
Setelah memberi tahu akan hal itu pak sidar berkata “pada tahun ini peraturan perlombaan dan olimpiade diubah, jadi kalian mau tidak mau harus bertukar peran dan saling membantu satu sama lain kerena kalian harapan sekolah untuk lomba ini” pikiranku kacau saat tau apa yang disampaikan pak sidar aku dan genta harus saling membantu bagaimana mungkin. Kami pun meninggalkan ruangan pak sidar tanpa kata kata dan setibanya di kelas aku memberi tahu semua yang terjadi pada isela, jawab isela “ya udahlah jalanin aja toh kan Cuma sain kamu kan pinta” iya juga sih tapi aku gak sepintar genta dalam hal ini (aku akui).
Kesesokan harinya kami mulai di latih oleh pak sidar ya aku pasrah dan genta benar-benar terdiam, aku megulang lagi semua materi yang kami pelajari dan contoh contoh soal tahun tahun sebelumnya, sedangkan genta mencoba dasar-dasar melukis dan untungnya perlombaan ini ada tema di setiap tahunnya dan tahun ini bertemakan “LINGKUNGAN KOTA YANG RAMAI”. Dan berbagai macam sketsa yang di coba genta latihan ini Cuma berjalan selama 2 minggu lebih, karena olimpiade makin dekat.
Genta mulai memahami dasar-dasar dari melukis tetepi masih sangat kaku, is okey karena gak akan bisa secepat itu untuk bisa atau ahli dalan melukis. Aku dan genta latihan di ruangan olahraga yang sangat besar, saat itu aku dan genta ditinggalkan okeh pak sidar karena beliau ada kepentinagn yang darurat, jadinya hanya tinggal aku dan genta yang ada di ruangan tersebut, suasananya terasa begitu dingin kerana kami berdua yang sedikit canggung, aku mulai membuka obrolan dengan genta walaupun dia begitu menyebalkan tanyaku “sudah bisa dasarnya?” dia jawab dengan nada sangat dingin “sudah” dalan hatiku ya allah anak ini sudah dibaikin malah makin dingin, dan aku mulai kelaparan karena latihan terus tanpa istirahat ya otakku butuh nutrisi, aku bangun dari kursiku dan ingin berjalan ke kantin tapi aku malah tersandung dengan kursiku sendiri dan malah genta yang menangkapku saat aku hampir jauh suasananya makin canggung, dalam hatiku “ahhh bagaimana ini” mukaku memerah dan begitu juga dengan muka genta pipinya benar-benar merah, aku berlari menuju kantin tanpa menoleh kebelakang, dan sembari kudengar teriakan genta “jangan lari nanti kesandung lagi”, hatiku berdegung dengan kencang sampai dadaku sedikit sesak, setelahnya kami pulang tanpa kata-kata karena jam latihan habis.
Tibalah saatnya olimpiade dan lomba melukis, hari ini aku benar-benar gugup dan gak tenang, sedangkan genta malah terlihat begitu tenang, aku ditemani oleh ibu nadia guru ipa di sekolah sedangkan genta ditemani oleh pak sidar, lomba berjalan dengan sengit, dan akhirnya aku memenangkan olimpiade dengan peringkat ke-2, sedangkan genta mendapaikan harapan satu untuk lomba melukis yang dia ikuti kami berdua tidak berhasil mempertahankan peringkat masing-masing, pada akhirnya kami berdua hanya diam dan tertegun tanpa kata.
Lalu pak sidar berkata “jangan bersedih setidaknya kita masih membawa piala” aku dan genta hanya mengangguk untuk menjawab perkataan pak sidar.
__ADS_1
Pada akhirnya mereka tau arti perlombaan sebenarnya tidak harus menang yang terpenting niat dan prosesnya, permusuhan di antara genta dan aku pun mulai sedikit hilang tapi memang tidak dipungkiri bahwa genta benar-benar menyebalkan.
