Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
Anime dan Cinta1


__ADS_3

Rintik-rintik hujan dan suara halilintar membangunkan melody dari tidur lelapnya. Perlahan dia membuka matanya dan memalingkan pandangan ke jendela kamarnya. “Argh.. hujan turun lagi,” desahnya perlahan. Sejenak dia teringat tentang kejadian waktu itu, saat dia masih duduk di kelas sepuluh SMA. Jika dia boleh memilih, dia ingin terlelap tanpa terbangun saat hujan turun agar dia tak mengingat masa lalu yang kelam itu. Begitu sangat kelam masa lalu itu, “hapuskan memory tentang itu Ya Rabb…” desahnya lagi.


“Melody, ayo bangun cepat. Katanya kamu mau ke toko buku?”


Terdengar perempuan paruh bayah memanggilnya, Bu ajeng bibinya. Hari ini melody berencana ke toko buku andromeda untuk membeli komik seri terbaru anime favoritnya “Naruto”. Walaupun melody sekarang menginjak 19 tahun dan berstatus sebagai mahasiswi salah satu universitas terkenal di Indonesia, tak membuatnya lepas dari kebiasaan lamanya, membaca dan menonton anime. Bagi melody anime adalah inspirasinya, setiap ending dari anime itu selalu berkesan serta amanat perjuangan bagaimana mendapatkan sebuah cinta dan kehidupan cintanya yang tak kalah mengagumkan.


Kalau berbicara tentang cinta, terkadang melody merasa iri dengan tokoh-tokoh yang ada di anime itu. Mengapa setiap kisah cinta yang indah hanya ada di anime?


“Melody, kamu ndengar gak?” teriak wanita itu sedikit emosi.


Bu Ajeng, adalah sosok perempuan yang selama ini dengan sabar merawat melody. Ayah dan Ibu melody sudah lama tidak tinggal di Indonesia. Mereka memilih tinggal di negeri Jiran demi menghidupinya dan membiayai kuliahnya. Sempat dia merasa iri dengan teman-temannya yang selalu berada di dekat orangtuanya.

__ADS_1


“MELODY…” teriak perempuan itu sekali lagi dengan suara yang menggelegar bersamaan dengan suara halilintar


“Iya bibi, melody sudah bangun, melody masih siap-siap” jawabnya setengah berteriak


Diambilnya handuk yang tergantung rapi di gantungan belakang pintu kamarnya. Dia segera bergegas ke kamar mandi, dia tak ingin mendengar ocehan bibinya lagi.



“ehh, manusia setengah anime”


Tiba-tiba terdengar suara cowok yang serasa tak asing bagi melody. Siapakah? dia menoleh cepat-cepat berharap itu bukan cowok yang dia maksud. Ternyata harapan melody meleset.

__ADS_1


“Ngapain kamu kesini? Mau cari update terbaru anime? Atau mau lihat-lihat komik anime terbaru?” katanya lagi setengah menyindir


Sudah terbiasa melody mendengar ocehan-ocehan seperti itu dari mulutnya. Namanya Kevin, tapi bukan Kevin aprilio. Dia adalah cowok sekelas melody yang hobbynya menyindir, malu-maluin, menjahilin dan membuat melody seratus kali seribu derajat lebih dua ratus tiga puluh enam ribu delapan ratus *blablabla tak terdefinisi* marah. Akkh.. Difikir-fikir kevin persis sama madara yang ada di anime naruto yang tidak berperikemanusiaan sama sekali.


“bukan urusanmu” jawab melody singkat seraya memalingkan muka dari kevin


“dasar cewek setengah anime yang gagal. Kalau kamu jadi tokoh di salah satu komik anime, itu komik gak bakalan laku. Haha..” kata kevin lagi setengah teriak sambil berjalan ke luar dari ruangan itu


“kamu tuh monster vampire kelas SD” kata melody perlahan setengah mencibir


Sosok Kevin pun tak terlihat lagi setelah dia berbelok di pertigaan dekat toko buku itu. Dalam posisi yang masih berdiri, entah kenapa niat melody yang awalnya ingin membaca serial anime yang lain di toko buku itu tiba-tiba sirna. Dia ingin segera pulang. Dia ingin meluapkan kemarahannya, rasa kesalnya ke dalam coretan-coretan kecil di buku diary bersampul pink miliknya.

__ADS_1


__ADS_2