
Aku pun berbalik bertanya, “Kenapa emangnya?”
“Iya, aku kan punya kucing nih di rumah, kucing jenis anggora yang kunamai Kimo, dia itu ngeselin, tapi aku juga sayang sama dia, jadi nih ya, pas tadi pagi sebelum aku berangkat kerja, aku ngasih makan tuh buat dia, eh pas mau naro makanannya, akunya malah dicakar dong.” Sembari kamu menunjukkan 3 garis cakaran lumayan panjang di tangan kanan kamu.
Aku pun membalas, “Mungkin dia mau disayang kali, nggak mau ditinggal kerja sama kamu.”
Apa kamu tau, baru-baru ini, aku memelihara kucing kampung dengan aksen warna hitam putih, ibu sudah yakin jika aku bisa merawat seekor kucing, mendengar hal itu membuatku senang dan juga terheran-heran. Kucing itu kuberi nama Kimo, iya nama yang aku ambil dari nama kucing peliharaan kesayanganmu. Sekarang dia sedang tidur nyenyak tuh di singgasananya
—
Malam ini angin berhembus makin dingin, memasuki kamar melalui jendela yang terbuka, sepertinya hujan akan turun malam ini. Kemudian kuambil mie dari dalam mangkuk menggunakan sumpit, iya, sumpit alat makan yang sering kamu gunakan ketika makan mie instan kuah ayam bawang kesukaanmu. Meskipun ada garpu dan sendok, tetapi kamu tetap memilih sumpit. Dan bagiku sumpit ini menjadi salah satu benda mati saksi perjalanan cinta kita, kamu ingat hari itu nggak, hari selasa ketika jam istirahat siang, kita berdua seperti biasa untuk makan mie instan favorit kita masing-masing. Dan entah kenapa warkop siang itu sangat sepi, hanya berisi tiga orang, aku, kamu, dan abang-abang warkop tentunya.
“Tumben bang warkop sepi?” Tanyaku sambil menyiapkan tempat untuk kita duduk.
__ADS_1
“Iya nih, tapi paling ntar juga rame, nih mas sama mbaknya mesen kayak biasa?”
“Iya bang, yang kaya biasanya.” Jawabku.
Tak lama menunggu, makanan pun sudah siap untuk disantap dan aku pun bertanya iseng kepadamu, “Kenapa kamu kalo makan mie selalu pake sumpit, padahal kan ada sendok sama garpu.”
“Ya nggak kenapa-kenapa sih, tapi ya menurutku makan mie pake sumpit itu menambah cita rasa dan nafsu makanku gitu, terus untuk kuahnya langsung aku uyup deh, itu lebih enak dari pada pake sendok, lagian warkop di sini, nyedian sumpit, jadi ya aku pake sumpit terus.”
“Nah di situ masalahnya, aku nggak bisa cara make sumpit.” Jawabku malu-malu.
“Astaga, ya udah sini aku ajarin caranya pake sumpit.” Sembari mengambil sumpit yang ada di tempat alat makan.
Setelahnya kamu pun mengajariku cara menggunakan sumpit, mulai dari cara memegangnya sampai mencapitnya, tetap saja aku yang payah ini, tetap kesulitan dalam menggunakannya, mungkin membutuhkan banyak latihan agar bisa menggunakannya, gumamku.
__ADS_1
Melihatku yang masih kesusahan menggunakan sumpit, kamu langsung mengambil garpu seraya berucap “Yaudah pake garpu aja nih, daripada kamu nggak bisa makan.” Mendengar ucapanmu aku hanya bisa menatapmu dan tertawa kecil saja.
Setelah selesai kita makan, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, aroma jalanan yang terkena hujan menguap masuk ke dalam warkop, dan kita pun terjebak di sana, menunggu hujan reda. Di saat itu aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaan yang sudah lama kupendam, jujur, waktu itu aku takut banget buat ngungkapinnya, pikiranku berkeliaran ke sana kemari tak tentu arah, tapi aku memberanikan diri untuk menyampaikannya.
“Sebenernya aku udah lama suka sama kamu, mau nggak jadi pacar aku?”
Hening.
Hanya terdengar suara ketukan-ketukan rintik hujan di atap warkop, suara kendaraan yang berlalu-lalang, serta suara air yang mendidih di dalam panci. Mendengar hal itu abang-abang warkop hanya terdiam mendengar ucapanku dan aku pun juga ikut terdiam, tak tahu harus berbuat apa, jantung berdegub dengan kencang pikiran sudah terbang kemana-mana, aku takut dengan jawaban darimu. Dan entah kenapa hawa menjadi terasa panas, keringat bercucuran meskipun dalam keadaan hujan.
Kamu mengangguk seraya berucap lembut, “Iya, aku mau.”
Meledak rasanya jantung ini mendengar jawabanmu, aku sangat senang hari itu, suara rintik hujan seakan-akan berubah menjadi melodi cinta ala-ala film India di telingaku. Dan abang-abang warkop pun ikut teriak gembira mendengar jawabanmu, dia pun menggratiskan makanan yang kita pesan, sebagai tanda perayaan kita hari itu, jujur, itu adalah hari yang indah dan juga absurd, menembak wanita yang dicintai di dalam warkop, seakan tidak ada tempat lain untuk melakukannya. Sungguh hari yang sangat-sangat indah.
__ADS_1