
Beberapa hari kemudian saat Arima pulang dari sekolah, ia melihat Kaori sedang duduk dibangku depan sekolah.
“Kamu sudah keluar dari rumah sakit? Sedang apa kau di sini?” Tanya Arima.
“Hmm sudah, lagi menunggu Franky aku menunggu di sini karena ingin memberi kejutan.” Balas Kaori.
“Saat selesai latihan aku mau langsung pulang bersama Violet.” Ucap Franky dalam ingatan Arima.
“Dia masih ada latihan di ekskulnya.” Balas Arima.
“Oh aku mau lihat dia latihan, ah.” Ucap Kaori.
“Eh? Dia sebentar lagi mau ikut kejuaraan, tahu. Rasanya kurang sopan kalau kita ganggu latihannya. Lebih baik jangan. Franky bisa gugup kalau ditonton sama kamu.” Balas Arima.
“Hmm, benar juga sih. Kalau aku mengganggu, nanti dia benci aku, ya. Kalau begitu kau saja yang jadi penggantinya.” Jawab Kaori.
Lalu mereka pulang dengan sepeda sambil berboncengan, tak lama kemudian hujan mengguyur mereka. Mereka mencari tempat teduh, setelah hujan berhenti mereka melanjutkan perjalanan hingga malam.
“Kami pulang malam, orang tuanya bakal marah engga ya?” Ucap Arima dengan wajah cemasnya.
“Hei, lihat! langitnya.” Jawab Kaori sambil menunjuk ke langit.
“Kau menghiraukanku?” Balas Arima.
“Bintangnya sangat indah. Rasanya seperti berkilauan kepada kita.” Ucap Kaori sambil menatap langit.
__ADS_1
“Twinkle twinkle little star how I wonder what you are.” Ucap Arima dengan bernyanyi.
“Up above the world so high like a diamond in the sky.” Terus Kaori dengan bernyanyi.
“Twinkle twinkle little star how I wonder what you are.” Ucap mereka berdua sambil bernyanyi.
Sesampainya dirumah Kaori.
“Toko kue?” Ucap Arima dengan wajah bingung.
“Tunggu sebentar ya.” Terus Kaori.
“Aku mau langsung pulang.” Jawab Arima.
“Ada hubungan apa kau dengan putriku?” Tanya Ayah Kaori dengan wajah marahnya.
“Huh? Arima? Kau kan Arima!” Jawab Ayah Kaori sambil membawa Arima masuk ke dalam rumahnya.
“Meski hanya sisaan, kau harus memakannya ya.” Ucap Ibu Kaori.
“Terima kasih, bu.” Jawab Arima dengan wajah bingung.
“Kue percobaannya masih ada ya?” Ucap Ayah Kaori.
“Segini saja sudah cukup.” Jawab Arima.
__ADS_1
“Orang tuaku adalah penggemarmu. Saat aku masih kecil mereka sering mendengarkan permainanmu.” Ucap Kaori sambil memakan kue.
“Aku sudah mendengarnya Arima, jangan tiba-tiba berhenti bermain. Perjuanganmu selama ini jadi sia-sia.” Ucap Ayah Kaori sambil memegang pundak Arima.
“Maaf pak.” Jawab Arima.
Sesudah makan dan keluar dari rumah Kaori.
“Ini untuk keluargamu.” Ucap Ayah Kaori sambil memberikan bingkisan kue.
“Terima kasih banyak atas makanannya.” Jawab Arima sambil menerima bingkisan kue.
Lalu Arima pun pulang dengan sepedanya. Tak lama kemudian Kaori berjalan menuju kamarnya, ketika sedang berjalan ia jatuh pingsan dan kepalanya terbentur lalu ia dibawa ke rumah sakit. Arima tidak tahu kalau Kaori pingsan dan dibawa ke rumah sakit lagi karena ia tidak mempunyai nomor telepon untuk menghubungi Kaori. Keesokan harinya Arima mendengar berita dari Rebecca kalau Kaori dibawa kerumah sakit lagi, ia pun langsung pergi menjenguk Kaori bersama Franky dan Rebecca.
“Kau selalu membuat kami khawatir.” Ucap Rebecca.
“Haha.” Jawab Kaori dengan tawanya.
“Nih kami membawakan kue caneles.” Ucap Rebecca.
“Terima kasih ya.” Ucap Kaori.
“Bagaimana kondisimu?” Tanya Rebecca.
“Baik sekali! Aku ke sini hanya untuk pemeriksaan saja.” Jawab Kaori dengan wajah semangatnya.
__ADS_1
“Dua kali dalam waktu terdekat.” Ucap Arima dalam hati.