
Disaat bersamaan beberapa suster menuju ke ruangan Kaori dengan peralatannya. Arima dan Franky yang melihat tangan Kaori sedang berpegangan pinggir kasur tiba-tiba terjatuh. Saat perjalanan pulang Arima syok berat melihat keadaan Kaori. Kaori langsung dimasukkan ke ruang ICU. Semua teman-temannya pun kaget mendengar kondisi Kaori. Saat di rumah, Arima terlihat lemas sekali. Lalu ia mendengar kabar bahwa Kaori dipindahkan ke kamarnya seperti semula, kemudian ia menjenguk Kaori.
“Mereka membawaku kembali ke ruanganku kemarin. Duh, parah. Itu pertama kalinya aku masuk ruang ICU. Disana tidak nyaman sekali. Kau melihat sisi yang memalukan dariku. Karena itulah aku menyuruhmu untuk tidak datang lagi ke rumah sakit.” Ucap Kaori lalu melemparkan boneka ke wajah Arima.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Arima dengan wajah murungnya.
“Jangan ke sini kalau hanya mau menunjukkan wajah murungmu. Kau hanya memperparah keadaanku! Oh kue caneles! Aku mau makan di luar!” Ucap Kaori.
“Dingin tahu.” Terus Arima.
“Aku tidak mau makan di kamar rumah sakit. Ayolah, ayolah, ayolah.” Jawab Kaori.
Kemudian Arima menggendong Kaori ke atas atap.
“Salju!” Ucap Kaori.
Lalu Kaori duduk di bangku atas atap.
__ADS_1
“Apa kau bermain piano lagi?” Tanya Kaori.
“Iya.” Jawab Arima.
“Apa kau sudah latihan piano?” Tanya Kaori.
“Aku tidak latihan.” Jawab Arima.
“Sudah kuduga. Kau kehilangan keberanianmu.” Ucap Kaori.
“Aku tak bisa melakukannya lagi. Orang-orang yang kusayangi terus-terusan meninggalkanku. Musik mengambil orang-orang yang kusayangi dariku. Dan aku akan sendirian.” Terus Arima.
“Alasan kenapa aku mulai berjuang. Alasan kenapa aku begitu ingin hidup.. itu semua salahmu. Kau membuatku terikat dengan waktu yang kuhabiskan bersamamu.” Ucap Kaori dalam hati.
“Tapi sudah seminggu aku tak menyentuh piano. Jari jariku…” Ucap Arima.
“Saat menjadi pengiringku juga begitu.” Ujar Kaori.
__ADS_1
“Saat itu, aku masih memainkan piano untuk pekerjaaan sampinganku.” Terus Arima.
Saat Kaori berdiri, ia tiba-tiba terjatuh dan Arima menahannya.
“Kau ada di dalam diriku, Arima. Kau menyukai roti isi telur, kau menyukai susu sapi. Apa lagi yang kau suka? Serangga apa yang kau suka? Ada banyak hal yang tak kuketahui. Aku iri pada Rebecca yang tahu segalanya. Aku ingin lebih mengetahui tentang dirimu. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Jangan tinggalkan aku sendiri!” Ujar Kaori sambil menangis.
“Aku bodoh. Dia sangat kasar, kepribadiannya buruk, dia meninggalkan kesan yang buruk. Tapi dia cantik. Kau begitu cantik di bawah turunnya salju.” Ucap Arima dalam hati.
Keesokan harinya Kaori memulai operasinya. Lalu ternyata operasinya gagal. Tuhan tidak berpihak kepada Kaori dan ia meninggal. Keluarga serta teman-temannya terutama Arima tak bisa menahan tangis. Saat di makamnya.
“Jika kamu tidak keberatan, tolong terima ini.” Ucap Ibu Kaori sambil memberikan sepucuk surat dari Kaori sebelum ia meninggal.
“Terima kasih karena sudah membuat hidup Kaori berwarna.” Ucap Ayah Kaori.
