok tampan itu.
"Kamu tidak bisa pergi!"seru Zen cepat. Membuat gadis itu mengurungkan niatnya.
"Kenapa?"tanya Ara cepat."Apa ada mantra tertentu untuk keluar dari tempat ini?"
"Bukan. Tapi sinar matahari akan membakar tubuhmu hingga menjadi abu,"ungkap Zen mengejutkan Ara.
"Benarkah? Bukankah kamu selalu bepergian di siang hari?"timpal Ara.
"Beberapa puluh tahun yang lalu bangsa kami terkena radiasi bahan kimia. Menyebabkan gen bangsa kami bermutasi sehingga kami tidak terbakar meski terpapar sinar matahari. Radiasi itu juga menyebabkan warna bola mata kami menjadi abu-abu,"tutur Zen menjelaskan.
"Tapi kenapa aku berbeda?Bukankah aku sudah menjadi vampir?"tanya Ara heran.
__ADS_1
"Belum,"sahut Zen."Kamu masih setengah manusia. Setelah menikah denganku kamu akan menjadi vampir seutuhnya."
"Oh.....lucu sekali. Dunia kalian benar-benar membingungkan,"Ara menyunggingkan senyum kecutnya.