
Baru beberapa hari yang lalu kau diperiksa juga, kan?” Tanya Arima.
“Kemarin hanya pemeriksaan singkat saja. Mereka meronsen kepalaku. Kali ini, aku harus lebih banyak istirahat untuk sembuh.” Jawab Kaori.
“Tapi, bikin kaget saja. Kamu tiba-tiba masuk rumah sakit.” Ucap Franky.
“Setelah aku jatuh dan kepalaku terbentur banyak darah yang keluar gitu deh. Aku sangat terkejut. Orang tuaku sangat ketakutan dan membawaku ke rumah sakit. Aku ini mudah kelelahan dan akhir-akhir ini aku banyak menghabiskan energi, sepertinya aku terlalu memaksakan diri.” Jawab Kaori.
“Aku makan ya kue canelesnya. Enak!” Ucap Kaori sambil memakan kue canelesnya.
“Saat makan pun, dia menghabiskan energi.” Ucap Arima dalam hati.
“Aku membawakanmu banyak buku! Tak ada yang bisa kamu lakukan saat di sini kan?” Ujar Franky sambil mengeluarkan semua buku yang ada di tasnya.
“Apa buku ini berasal dari perpustakaan? Apa kamu membawanya tanpa izin?” Tanya Rebecca.
“Ada buku tentang musik juga.” Ucap Franky.
“Buat apa membawa buku sebanyak ini?” Tanya Rebecca.
“Memang kenapa?” Tanya Franky.
“Soalnya. Kaori, kamu akan masuk sekolah lagi saat awal semester dua, kan?” Tanya Rebecca kepada Kaori.
“Iya, tentu saja.” Jawab Kaori.
“Perasaanku saja. Jawabannya barusan rasanya seperti sudah dia persiapkan.” Ucap Arima dalam hati.
“Aku pulang ya, Kaori. Nanti ketemuan di mimpi, ya.” Ucap Franky.
“Berisik. Dah.” Ujar Rebecca.
“Dah!” Jawab Kaori
__ADS_1
“Aku tak punya waktu untuk membaca ini semua.” Ucap Kaori sambil membuka salah satu bukunya.
“Kaori, temanmu sudah pulang?” Tanya suster yang baru saja masuk ke ruangan Kaori.
“Iya.” Jawab Kaori.
“Kalau begitu, sekarang tak apa, kan?” Tanya suster tersebut.
“Iya, tolong infus aku kembali.” Jawab Kaori.
Keesokan harinya Arima menjenguk kembali Kaori.
“Hari ini ada festival, ya?” Tanya Kaori.
“Iya.” Jawab Arima.
“Jangan berdiri saja, duduk sini.” Ucap Kaori.
“Kau kelihatan gelisah sekali. Mencurigakan.” Ucap Kaori.
“Aku tak menyukai rumah sakit.” Jawab Arima.
“Kau akan baik-baik saja, kan? Kau tak berbohong mengenai pemeriksaanmu, kan? Kau takkan bilang kalau kau takkan pernah masuk sekolah lagi, kan? Kau akan memakiku lagi seperti waktu itu, kan? Kita akan mengobrol lagi, kan?” Ucap Arima dalam hati dengan wajah cemasnya.
“Tadi Franky ke sini. Ini yang dia bawakan untukku.” Ucap Kaori sambil menunjukkan kue canelesnya.
“Franky, ya?” Ucap Arima.
“Aku ingin mendengar permainan pianomu.” Ucap Kaori.
“Kau baik-baik saja, kan?” Ucap Arima dalam hati.
“Aku ingin sekali bermain denganmu lagi.” Ucap Kaori dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
“Kau akan baik-baik saja, kan? Kau tak berbohong mengenai pemeriksaanmu, kan? Kau takkan bilang kalau kau takkan pernah masuk sekolah lagi, kan? Kita akan bertemu lagi, kan? Ini kedua kalinya. Kau takkan meninggalkanku seperti Ibuku yang meninggalkanku, kan?” Ucap Arima dalam hati.
“Iya, kalau kau sudah sembuh. Aku harus latihan lebih keras lagi.” Ucap Arima.
“Oke!” Ujar Kaori.
“Sudah malam, aku pulang dulu ya. Dah.” Ucap Arima.
“Dah!” Jawab Kaori.
Lalu Arima meninggalkan rumah sakit. Beberapa hari Arima membawa kue untuk Kaori dan menjenguknya lagi. Ketika sampai di depan pintu kamar Kaori, ia mendengar suara perbincangan dan candaan antara Kaori dan Franky. Lalu ia pun balik ke rumah dan tidak jadi menjenguk Kaori. Dan saat di jalan pulang.
“Apa yang kupikirkan, membawakan kue caneles untuk anak pemilik toko kue. Untung saja aku tak memberikannya. Aku benar-benar bodoh.” Ucap Arima dalam hati sambil memakan kue caneles.
Kemudian suara dering telepon dari handphone Arima.
“Siapa?” Ucap Arima dalam hati sambil mengangkat telepon.
“Dasar! Ga punya perasaan! Franky saja selalu menjengukku. Kenapa kau tidak muncul sekalipun? Jahat!” Ucap Kaori dalam telepon.
“Huh? Bagaimana bisa? Aku tak pernah memberikan nomo…” Ucap Arima.
“Akhir-akhir ini aku pikir aku tak mendengar suaramu sama sekali. Kau sekarang sedang memakan sesuatu, kan?” Terus Kaori dengan memotong pembicaraan Arima.
“Iya, kue caneles.” Jawab Arima.
“Aku mau kue caneles.” Ucap Kaori.
“Nanti kubawakan untukmu.” Jawab Arima.
“Benarkah? Janji loh ya.” Ucap Kaori.
“Iya.” Terus Arima sambil menutup teleponnya.
__ADS_1