Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
Hujan dan Mie instan1


__ADS_3

Banyak orang bilang, menyantap mie instan di malam hari apalagi dalam kondisi cuaca yang dingin, merupakan sebuah kenikmatan sederhana yang tak bisa dijelaskan, dan aku tahu hal itu, sudah sekian lama akhirnya aku memberanikan diri untuk menyantap mie instan lagi, aku pergi ke dapur untuk memasak mie instan kuah, rasa ayam bawang favoritmu, kutaruh ke dalam mangkuk, dan kuambil sepasang sumpit. Kemudian aku langsung bergegas kembali masuk ke kamar, kubuka jendela kamar hingga nampak purnama yang sedikit tertutup awan menemaniku malam ini untuk menyantap semangkuk mie instan. Mie yang kamu makan saat pertama kali kita bertemu.


Aku bekerja sebagai karyawan baru di sebuah kantor kecil di daerah Jakarta, saat jam istirahat kondisi sedang hujan dan aku berpikir menyantap mie adalah ide yang bagus, kemudian aku pun bergegas pergi ke warkop yang tak jauh dari kantor, menggunakan payung yang tersedia, sesampainya di sana aku bertemu untuk pertama kalinya denganmu, wanita cantik berkemeja biru dan rambut yang diikat sedang duduk makan mie instan sendirian. Jujur, saat pertama kali bertemu denganmu aku terheran-heran, “tumben sekali, ada wanita secantik dirimu ternyata bisa makan di tempat seperti ini, sendirian.” Ucapku dalam hati.


Setelah melipat payung, aku kemudian duduk tepat di sebelahmu, dan memesan mie goreng double pake telur favoritku. Selagi menunggu pesananku di masak sama abang-abang warkop, aku pun memberanikan diri untuk berkenalan denganmu karena, selama di kantor aku tidak pernah melihat orang sepertimu.

__ADS_1


“Umm… Permisi, kamu anak di kantor Poernama yaa?” Tanyaku dengan berani kepadamu. Saat itu kamu menjawab pertanyaanku dengan sangat singkat, padat, dan jelas. “nggak, di kantor sebelahnya.” Memang benar, tepat di sebelah kantorku bekerja, terdapat kantor kerja yang lain. jaraknya hanya berbeda satu bangunan. “Oh kantor sebelah, kenalin Angga, dari kantor sebelah kamu!” Sembari menyodorkan tangan untuk bersalaman, “A-anggi.” Jawabmu ragu dan hanya menganggukkan kepala, aku tau kenapa kau menjawab dengan ragu, karena kita baru pertama kali bertemu dan nama kita mirip seperti anak kembar. Aku juga ikut terkejut kok saat pertama kali mendengar namamu. Sungguh hari yang indah waktu itu, hujan yang menenangkan, sepiring mie goreng favoritku, dan bisa berkenalan dengan wanita cantik sepertimu.



Aku ingat waktu itu tiba-tiba kamu bertanya kepadaku. Perihal kucing.

__ADS_1


“kamu suka kucing nggak?” Tanya kamu


“Kucing? ya suka dong, hewan lucu begitu.” Jawabku sambil menyeruput secangkir kopi.


Walaupun aku suka kucing dan ingin memeliharanya, namun nasib berkata lain, ibuku melarangku untuk memelihara kucing, karena dia pikir aku tidak akan bisa merawatnya dan hanya akan menelantarkannya. Padahal itu tidak benar.

__ADS_1


__ADS_2