
Namaku Elman D. Philiph, aku adalah salah satu mahasiswa blasteran Inggris raya yang sejak kecil sudah hidup di Indonesia, dan aku akrab disapa anak-anak dengan panggilan Maman, namun sahabat terbaikku memanggil mancung, karena memang hidungku mancung dan lancip.
Nama sahabatku adalah Livana Larasati cewek asli pribumi yang cantiknya benar-benar wajah Indonesia banget. Ia adalah sahabatku yang terbaik dari saat aku masih sekecil biji beras hinggaku menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Negeri di Kota Pahlawan.
Tak pernah seharipun aku lepas dari dia sejak kecil bahkan saat di SMA banyak yang mengira aku adalah pacarnya, namun dengan tegas aku menyangkal, karena memang tidak ada hubungan khusus antara aku dan dia. Ketika aku kembali berpasangan di Kuliah bersamanya aku dan dia pun menegaskan kepada semua temanku, kalau kami tidak ada hubungan khusus.
Teman-teman kuliah bahkan teman sekelasku bertanya padaku tentang Livana remaja yang memang bisa dikatakan begitu cantik dan menawan di mata para pria dan para gadis-gadis yang iri padanya, karena langsung populer sejak awal masuk kuliah.
“Eh Man, denger-denger kamu akrab banget ya sama Livana anak fakultas ekonomi,” ucap benny teman sekelasku.
“Iya, kenapa Ben?” jawabku.
“Aku boleh gak deket sama dia? Aku tertarik banget saat melihat dia,”
__ADS_1
“Waduh, kalau masalah itu aku gak bisa ngasih keputusan, coba tanya dia langsung aja,” jawabku santai.
“Kamu kan temennya men, bantuin kek temen sekelasmu ini sedikit-sedikit,”
“Bantu gimana, sejak jaman sekolah sampai kuliah, semua temanku selalu meminta tolong untuk pdkt in ke dia, tapi dianya gak mau bro, mending langsung temuin dia deh,”
“Huft, oke deh kalau begitu, cuma kalau aku sudah bisa kenalan, kamu bantu ya,”
“Siap deh bos hahaha,” jawabku dengan tertawa.
Jarum jam menunjukkan tepat jam 12 siang, jam mata kuliahku pun sudah selesai semua, aku beranjak dan berjalan ke parkiran untuk mengambil motorku dan pulang, namun si pembuat onar langsung mendatangiku dan mengagetkanku.
“Hoooeeee, mancung cuek amat sih, sampai gak nyapa aku???” teriak Livana di telingaku.
__ADS_1
“Eh… Buset ini anak, ini kuping wooee, bukan mikrofon,” ucapku jengkel.
“Hehehe, cung… tadi ada anak kelasmu lo yang mau kenalan sama aku, namanya Benny,”
“Hmmmm… iya aku tahu kok, tadi dia langsung aku suruh kenalan sama kamu daripada aku bantuin dia, pasti bakal merepotkan,” dengan ekspresi datar aku menjawab.
“Cung kamu kenapa sih, ekspresimu gitu amat,”
“Gak kenapa-kenapa sih, bosen aja dari jaman kita masih kecil sampai segede gini, aku masih aja jawab pertanyaan yang sama dari prajurit-prajurit berkuda cokelatmu,”
“Hmmmm… kamu cemburu ya Cung??? Maaf ya Cung, maklum kan aku kece dan famous hahaha,” jawabnya membanggakan diri.
“Hadeh, iya..iya yang famous, ayo jadi pulang gak?”
__ADS_1
“Oh iya Cung, ayo pulang,”
Kami berdua pulang dengan kuda maticku yang selalu menemani sejak SMA, kulihat di spion motorku betapa cantiknya perempuan yang setia bersamaku ini, dalam khayalku selalu bertanya-tanya apa bisa dia menjadi milikku nantinya. Dengan lamunanku itu kemudian dari belakang aku dipukul olehnya tepat di helm.