Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
Vera dan Kesalahan 2


__ADS_3

“Gue galau Ver. Gue diselingkuhi sama pacar gue…” Ucap Dion sedikit merengek.


“Syukurin!.”


“Kok disyukurin sih, harusnya kan lo nyemangatin gue.”


“Sukur, suruh siapa suka cuek dan dingin sama cewek. Paling-paling pacar lo itu gak betah sama Lo.”


“Emang lo bukan cewek? Kalo semisal semua cewek gak betah sama lo, kenapa lo betah sama gue?.”


“Gue cewek lah. Ya gue betah sama lo itu karena kasihan aja sama lo. Lagian lo duluan yang ngedeketin gue, bukan gue yang ngedeketin lo.”


Vera langsung beranjak keluar dari restoran. Ia langsung menuju ke sekolah kembali. Dion yang terduduk santai hanya bergumam ditempat.


“Tumben dia cerewet.”


“Ver! Tungguin gue..”


Mereka mengendap-endap menuju depan pintu kelas. Bahkan mereka mengintip sedikit di pintu kelas. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang membuka pintunya dan membuat Dion refleks menggenggam tangan Vera.


“Astaghfirullah, gue kira guru. Eh ternyata elo Van!.”


Revan melirik ke arah tangan Dion dan Vera yang saling menggenggam. Untung saja Vera sadar kalau Revan melihat tangannya, jadi dia dengan cepat langsung melepaskan genggaman Dion. Setelah lepas genggamannya, Dion langsung begitu saja masuk kelas. Tapi, Vera tak bisa masuk begitu saja. Ia masih ingin memandangi betapa gantengnya Revan.


“Dari mana aja lo?.”


“Kenapa? Revan cemburu ya? Gue kasih saran nih ya, kalau lo suka sama gue buruan bilang dong. Jangan gantungan gue terus. Jemuran aja bisa kering digantung, apalagi perasaan gue.”

__ADS_1


Tanpa dijawab, Revan langsung masuk begitu saja. Tingkah Revan membuat Vera tersenyum tipis. Vera merasa sangat senang, karena dengan begitu Revan sudah menunjukkan tanda-tanda jatuh cinta pada Vera.


“Revan, jawab dong pertanyaan gue!.”


“Jangan diem terus.”


“Emang lo mau kalo gue diambil orang?.”


Revan menutup telinganya, ia sudah bosan mendengar ocehan Vera. Kalau Revan tak menuruti, bisa-bisa dia makin gila dan membuat Revan ikut gila karena ocehannya.


“Iya gue cemburu!.”


“Gue suka sama Lo!.”


“Apa? Gue gak denger.”


Vera tersenyum riang dan menghela nafasnya. Akhirnya setelah lama ia mengejar, tak sia-sia. Akhirnya juga Revan mau mengungkapkan cintanya terlebih dahulu. Namun, penghalang datang lagi. Kini saat Vera baru membuka mulutnya, ia langsung ditarik oleh Dion untuk keluar dari kelas.


“Apaan sih Dion! Gue baru mau ngomong sama Revan, udah diganggu aja.”


Gue suka sama lo, gue sadar gue suka sama Lo dan gue pengen lebih dari kata sahabat.”


“Ha?.”


“Lo halu? Kita sahabatan baru sehari, belum lama. Tiba-tiba bilang naksir aja.”


“Gue serius Ver.” Ucap Dion meraih tangan Vera.

__ADS_1


Vera melihat Revan yang mengintip ditepi pintu. Tapi, entah mengapa Revan langsung pergi saat Vera melihatnya. Mau tak mau Vera harus langsung pergi menyusul Revan. Ia tak mau kehilangan kesempatan yang selama ini ia kejar.


“Maaf, gue gak bisa.”


“Lo itu sahabat gue, dan lo tetap akan jadi sahabat gue.”


Revan menyadari jika Vera mengejarnya. Tapi, Revan malah semakin cepat berjalan menjauh dari Vera. Vera sudah mengejar dengan dipenuhi pikiran negatif. Ia takut kehilangan Revan, ia takut jika Revan mendengar ucapan Dion.


“Revan!!!.”


“Jangan lari terus!!.”


“Vera capek.”


“To..tolong… tolongin Vera…”


Revan tak menghiraukan ucapan Vera yang terbantah-bantah. Bahkan Vera sudah mengeluarkan banyak keringat dingin. Vera sudah tidak tahan lagi untuk berlari, dadanya sesak. Ia susah sekali untuk bernafas.


Brakkk!!


“Vera!!.”


Dion berlari kearah Vera, sedangkan Revan yang mendengar suara langsung menengok kebelakang dan langsung berlari mendekat kearah Vera.


“Ini salah lo, kenapa sih Lo egois banget! Kenapa lo gak mau dengerin suara Vera!.” Ucap Dion sembari marah-marah dan mendorong Revan dengan jarinya.


“Udah. Mending sekarang Vera bawa ke UKS! Lo gak perlu nyalahin gue.”

__ADS_1


__ADS_2