
“Saya ingin melakukan operasi. Meskipun itu hanya memberiku sedikit tambahan waktu, meskipun hanya ada sedikit harapan, saya rela untuk melakukan apa saja. Saya bertemu dengan seorang anak laki-laki di bulan April. Dia menangis, marah dan berusaha sangat keras, tapi di atas panggung, dia bersinar seperti bintang, dan hidupnya seperti melody yang indah. Saya sudah berjanji akan bermain musik dengannya. Karena itulah saya juga ingin berjuang sekeras mungkin. Meskipun ini hanya sia-sia dan tak berarti, saya akan berjuang, berjuang dan berjuang lebih keras lagi! Jika aku terus menyerah. Saya takkan bisa melihat wajah orang tua saya yang sudah melahirkan dan membesarkan saya. Karena ini adalah hidupku. Jika saya menyerah sekarang, saya ini menyedihkan sekali.” Ucap Kaori sambil meneteskan air mata
Dan Kaori ingin Arima menjenguknya setiap hari. Lalu Arima pun pergi ke rumah sakit.
“Dia tidak ada.” Ucap Arima dan melihat kamar Kaori yang kosong.
“Apa-apaan sih dia. Padahal dia yang menyuruhku untuk menjenguk setiap hari. Mungkinkah kondisinya memburuk.” Ucap Arima sambil berjalan keluar rumah sakit.
“Kau kan Arima!” Ujar Ayah Kaori.
“Ayah dan Ibunya Kaori, lama tak bertemu.” Ucap Arima.
“Apa kamu menjenguk Kaori?” Tanya Ayah Kaori.
“Iya, tapi aku tak menemukannya di mana-mana.” Jawab Arima.
Lalu mereka pergi ke ruang rehabilitas.
“Ini semua berkatmu, Arima. Kaori yang sudah menyerah dan menjadi malas, sekarang mulai berjalan lagi. Selangkah demi selangkah” Ucap Ibu Kaori sambil melihat Kaori yang berusaha sedang berjalan.
“Aku tak melakukan apapun.” Jawab Arima.
__ADS_1
“Iya benar. Yang kamu lakukan hanyalah berjuang sekeras mungkin. Dan perjuangan yang sudah kamu perlihatkan, telah menggetarkan hati Kaori. Karena perjuangan yang kau perlihatkan, Kamu telah memberikan warna pada hati Kaori yang abu-abu, jadi terima kasih Arima.” Ucap Ayah Kaori.
Lalu keesokan harinya Arima bersama Rebecca.
“Mau ke rumah sakit lagi?” Tanya Rebecca.
“Iya. Dia menyuruhku untuk menjenguknya setiap hari.” Ucap Arima.
“Huh? Franky? Dia habis menjenguk Kaori ya?” Ucap Rebecca sambil melihat Franky jalan.
“Hari ini akan hujan kita langsung pulang saja.” Terus Arima.
“Wah hujan. Turun juga akhirnya.” Ujar Rebecca.
“Kau tadi tidak mau kan menjenguk Kaori? Karena ada Franky.” Tanya Rebecca.
“Bukan karena itu.” Jawab Arima.
“Pembohong.” Terus Rebecca.
“Yah habisnya, kita tidak boleh mengganggu mereka, kan? Lagipula ini kesempatan mereka berduaan.” Jawab Arima.
__ADS_1
“Tidak! Kau hanya tak menyukainya!” Terus Rebecca.
“Arima. Kau menyukai Kaori.” Ujar Rebecca dengan wajah cemburunya.
“Iya.” Jawab Arima.
“Kau bodoh ya? Kaori itu menyukai Franky tahu! Dan akan seperti itu. Kau seharusnya jangan berharap lebih untuk bersamanya.” Ucap Rebecca.
“Aku tahu.” Jawab Arima dengan senyumnya.
“Jika soal wanita yang kau hadapi adalah Franky, kau takkan punya kesempatan sedikitpun untuk menang!” Ucap Rebecca.
“Aku tahu.” Jawab Arima dengan senyumnya.
“Kau itu bodoh ya? Kaori itu menyukai Franky. Dan kau tidak punya pilihan selain mencintaiku!” Ucap Rebecca lalu menendang kakinya Arima dan lari meninggalkan Arima.
Keesokan harinya Arima bersama Franky menjenguk Kaori.
“Tumben sekali, padahal biasanya saat aku mengajakmu untuk menjenguknya, kau tidak mau.” Ucap Franky.
“Aku menghindarinya.” Jawab Arima.
__ADS_1
“Hey, Franky. Aku sangat menyukai Kaori.” Ucap Arima.
“Bodoh! Aku tahu itu. Akhirnya kau mau bersaing juga denganku, ya?” Terus Franky