
"Rambutmu juga sudah berubah merah,"ucap Zen.
Ara tertegun membayangkan dirinya sekarang.
"Mulai sekarang kita bisa menikmati sinar matahari tanpa takut terbakar,"ujar Zen sambil berangsur turun dari atas tempat tidur. Lantas ia mengambil sebuah gelas dari atas meja dan menyodorkannya ke hadapan Ara.
"Apa ini?"gumam Ara heran.
"Ini minuman pertamamu,"jawab Zen."Ini darah domba segar,"jelasnya.
"Darah?"ulang Ara sembari mengamati cairan merah pekat didalam gelas. Harusnya ia jijik saat mencium aroma amis dari gelas itu, tapi nyatanya tidak. Ia malah mencium wangi yang aneh dan menerbitkan air liurnya.
Perlahan Ara meneguk minuman itu. Ternyata minuman itu terasa menyegarkan.
"Aku pasti sudah gila,"gumam gadis itu usai meneguk habis minumannya. Sedang Zen menyeka sisa-sisa minuman itu dari bibir Ara.
"Kamu tidak gila sayang,"sambung Zen."Ini adalah sebuah permulaan."
Kay, saudara sepupu Zen memang seorang pengacau. Diam-diam cowok itu menaruh hati pada Ara. Suatu kesempatan datang padanya untuk mendekati Ara. Tentu saja hal ini membuat Ara kesal.
__ADS_1
Begitu Zen mengetahui perihal ini, ia marah dan melakukan pembalasan pada saudara sepupunya.
"Apa yang kamu inginkan, Kay?"tantang Zen menantang kejantanan Kay. Mereka berhadapan satu lawan satu dan siap untuk berduel.
Kay menyeringai. Ia sangat paham dengan tantangan yang diajukan Zen.
"Kalau aku katakan apa yang aku inginkan, apa kamu akan memberikannya padaku?"balas Kay dengan angkuhnya.
"Tentu, tapi setelah kamu melangkahi dulu mayatku,"tegas Zen pada puncak emosinya.
"Jadi kamu benar-benar ingin mengadu kekuatan denganku? Baik, akan aku layani,"sahut Kay. Iapun mulai bersiap mengumpulkan segenap energi yang ia miliki.
"Kita lihat saja nanti,"
Mereka berdua mulai mengeluarkan kekuatan masing-masing. Dari telapak tangan Zen keluar seberkas cahaya hijau yang ia arahkan ke tubuh Kay bertubi-tubi. Sementara dari telapak tangan Kay keluar seberkas cahaya oranye.
Pertarungan itu sangat menegangkan. Sesekali Kay terjerembab ke belakang mendapat serangan cahaya hijau dari telapak tangan Zen. Begitu juga dengan Zen. Berkali-kali cowok itu terjatuh terkena serangan Kay.
Pertarungan itu menimbulkan percikan-percikan cahaya dilangit malam. Sangat menakjubkan. Kekuatan kedua vampir muda nan keren itu seimbang. Nyaris semalaman mereka bertarung namun sampai menjelang pagi belum ada tanda-tanda salah satu dari mereka yang memenangkan duel tersebut.
__ADS_1
Namun untunglah keributan itu terdengar sampai ke telinga tetua vampir. Dan atas perintah tetua pertarungan itu terpaksa dihentikan atau keduanya akan mati sia-sia karena kehabisan tenaga.
Sidang darurat komite persatuan vampir digelar keesokan harinya untuk menyelesaikan pertikaian antara Zen dan Kay. Setelah mendengar pembelaan masing-masing dan juga kesaksian Ara, maka Kay dinyatakan bersalah.
Kay akan dijatuhi hukuman setimpal. Ia harus menjadi pelayan di kerajaan vampir selama setahun penuh. Dan setelah itu ia akan dijodohkan dengan gadis dari kalangan vampir juga.
Zen dan Ara bernafas lega mendengarnya. Sepertinya Kay pantas mendapatkan hukuman itu.....
"Aku merindukan mereka,"gumam Ara nyaris tak terdengar. Ia berbaring membelakangi Zen.
Sudah nyaris sebulan Ara tinggal bersama Zen.....
Zen mengernyitkan dahi. Tak paham maksud ucapan istrinya.
"Mereka siapa?"tanya Zen seraya mengusap rambut Ara yang terjuntai di atas bantal.
"Orang tuaku, adik-adikku..."gumam Ara lagi.
Zen agak kaget mendengar ungkapan hati istrinya.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh kesana apalagi menemui mereka, Ara..."