Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
Come Back 4


__ADS_3

Setelah sepuluh menit aku menyelesaikan tugasku, aku pun mendatangi Defina untuk menepati janjiku akan makan siang bareng dia. Kami berangkat dan menuju di kafe yang tidak jauh dari kantor, supaya bisa menghemat waktu. Saat duduk berdua, kami pun ngobrol dan Defina mengucapkan kalimat yang langsung membuatku terkejut dan bingung harus bilang apa.


“Ed, aku mau ngomng sesuatu yang penting padamu hari ini,”


“Emang mau ngomong apa Def, ngomong aja,” jawabku sambil senyum.


“Aku suka sama kamu Ed, kamu mau nggak menjadi pacarku?”


“Uhuk… uhuk… kok bisa?” Jawabku yang terkejut.


“Sejak kamu masuk perusahaan ini, aku selalu memperhatikanmu dan mempelajari dari jauh, dan sifat baikmu itu membuatku tertarik dan akhirnya aku pun jatuh hati padamu,” ucap Defina menggenggam tanganku.


“A…a…duuhh, gimana ya Def, aku bingung mau jawab apa?”


Tiba-tiba suara pintu kafe terbuka, aku pun tak sengaja menoleh ke arah pintu itu dan masuklah sesosok gadis cantik yang kukenal, yaitu Livana. Ia datang dan langsung menghampiriku saat tanganku masih berpegangan dengan Defina.


“Hai mancung kesayangan, udah lama ya kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?” Ucapnya ceria.


“Ba..ba..ba..ik kok,” jawabku terkejut.

__ADS_1


“Siapa dia El?”


“Hmmmm ini pacarmu sekarang Cung? Hehehehe ya sudah maaf mengganggu, oh iya ini oleh-olehku dari Korea Cung, jangan lupa dipakai ya,” ucap Livana yang tersenyum dan beranjak pergi.


Aku hanya terdiam dan tidak bisa menjawab ucapan dari Defina yang mengutarakan isi hatinya padaku. Dan di saat yang bersamaan, aku tidak menyadari kalau Livana keluar dari kafe itu dengan tetesan air mata di pipinya.


“Hai Ed, kamu baik-baik saja?”


“Ah iya Def, maaf ya, cewek yang tadi itu sahabatku dari kecil, dia baru pulang dari Korea,”


“Oh sahabat? Hmmm baguslah,”


“Hah? Apanya yang bagus?”


“Sebentar Def, aku masih kaget sahabatku pulang dari Korea hehehe. I promise You, besok aku akan jawab pertanyaanmu, maaf belum bisa jawab sekarang, ya soalnya aku masih kaget, ternyata kamu ada perasaan terhadapku,”


“Oh iya, aku tunggu ya besok,” ucap Defina penuh pengharapan.


Jam makan siang pun selesai dan kami berdua kembali ke kantor bersama-sama dengan menggunakan mobil kantor yang biasa dipakai oleh staf marketing untuk berkeliling. Aku dan Defina pun merasa canggung saat berduaan di dalam mobil, bahkan kami berdua hanya diam sampai di dalam kantor.

__ADS_1


Sesampainya di kantor kami pun langsung ke meja masing-masing, namun aku dikejutkan dengan berderingnya telepon di meja kerjaku. Drrriiiiiinggg.. Drrriiiiinggg… Drrriiiiingggg…


“Halo Elman, bisa ke kantor saya sebentar,” ucap Pak Indra di telpon.


“Siap Pak Indra,” jawabku lalu menutup telepon dari Pak Indra.


Aku bingung dan panik, karena bos memanggilku tiba-tiba dan sangat tidak biasa, apalagi aku tidak melakukan kesalahan apapun. Harap-harap cemasku langsung hilang setelah aku membuka pintu kantor Pak Indra dan melihat Livana berada di depan mejanya.


Oh silahkan duduk El,” ucap Pak Indra ramah.


“Iya pak, ada yang bisa dibantu?”


“Gini el, ini Livana anak sahabat saya, dia karyawan baru disini dan dia ini juga bekerja di satu divisi denganmu, dan jelasnya dia adalah anak buahmu. Dan satu lagi, Defina saya pindahkan satu divisi dengan Robby supaya bisa mengajari anak baru itu,” penjelasan panjang Pak Indra.


“Ehmmm… tapi apa ini sudah ada persetujuan dari Defina dan Robby? Kalau saya sih tidak ada masalah Pak,” jawabku dengan nada datar.


“Mereka sudah setuju sejak kemarin,”


“Baiklah kalau begitu Pak,”

__ADS_1


“Mohon bimbingan dan kerjasamanya ya Pak Elman,” ucap Ivana sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dan aku hanya mengangguk dan tersenyum.


“Ya sudah Pak, saya permisi dulu,”


__ADS_2