
“Haruki! Selamat pagi!” seru Sayaka. Ia mengetuk pintu rumah Haruki berkali-kali.
Haruki melangkah membukakan pintu. “Yo! Kau datang lebih pagi dari biasanya.” Matanya menatap jam yang diapajang di dinding dekat jendela.
“Gomennasai! Aku tidak melihat jam pagi ini…” ucap Sayaka sambil menunduk sopan.
“Mau apa datang kemari?” tanya Haruki.
Sayaka menatap sekeliling. “Ano… aku ingin ke suatu tempat.”
Haruki menggaruk belakang kepalanya. “Mau kemana?”
“Aku mau ke sekolah lamaku.” Perlahan, nada suara Sayaka terdengar memelan.
Haruki mengangguk santai. “Baiklah, aku bersiap dulu.”
Setelah bersiap, Sayaka segera menarik tangan Haruki. Ia menggenggam tangan Haruki dengan erat. Haruki yang menyadari itu sedari tadi menatap tangan mereka.
‘Ada apa dengannya?’ batin Haruki sambil menatap Sayaka dari samping.
Mereka akhirnya tiba. “Ini adalah sekolahku…” ucap Sayaka sambil menatap gedung sekolah yang ada di hadapannya.
Haruki menatap gedung sekolah itu. Ia terkejut. “Ini… dulu kau sekolah di sini juga?” tanya Haruki.
“Dulu. Aku sekolah di sini hanya dua tahun.”
“Ya. Pacarku juga sama. Ia hanya memiliki waktu dua tahun di sekolah ini. Setelah itu ia meninggalkanku.” Haruki mengeratkan genggamannya pada tangan Sayaka.
“Tapi aku ada di sini. Aku bersamamu!” ucap Sayaka sambil menatap wajah Haruki.
__ADS_1
Haruki tersenyum, kemudian ia menarik tangan Sayaka untuk masuk ke dalam sekolah itu. Kebetulan sekarang libur, jadi mereka bebas memasuki sekolah lamanya itu.
“Kau sekolah di sini tapi aku tidak pernah ingat kau!” ucap Haruki.
“Jahat sekali! Tapi aku memang kurang pergaulan. Aku lebih senang sendiri…” ucap Sayaka sambil duduk di salah satu bangku.
“Cuma perasaanku atau seperti apa tapi aku merasa kau dan pacarku memiliki banyak persamaan.”
Sayaka berdiri dari duduknya. “Jangan selalu membandingkanku dengan pacarmu!” Sayaka mulai kesal.
Haruki berdiri tepat di depan Sayaka. “A-ada apa denganmu?”
“Kau selalu menyamakankku dengan pacarmu!” teriak Sayaka.
“Maaf. Aku juga tidak tahu apa-apa. Selama ini aku belum pernah memikirkannya. Begitu bertemu denganmu aku langsung memikirkannya.”
Sayaka menyandarkan dirinya pada dada Haruki. “Aku hanya tidak mau kau tenggelam dalam kesedihanmu dengan mantan pacarmu itu.”
“Aku menemuimu karena aku tidak mau kau sedih! Aku tidak mau kau terus-terus tersakiti oleh orang itu!” teriak Sayaka.
“Aku akan baik-baik saja. Maaf karena aku mengucapkan hal yang membuatmu kesal.”
Sayaka mengangguk, ia menatap wajah Haruki. Sayaka tersenyum. “Tidak apa-apa!”
‘Harusnya aku tidak memiliki perasaan ini. Harusnya aku tidak menyukainya. Ia baru bertemu denganku kemarin. Tapi aku merasa mulai nyaman dengannya…’ batin Haruki heran.
Haruki menatap wajah Sayaka agak lama. Haruki mendekatkan wajahnya ke wajah Sayaka. Sadar dengan keadaanya, Haruki segera memundurkan wajahnya. Ia mundur menjauhi Sayaka.
“Maaf, maaf! Aku tidak bermaksud sembarangan!” ucap Haruki.
__ADS_1
Sayaka tersenyum. “Tidak apa-apa!” ucap Sayaka sambil melangkah keluar kelas.
Malamnya Haruki sedang asyik duduk di atas ranjangnya yang empuk itu. Ia membalikkan lembaran demi lembaran kertas yang ada di pangkuannya. Dengan cekatan pula ditulisnya sesuatu ke dalam buku lain.
“Haruki!” ucap Sayaka sambil duduk di ranjang Haruki.
Haruki mengangkat wajahnya. Ia menatap wajah Sayaka yang saat ini tersirat sebuah perasaan aneh di sana.
“Ada apa?” tanya Haruki.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Sayaka.
“Aku sedang mengerjakan beberapa tugas kuliah. Aku tidak bisa diam terus tanpa mengerjakannya.”
Sayaka berbaring di samping Haruki. Ia mengeluarkan sebuah buku dari pelukannya. “Coba lihat.”
Haruki menatap buku yang ada di tangan Sayaka. “Buku itu…,” Haruki membulatkan mata.
“Itu ‘kan buku yang dimiliki mantan pacarku!” ucap Haruki kaget. Buku itu berisi tulisan dan album foto yang sudah lama. Haruki heran dengan keberadaan buku itu. Seingatnya, buku itu sudah ia berikan kepada mantan pacarnya.
Sayaka mengangguk. “Ayo, kita lihat!” ucap Sayaka sambil bangkit dan duduk di depan Haruki. Ia menaruh buku itu di hadapannya.
“Kenapa bisa ada padamu?” tanya Haruki.
“Aku menemukannya di…,” Sayaka menatap sekeliling kamar Haruki, sesekali ia menengok ke luar kamar. “Aku temukan di salah satu rak buku!”
“Benarkah? Aku pikir itu sudah kuberikan kepada orang lain.” ucap Haruki.
“Apa kau sudah melupakan semua yang ada di dalam sini?” tanya Sayaka.
__ADS_1
“Yah. Aku sudah tidak ingat apa yang ada di dalam buku itu…” ucap Haruki sambil menundukkan kepala.
“Bagaimana kalau kita melihatnya lagi?” ucap Sayaka sambil tersenyum senang dan dibalas anggukan mantap dari Haruki.