Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
Salahkah Aku? 2


__ADS_3

bagaimana sih? Bapak kan tahu kalau aku dan Siska tidak bisa dipisahakan. Kok Bapak bisa-bisanya meletakkan nama kita di kelas yang berbeda.”


“Slurtttt…” Pak Hamdan menyeruput kopi hitam yang di buatnya beberapa menit yang lalu. Seakan-akan tidak peduli dengan ocehan Reno, Pak Hamdan seperti enggan menjawab pertanyaan dari Reno.


“Pak Hamdan! Jawab atuh Pak!” tanya lagi Reno.


Pak Hamdan meletakan gelas setelah kopi buatannya habis setengah. Pria berkumis tebal itu kemudian menatap ke arah kita berdua, tatapan sangat menakutkan seperti singa yang siap-siap menyantap mangsa.


“Sudahlah Reno, kamu jangan banyak protes! Keputusan Bapak ini sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat.”


“Tapi kan Pak Hamdan, saya itu gak bisa jauh-jauh dari Siska. Bapak tahu hal itu, kenapa Bapak malah memisahkan kami berdua?”


“Justru karena kamu sangat tergantung sama Siska, makanya saya pisahin kalian berdua. Kamu kalau sama Siska semuanya dibantuin sama Siska, memangnya saya tidak tahu apa? kalau PR dan tugas kamu selalu dikerjakan sama Siska, belum lagi ketika ulangan Siska selalu kasih contekan sama Kamu.”

__ADS_1


“Niat Bapak baik Reno, supaya kamu itu mandiri dan tidak terlalu mengandalkan Siska. Biar kamu itu Pintar,”


“Tapppiiii Pak!!! tidak begini caranya, tidak harus kami berpisah kan?” Protes Reno lagi.


Helaan nafasku semakin panjang saat menyaksikan perdebatan di antara keduanya. Reno dengan tegas ingin sekelas denganku dan Pak Hamdan dengan keputusannya yang tidak bisa diganggu gugat. Perdebatan mereka bisa selesai setelah aku memberanikan diri untuk berbicara. Aku menatap sebentar ke wajah Reno, kemudian memegang tangannya.


“Kata Pak Hamdan benar Reno. Lo gak bisa terus-terusan sama gue. Lo kayak ketergantungan sama gue, kalau seperti itu terus, kapan lu bisa mandirinya Reno?”


“Reno sudah Protesnya! Keputusan bapak sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Kamu buang-buang waktu Bapak saja.” sinis Pak Hamdan.


Tahu usahanya hanya sia-sia, tanpa rasa hormat Reno meninggalkan kita berdua dengannya langkah kaki yang cukup keras. Reno sepertinya benar-benar membenci Pak Hamdan yang tidak mengabulkan permintaannya.


“Kamu ngapain berdiri saja Siska? kagak mau nyusul pacarnya keluar?” goda Pak Hamdan kepadaku.

__ADS_1


“Pacar? Reno pacar aku? Helehhhhh… yang bener saja dong Pak! Dia cuman sahabatku” Jawabku


Kemudian aku berlari menyusul Reno yang sudah berada cukup jauh.


“Renoooo… Renoooooo…” teriaku dari arah kejauhan tetapi Reno tidak mengindahkannya.


Hari pertama masuk sekolah.


Seluruh siswa memenuhi lorong sekolah, mereka sekarang lagi-lagi dikejar waktu jam pelajaran pertama. Di antara banyaknya siswa yang berada di lorong, pandanganku terfokus pada Reno. Dia adalah sahabatku sejak kami duduk di bangku SD. Kami bersahabat saat keluarga Reno pindah dari luar negeri dan menetap di Indonesia.


Reno berjalan santai bersama dua teman lainnya. Aku lihat dari belakang saja dia sudah membuatku deg-degan. Dikaruniawi wajah tampan dan postur tubuh bagus seperti tokoh utama novel mampu membuat wanita termasuk aku klepek-klepek.


Aku memasukkan kaki ke pintu mulut, sesampainya di dalam tiba-tiba Genk Lipstik langsung menghadang kehadiranku. Mereka adalah Rani, Stella, dan Valent. Rani adalah anak orang kaya, orangtuanya memiliki banyak perusahaan besar. Stella tidak kalah kaya, orangtuanya memiliki 34 perusahaan mobil yang tersebar di setiap provinsi. Dan Valent adalah anak dari keluarga terpandang, Kakeknya seorang hakim, Ayahnya seorang jaksa belum lagi keluarganya yang lain.

__ADS_1


__ADS_2