Tapi anehnya semakin aku melihat genta semakin aku mulai merasakan ada cinta di hatiku untuknya walau cuek dan dingin dia benar-benar manis.
Bagian GENTA: Perasaan GENTA yang sebenarnya
Genta juga memiliki sisi penyayang genta, aku juga bukan anak dari seseorang yang terhormat papaku adalah akmil darat dan mamaku adalah ibu rumah tangga yang begitu baik, meskipun kami hidup dalam kesederhanaan kami banyak memiliki kebahagiaan, aku juga punya seorang kakak laki-laki yang meninggal saat usianya masih muda ya dia terkena penyakit langka yang susah untuk disembuhkan. Dan dia menderita sampai akhir hidupnya, dan kini dia sudah tenang di alam sana.
Saat kami masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) aku mulai menyukai tiara kerena sikapnya yang ceria dan periang, perasaan itu tak pernah kunyatakan hingga kami duduk di bangku SMP. Sampai saat itu pun aku masih tak berani, sekarang kami berdua tumbuh dewasa menjadi anak remaja yang biasanya merasakan jatuh cinta.
__ADS_1
Tiara itu kalau dekat denganku selalu saja kesal aku pun tak tau kenapa karena sikapku memang seperti biasanya tapi dia selalu kesal, saat dia marah terlihat manis di mataku.
Saat latihan olimpiade
Kali ini olimpiade berubah peraturannya pesertanya harus perempuan jadinya aku tidak bisa ikut, dan malah tiara yang ikut dia itu pintar namun tak terlalu dalam sains dan matematika. Tapi aku yakin dia bisa, sialnya malah aku yang harus menggantikan dia untuk lomba melukis yang biasa dia ikuti dikarenakan persyaratan perlombaan itu harus tingkat 2 mau gak mau jadi harus aku, pak sidar yakin kalau aku mampu namun aku sendiri tidak yakin itu bisa atau tidak, kami menjalankan latihan aku berlatih semua dasar dan basic dari melukis aku cukup cepat dan pintar namun memang masih sedikit kaku jadi itu mustahil untuk juara 1, aku bekerja keras dan terus mencobanya.
Saat itu kami berdua ditinggal berdua saja oleh pak sidar karena beliau ada keberluan mendesak, aku diam dan tiara pun begitu, namun tiba-tiba tiara bangun dari bangkunya dan hendak berjalan tapi kakinya malah tersangkut dan hampir jatuh, sepontan aku menangkapnya kerena aku tak mau dia terluka, mukaku terasa panas dan juga muka tiara memerah, jantungku bedegung dengan kencang, mataku hanya tertuju pada tiara, seketika dia sadar dan langsung berlari dariku tanpa kata-kata lalu aku berteriak “jangan lari nanti kesandung lagi”. Dan dia menghilang begitu saja, kami lalu pulang karena jam latihan habis keluar dari ruangan sampai gerbang sekolah tanpa kata-kata, rasanya benar-benar canggung dalam hatiku bergumam “ahhh kenapa begitu canggung” keesokan harinya kami bersekolah seperti biasa dan pasti setelah olimpiade diadakan selalu ada acara penyelamatan untuk yang ikut dan tiaralah bintangnya hari ini, sedangkan aku hanya mampu mempertahankan harapan untuk sekolah.
Setibanya di kelas tiara menatapku dan saat aku membalasnya dia langsung memalingkan mukanya aku tau alasannya kerena kejadian kemaren di ruang olahraga, hari-hari kami seperti biasa dan seperti biasa juga aku selalu tidak berani untuk menyatakan perasaanku pada tiara pada akhirnya aku hanya bisa memendamnya.
__ADS_1
Begitulah perasaan mereka satu sama lain yang terpendam tanpa satu sama lain tau hingga saatnya nanti mungkin di antara mereka akan bisa mengutarakan perasaan satu sama lain.