Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
SYLA, ISTRIKU DARI MASA DEPAN 3


__ADS_3

“Sayangnya tidak. tiga tahun kebersamaan, kita belum diberikan anak” “Oh sayang sekali. Tadi kau menyebutkan tiga tahun. apakah tahun ke empat kita baru kita dianugerahi anak?” “Tidak Bob. Setelah tiga tahun kita tetap tidak dikaruniahi anak” “Apakah kita tidak berobat? Tentu di masa depan teknologi lebih maju seperti yang kau katakan. Tentu tidak sulit untuk mendapatkan keturunan” “Di masa depan kita justru makin tersadar bahwa ada keterbatasan teknologi. Salah satunya adalah keturunan. Kita harus mengakui ada kekuatan lain yang lebih hebat dibanding teknologi” “Apakah aku yang bermasalah? Mungkin bisa ku obati dari sekarang. Atau itukah alasanmu ke masa lalu? Karena kau ingin mendapatkan keturunan. Katakan saja, apa yang harus ku perbuat?” “Tidak Bob!”, mata itu berubah sayu, “tidak ada yang salah. Mungkin kita belum diberi saja”. “Kalau begitu bagaimana di masa depannya lagi. Setelah 3 tahun. Apakah kau bisa melihat ke depan?” “Bob!  setelah 3 tahun, kita memutuskan untuk berpisah” “APA!!!” “Iya Bob, kita berpisah. Di masa depan terjadi perubahan perilaku pada manusia. Benturan peradaban telah mencapai titik yang memprihatinkan. Orang-orang yang memiliki keyakinan yang berbeda akan saling menghancurkan. Teknologi telah mengubah manusia menjadi terpolarisasi dengan agama sebagai puncaknya. Mereka yang berbeda agama pada akhirnya akan terpisah. Dunia menjadi terbagi menjadi lima wilayah agama yang besar. Setiap orang bermigrasi pada tempat yang sesuai dengan agama yang dimilikinya”. “Tapi bukankah masih banyak tokoh-tokoh agama yang masih bisa hidup bersama?” “Sekarangpun di saat ini, kedamaian di negara ini bisa tercapai karena keberadaan tokoh-tokoh agama ini. Tapi embrio fanatisme sudah bisa kau rasakan bukan? Ketika tokoh-tokoh kharismatik meninggal maka arah kebenaran dipegang oleh tokoh-tokoh radikal yang dikultuskan. Maka kata-kata provokatif sudah bisa menjadi alat untuk membunuh seseorang”. “Lalu mengapa kita berpisah Syla?” Aku tiba-tiba merasa sayang dengan perempuan ini. “KARENA KAU MENCINTAIKU, BOB!! Kau tak bisa melindungiku dari ancaman dan teror di sekeliling kita. Tekanan agar menceraikan aku begitu besar walau kau bersikukuh untuk bertahan. Kau tak pernah menyerah tapi juga realistis. Migrasi orang-orang telah dimulai. Karena di sini agamamu mayoritas, maka agama lain berduyun-duyun terbang meninggalkan negara ini.  Kesempatan untuk keluar telah memasuki detik-detik terakhir. Kau berjanji akan selalu melindungi aku. Aku bersumpah untuk mati daripada berpisah denganmu. Pada penerbangan terakhir kau bohongi aku hingga penerbanganku ke Swedia merupakan tanda perpisahan kita. Aku menangis menjerit-jerit mengetahui kau tak ikut di pesawat.  Dua kali pingsan karena tak sanggup menahan emosi. Pada video call terakhir kau berjanji akan mencari ruang agar kita bertemu kembali”. 

__ADS_1


“Kau menangis Syla?” ku lihat mata itu berair. “Aku rindu kamu Bob..”, kemudian tangis itu pecah-sepecahnya, “Kamu tega Bob, berbulan-bulan aku sakit menahan rindu…” lalu tangis tersedat tersebut menguncang tubuhnya. Aku bingung tak tau harus berbuat apa. Perempuan di depanku ini menangis sejadinya. Ku dekati ia. Ku pegang pundaknya. “Sudahlah Syla, tenangkan dirimu..”, tubuh itu berbalik dan memeluk tubuhku. Ia menangis makin kencang.

__ADS_1


*** “Sori Bob, sulit bagimu untuk mengerti perasaanku, tapi aku betul-betul rindu” “Jika kau sudah tenang, maukah kau melanjutkan ceritamu?” “Ada apa Bob?” “Bagaimana tiba-tiba kau kembali ke masa ini?”

__ADS_1


__ADS_2