Kemudian Arima membaca surat tersebut.
“Untuk Tuan Arima. Rasanya aneh sekali menulis surat untuk seseorang yang baru saja bersamaku. Kau orang yang jahat. Sampah, lambat, bodoh. Aku pertama kali bertemu denganmu saat berumur enam tahun. Itu saat di pertunjukkan piano sekolah. Anak laki-laki gerogi yang membuat penonton tertawa karena menjatuhkan kursi pianonya. Dia duduk di depan piano yang lebih besar darinya. Tapi saat dia memainkan not pertamanya, aku langsung terpukau mendengarnya. Suaranya seperti palet 24 warna. Melody-nya seperti berdansa. Aku sangat terkejut saat anak perempuan yang duduk disampingku menangis kencang. Meski begitu, kau berhenti bermain piano. Padahal kau sudah mempengaruhi hidupku. Kau jahat sekali. Jahat! Lambat! Bodoh! Saat aku tahu kita satu SMP, aku sangat senang. Bagaimana caranya agar aku bisa bicara denganmu? Apa aku beli roti isi saja setiap hari? Tapi pada akhirnya, yang bisa kulakukan hanyalah memandangimu dari kejauhan. Soalnya semua orang terlihat dekat sekali dengamu. Tak ada ruang sedikitpun untukku masuk. Saat aku kecil aku pernah dioperasi lalu sering dirawat di rumah sakit. Setelah aku jatuh pingsan saat kelas 1 SMP, aku jadi lebih sering keluar masuk rumah sakit. Dan aku pun dirawat jadi menjadi lebih lama. Aku jadi banyak bolos sekolah. Aku tahu kalau kondisi tubuhku tidak begitu baik. Suatu malam, aku melihat Ibu dan Ayahku menangis di ruang tunggu rumah sakit, aku sadar kalau waktuku tak banyak lagi. Saat itulah aku mulai berlari. Aku mulai melakukan apa pun yang kumau, supaya aku tak membawa penyesalan ke surga. Aku tak takut lagi untuk memakai lensa kontak. Memakan banyak kue yang sebelumnya tak bisa kulakukan karena khawatir dengan berat badanku. Partitur musik yang selama ini selalu mengaturku sekarang aku memainkannya dengan caraku sendiri. Lalu aku mengucapkan suatu kebohongan, kalau Kaori menyukai Franky itulah kebohonganku. Kebohongan itu membawanya ke depanku. Arima, itu membawamu padaku. Sampaikan permintaan maafku pada Franky. Sebagai teman, dia menyenangkan. Tapi sepertinya, aku lebih menyukai orang yang setia. Dan juga sampaikan permintaan maafku pada Rebecca. Aku hanyalah seseorang yang kebetulan lewat dan akan langsung menghilang. Aku tak ingin meninggalkan kesan yang aneh, jadi aku tak bisa memintanya pada Rebecca. Atau, meskipun aku secara langsung memintanya tolong kenalkan aku pada Arima. Aku yakin Rebecca takkan menerimanya. Lagipula Rebecca sangat menyukaimu. Semua orang tahu itu. Kau takkan menekan tombol resetnya kan? Kebohongan licik yang membawamu padaku tak pernah kubayangkan sebelumnya. Kau jauh lebih suram dan murung dari yang kuduga. Kau juga keras kepala dan tak kenal lelah. Suaramu jauh lebih pelan dari yang kuduga, dan jauh lebih jantan dari yang kuduga. Namun sesuai dugaanku kau pria yang baik. Saat kita bernyanyi Twinkle, Twinkle, Little Star rasanya menyenangkan sekali ya? Arima, aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu. Maaf aku tak menghabiskan kue canelesnya. Maaf aku sudah banyak memukulmu. Maaf aku sudah egois. Tolong banyak maafin aku ya. Terima Kasih banyak.”
__ADS_1
dan jangan lupa kalian follow aku juga ya supaya aku bisa melanjutkan cerita yang lain lagi ok👍