
Tik! Tik! Tik! Kriiiing!
Jam weker yang ada di sisi ranjangnya berbunyi. Matahari bersinar sangat cerah pagi ini, membuat sang pemilik kamar terbangun dari tidurnya. Matanya bergerak kearah jam weker dan mematikannya. Bibirnya bergumam mengucapkan jam yang sekarang tertera di hadapannya, masih jam enam.
Matanya menatap sekeliling kamar. Kemudian ia menutup matanya kembali. Menurutnya, tinggal seorang diri di rumah itu sangat menyenangkan. Tidak ada orang yang harus meneriakinya pagi-pagi jikalau dirinya terlambat bangun.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu diketuk dengan lembut dari luar. Ia membuka matanya lagi, dipikirannya mulai timbul rasa kesal karena seseorang datang mengganggu tidurnya. Namun ia tidak peduli, paling hanya orang salah alamat.
Tok! Tok! Tok!
Kali ini pintu diketuk agak keras. Ia membuka mata lagi, kemudian dengan perasaan yang sangat terpaksa, ia melangkah membukakan pintu untuk orang yang sedari tadi tidak tahu diri mengganggu tidurnya.
“Selamat pagi!” ucap seorang gadis sambil menunduk sopan di hadapannya.
“Siapa kau?” dirinya menatap gadis yang ada di hadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Nama saya Sayaka Mizuki. Senang berkenalan dengan anda, Matsumoto Haruki!” ucap seorang gadis yang bernama Sayaka itu.
Haruki Matsumoto terkejut. “Dari mana kau tahu?”
“Namamu? Aku tahu dari orang-orang yang tinggal di sekitar sini.” Sayaka memberikan senyuman manisnya.
“Apa kau tidak lihat jam? Sekarang masih jam enam!” ucap Haruki agak kesal.
__ADS_1
“Maaf! Aku terlalu terburu-buru pagi ini!” Sayaka membungkuk lagi. Ia sangat merasa bersalah.
“Ya, kau tahu dimana kesalahanmu. Apa yang kau inginkan?”
“Aku menyukaimu, jadilah pacarku Matsumoto!” ucap Sayaka sambil menundukkan wajah karena malu.
“Heh? Aku?” teriak Haruki kaget.
.
.
.
“Aku tidak mengerti mengapa keadaan rumahmu sangat bersih.”
Sayaka melangkah memasuki tiap ruangan yang ada di rumah itu. Haruki sedang sibuk merapikan kamarnya sendiri. Hari ini dan juga pagi ini, kedua orang itu resmi pacaran. Meskipun Haruki masih heran kenapa dia harus menerima pernyataan cinta Sayaka.
“Ah, Haruki! Bagaimana kalau kita kencan!” ujar Sayaka semangat.
“Kita bahkan belum pacaran lebih dari tiga jam dan kau sudah mau kencan? Terlebih lagi, kau langsung memanggilku menggunakan nama depan!”
“Maafkan aku, tapi aku sangat ingin keluar kencan denganmu. Tidak masalah jika hanya berjalan-jalan di sekitar rumah.”
Haruki menghela napas. “Baiklah, itu tidak akan jadi masalah buatku.”
__ADS_1
Setelah membersihkan kamarnya, Haruki meraih jaketnya yang ditaruh di atas sofa, kemudian ia menarik Sayaka untuk segera keluar.
“Kau mau kemana?” tanya Haruki.
“Aku mau ke taman. Sepasang kekasih akan ke taman sambil makan siang.”
Haruki menghela napas. “Baiklah.” Mereka berdua duduk di salah satu kursi taman.
“Oh, ya. Haruki, apa kau pernah berpacaran?” tanya Sayaka.
“Pernah… bukan! Mungkin lebih tepatnya tidak pernah.” Haruki membuang muka.
“Apa yang terjadi?” Haruki memperbaiki posisi duduknya. Ia bersandar pada punggung kursi taman. “Pacarku meninggalkanku dan setelah itu tidak memberikan kabar lagi. Ia meninggalkanku tanpa alasan.”
Sayaka menatap kosong ke depan. Kemudian ia menatap Haruki lagi. “Sekarang bagaimana perasaanmu kepada gadis itu?”
“Aku tidak tahu. Di sisi lain aku membencinya yang meninggalkanku tanpa alasan, tapi aku juga merasa masih mencintainya.”
“Benarkah?” ucap Sayaka kaget. Wajahnya berubah menjadi kusut.
Haruki menatap Sayaka yang tengah tenggelam dalam pikirannya. “Tapi, semoga kau tidak sama seperti gadis itu.”
Sayaka berdiri dari duduknya dengan perasaan sedih. “Ano… Aku pergi dulu, terima kasih untuk hari ini. Aku akan datang besok pagi lagi.”
“O-oh. Kau baik-baik saja?” tanya Haruki.
__ADS_1
Sayaka berbalik menatap Haruki. Kemudian ia menegembangkan senyumnya. “Daijoubu!” Kemudian ia berlari meninggalkan tempat itu, meninggalkan sosok Haruki yang termangu heran.