
Aku nyengir memandangi titipan yang diberikan Ruri. Sebuah pesan yang disampaikan dengan media yang tidak lumrah. Kita sudah punya WhatsApp, Line dan SMS. Pesan yang responnya bisa diketahui secara cepat. Sepucuk surat bukanlah hal yang lumrah. Kini aku melamun di teras. Membayangkan bertemu orang yang tidak pernah kukenal tentu menimbulkan banyak pertanyaan. Apalagi jika orang tersebut tiba-tiba mengaku sebagai istriku. Sebenarnya, bukan sifatku untuk meladeni perbuatan orang iseng. Hanya saja kata-katanya membuatku penasaran. Hei Bob, tentu aneh mendapatkan sepucuk surat di 2021 kan? Aku tau kamu pasti heran. Hatimu berdebar. Bukankah kamu selalu mengatakan surat lebih mendalam dibanding sebuah pesan singkat. Aku mau bertandang ke rumahmu pukul 19.00. Di teras di tempat biasa kau duduk. Tunggu aku di situ. Syla Istrimu Nb: Tentu kau ingin ditemani saat-saat memperingati kematian ibumu kan? Ia yang mengaku istriku itu terlalu banyak tahu untuk seseorang yang tidak ku kenal. Dari mana ia tahu tentang sebuah tempat duduk favorit di teras? Mengetahui obsesiku untuk kembali berkomunikasi menggunakan surat. Dan yang paling penting adalah mengetahui kebiasaanku memperingati kematian Mama. Ku pikir-pikir mungkin salahsatu temanku ada yang iseng. Namun membawa-bawa peringatan meninggalnya ibuku tentu bukan iseng yang biasa.
__ADS_1
“Hei Bob!’, suara ceria dan tepukan di pundak membuyarkan lamunanku. Aku tersentak dan segera mendapati seorang perempuan cantik di depanku. sempat berpikir dari mana ia datang. Perempuan cantik bermata binar tersebut menyapa. Ia duduk dihadapanku dan meneguk air di gelas. Sialan berani betul! “Aku haus, aku habis melakukan perjalanan panjang,” ia seperti mengerti pertanyaanku. “Gak usah heran, kamu dulu juga jatuh cinta denganku karena gayaku ini, oups bukan dulu, nanti” “Kamu siapa?” “Syla, istri kamu,”mata dan senyum itu seperti mempermainkanku. “Come On, jangan main-main, siapa yang yuruh kamu ngerjain aku?”, mataku memandang berkeliling, berharap menemukan wajah-wajah yang ku kenal. “Bob.. Bob.. aku suka kamu karena gayamu ini hihihi” “Syla, apa maksudnya ini?” “Gak ada, kamu pasti heran? Gak apa tenang aja.” “Oke, cukup main-mainnya, sekarang jelasin ada apa?” “Bob aku istrimu…” “Oke, aku masuk..” “Bentar Bob, sini aku jelasin” “Enggak aku pergi..” “Bob.. Bob.. iya ini aku mau jelasin, berhenti dulu!”
__ADS_1
Aku tidak memperdulikan seruannya. Bagiku ini hanya permainan. Bisa-bisanya aku layani permintaan surat konyol itu. “Bob! kalau kamu pergi, kamu bakal nyesel,” ancam Syla. Aku tak peduli. “Kamu punya marmut bernama Pussy yang mati ketika mau dimandikan, umur 12 tahun kamu pernah mau kabur dari rumah, salah satu yang kau sesali adalah kurang banyak memberi kepada almarhum ayahmu!” Langkahku terhenti. Aku membalikan badan dan berjalan cepat “Syla! ceritakan apa maksudnya semua ini?” Cengkramku pada pundaknya. “Bob, ini sakit!” “Ceritakan dulu apa maksudmu?”, cengkramanku makin menguat. “Bob.. sakit, Bob…!” mukanya meringis menahan sakit. Matanya tidak lepas dari mataku. Entah kenapa mata itu seperti menghipnotisku. Sebuah mata yang tulus. “Oke, mari kita bicara,” sautku ketika sudah menguasai diri sambil melepaskan cengkraman. Ia tampak mengelus bahunya yang baru ku cengkram. “Silahkan,” sahutku tidak sabar “Bob, aku Syla Istrimu, jangan panik dulu!”, ia cepat menenangkanku saat melihat bahasa tubuhku sudah akan meledak. “Aku ISTRIMU DI MASA DEPAN, dan tolong dengarkan ceritaku sampai tuntas” Aku masih terdiam menunggu kelanjutan ceritanya. Aku jadi penasaran dengan maksud perempuan misterius ini.
__ADS_1