Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
YES, I'M A VAMPIRE 4


__ADS_3

"Aku tahu,"sambung Ara.


Namun Ara terlalu merindukan keluarganya. Sehingga pada suatu malam ia menyelinap keluar saat Zen sedang pergi. Ia hanya ingin melihat keluarganya dari kejauhan, begitu tekadnya dalam hati.


Dari balik kegelapan malam, Ara dapat melihat meski dengan samar keluarganya tengah berkumpul di ruang tengah.


Mereka tampak berbincang dengan raut wajah yang tidak begitu gembira. Ayah, Ibu dan kedua adik kecilnya. Ara ingin sekali berlari ke arah mereka dan memeluk tubuh mereka satu persatu.


Namun Ara hanya bisa menitikkan bulir-bulir air mata dari matanya tanpa bisa berbuat sesuatu.


Mereka pasti sangat mencemaskanku,batin Ara seraya membalikkan tubuhnya dan berangsur pergi.


Langkah-langkahnya lemah seperti lelah. Meski ia tak lelah. Malam semakin larut dan ia harus segera kembali sebelum Zen memergokinya tidak ada dirumah saat ia pulang nanti.


Langkah Ara terhenti. Seorang anak kecil tampak duduk berjongkok tak jauh dari tempatnya berdiri. Anak itu sedang menangis sendirian disana. Dibawah lampu taman yang bersinar redup.


Ara mencoba mendekat. Ia menegur anak itu dengan suara lembut.


"Kenapa kamu ada disini sendirian? Dimana rumahmu?"tegur Ara sembari mengusap rambut anak kecil itu.


Anak kecil itu mengangkat wajahnya dan menatap Ara. Ia tak menjawab. Sementara sisa-sisa air mata masih tampak di pipinya.


Ara menatap anak itu tanpa berkedip. Ada sesuatu yang mulai merasuki dirinya. Hidungnya menangkap aroma harum sesuatu dari tubuh anak kecil itu. Membangkitkan hasrat dalam dirinya.


Ara mulai mendekatkan wajahnya kepada anak kecil itu. Perlahan namun pasti. Ara mulai menggigit leher anak kecil itu sementara kedua tangannya memegangi pundak anak itu agar tidak bergerak barang seinchipun. Ara menghisap darah anak itu terus dan terus seperti orang yang kehausan.


Sampai akhirnya tubuh anak itu terkulai lemas dan tak bergerak lagi. Ia kehabisan darah!

__ADS_1


Ara baru tersadar jika anak itu telah meninggal. Ia tertegun menatap wajah anak itu yang tampak keriput.


Aku telah membunuhnya, batin Ara. Tubuhnya gemetar.


"Hei!! Apa yang kamu lakukan?!"


Ara terhenyak mendengar teriakan itu. Ia melihat seorang laki-laki sedang melihat kepadanya dengan pandangan curiga.


Ia panik dan mengambil keputusan secepat mungkin. Ara melarikan diri.


Ia kabur dari tempat itu sebelum ada orang lain lagi yang datang kesana. Ia berlari sekencang-kencangnya.


Aneh! Ara melesat bak angin. Padahal sebelumnya ia tidak pernah bisa berlari secepat ini.


Zen menyambut kedatangan Ara dengan tatapan heran.


"Kamu darimana?"desak Zen tak sabar."Bukankah aku sudah bilang kamu tidak boleh menemui mereka."


"Ada apa?"desak Zen.Ia mengguncang bahu Ara pelan.


"Aku membunuhnya,"gumam Ara."Aku membunuhnya,Zen. Aku seorang pembunuh!"


Ara berteriak histeris.


"Tenanglah..."Zen mencoba menenangkan hati Ara.


"Aku membunuh anak itu,Zen. Aku seorang pembunuh!"teriak Ara lagi. Disertai isak tangis.

__ADS_1


Zen mengerti. Ia segera meraih tubuh Ara kedalam pelukannya. Untuk menenangkan hati Ara yang tengah bergejolak.


"Tenanglah,"bisik Zen."Semua vampir pasti pernah melakukan itu."


"Tapi kamu tidak pernah kan?"tanya Ara menimpali.


Zen menggeleng. Zen memang belum pernah membunuh satu manusiapun.


"Aku yang telah membawamu keduniaku,"ucap Zen kemudian."Aku akan bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan, Ara. Aku berjanji akan selalu menjagamu. Jadi jangan pernah pergi jauh dari sisiku. Kamu mengerti?"


Ara mengangguk.


"Maafkan aku,"ucap Ara.


"Aku mencintaimu Ara,"bisik Zen mesra didekat telinga Ara. "Karena cinta aku bisa melakukan apapun, termasuk mengubah takdir. Aku tidak tahu cinta bisa membuatku segila ini."


Ara tersenyum tipis.


"Aku tidak pernah mendengarmu mengatakan mencintaiku."Zen melepaskan pelukannya pada Ara. "Apa kamu tidak pernah mencintaiku?"tanya Zen curiga.


Ara menghela nafas.


"Aku tidak tahu,"jawab Ara."Yang aku tahu aku hanya harus hidup dengan baik disisimu."


Zen mengerutkan keningnya.


"Hanya itu saja?"

__ADS_1


"Kamu belum puas dengan jawabanku?"


"Lumayan."


__ADS_2