Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
Karenamu Aku Mengerti 1


__ADS_3

Takengon masih dengan suasana seperti hari-hari sebelumnya sejuk dan dingin bagi para pengunjung Laut Tawar ini. Tak seorangpun dari kelompok kami yang beranjak meninggalankan tenda apalagi untuk beraktifitas terasa sangat menyiksa. Di Lhokseumawe cuaca tidak sedingin ini, jadi wajar saja satupun dari tidak ada yang beraktifitas lagi hari ini. Ujung jari-jariku seakan mau membeku, suhu tubuh yang unik. Cuaca ini tak mampu menghalangi seluruh minat yang telah persiapkan kurang lebih dua halaman doble folio jika kutuangkan dalam bentuk tulisan. Aku seorang manusia biasa yang sangat ingin diperhatikan di semua tempat yang aku tapaki. Hidup mengajarkan kita untuk menjadi egois dan tak peduli bagaimanapun cara untuk dapat menggapainya.


Pagi yang menyenangkan, hatiku membisikkan kata-kata itu. Bagaikan mendapatkan mimpi menjadi kenyataan di pagi ini. Tiba-tiba aku melihat Ardi berjalan ke arahku.


“Ngapain Vina??” tanyanya


Aku tersenyum tipis, “lagi menikmati suasana hening”


“ada yang mau aku tanyain sama kamu”


“kalau gak penting-penting banget mendingan kamu tinggalin aku sendirian, lagi bete abis”


“Sepertinya, hal sangat penting yang mau ku bicarakan” dengan ekspresi lucunya

__ADS_1


“apaan coba??” kata ku sambil tertawa melihat mimik anehnya


“kenapa kamu suka banget sama warna hijau?”


“itu hal penting yang ingin kamu bicarakan??” tanyaku


“hu’uh”


Aku teringat asal mula warna hijau itu menjadi salah satu warna favoritku, bukan karena aku terlalu suka warna itu, tapi karena dengan menyukai warna itu dia akan terus berada dalam hatiku. Saat pertama aku bertemu denganya, warna hijau yang menempel di tubuhnya membuat mataku merasa menemukan sesuatu yang telah lama hilang dalam jiwaku. Sejak itulah aku mulai memblock hijau salah satu warna favoritku. Walaupun, sampai saat ini hatiku masih membeku layaknya salju di daerah kutub. Gambaran kepribadiaanku tidak sedikutpun tercermin dari warna hijau, warna birulah yang lebih menduduki tempat di hatiku. Hijau hanya ada dalam pikiranku bukan hatiku. Mungkin ini yang membuat hampir semua teman dekatku kebingungan dengan status favorit untuk warna favoritku.


“Enak aja dilihat” jawabku


“What?? Just it!!! Impossible, kamu pasti tahu cewek-cewek tu semua suka warna merah jambu, feminim-feminim gimana gitu!”

__ADS_1


“Mau ngejek aku??? Aku ya aku, ngapain juga jadi manusia hasil copy paste coba!” jawabku


“oke deh.. aku terima alasan kamu” Ardi pasrah


Tidak ada gunanya juga berdebat panjang dengan seorang Sarvina Adhita, hampir seluruh sekolah juga tau siapa Vina, cewek pintar juga cantik dari keluarga bercukupan tapi sangat jarang tersenyum ikhlas dari hatinya. Ardi mempunyai keyakinan sikap Vina yang selama ini jutek disebabkan suatu hal yang belum pernah diceritakannya pada seorangpun, sehingga permaslahannya masih berbentuk bongkahan dalam hatinya. Bongkahan itu sekuat batu karang yang ada di lautan yang sangat sulit untuk dihancurkan. Tapi Ardi salah besar, Vina menceritakan seluruh masalah yang membungakan dalam hatinya pada seorang malaikat penolongnya.


“Napa kamu bengong??” seru Vina mengagetkan lamunan Ardi.


“Ngak ada…” desah Ardi


“bohong besar tau, kamu tu suka banget ngelamum”


“siapa bilang coba?? Aku tu suka ngelamum!!” bantah Ardi

__ADS_1


“Ayah, Bunda bahkan nenek Suwardi yang bilang” celetuk Vina


Ardi harus mengakui hal tersebut. Bagaimana aku bisa cerita sama kamu Vin masalah yang aku hadapi, kamu sendiri sudah banyak berubah dalam rentang waktu 5 tahun ini. Kamu bukan lagi Sarvina Adhita yang aku kenal. Kamu bukan orang lagi seorang sahabat yang tersenyum tulus saat berjumpa denganmu. Kamu yang sekarang lebih banyak diam dan seolah-olah ada yang membalikkan seluruh kebahagianku saat ku melihat sekarang. Kamu lebih banyak sendiri dibandingkan bercengkeraman dengan teman-teman yang lain, lebih senang belajar. Seolah-olah kegiatan yang lainnya tak bernilai dimatamu. Saat teman-teman mengunjungi saat Kau sedang sakitpun kau masih belajar.


__ADS_2