
“Setelah berbulan-bulan mengurung diri di kamar. Teman penelitianku di dunia maya mengabarkan bahwa mereka sedang mengembangkan mesin waktu. Beberapa ilmuwan menjadi sadar bahwa sebentar lagi perang besar akan terjadi. Mereka tau bahwa tidak ada lagi jalan untuk mencegahnya di masa depan. Jalan satu-satunya adalah dengan mencegahnya di masa lalu. Proyek mesin waktu itu akan digunakan untuk menyadarkan orang-orang untuk mengembangkan toleransi dan pluralisme. Aku bergabung karena memiliki harapan akan terjadi perubahan. Kita harus melakukan hal yang benar di masa ini” “Oh jadi dirimu akan memulai proyek besar untuk menyadarkan manusia akan pentingnya toleransi beragama?” “Tidak Bob, itu bukan tugasku. Kau yang akan menjalankan tugas itu. Kami tidak bisa merubah apapun. Yang bisa kami lakukan adalah menghubungi orang-orang terdekat untuk segera bersiap dan menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan” Atau tertegun. Mengapa pula ini seperti tugas dari masa depan. “Aku tau kamu akan menjalankannya. Tanpa ku beri taupun kau akan menjalankan prinsip-prinsip yang menurutmu benar. Aku hanya ingin memberitahumu untuk sedari dini mengembangkan pemikiranmu agar diketahui oleh yang sepemikiran denganmu. Kau harus bersama-sama. Tak bisa sendiri. Mereka yang terpapar radikalisme diam-diam telah menyusun kekuatan dari sekarang. Mereka sangat terorganisir. Untuk melawannya kau harus terorganisir juga”. “Oh..”, ujarku setengah takjub, setengah tak percaya. “Bob, aku serius. Kau harus segera bicara dan mengeluarkan sikapmu. Kau tidak boleh diam melihat perubahan perilaku manusia saat ini. Bob..!” Syla berdiri dan memegang kerahku. Matanya tajam. Ia minta kesungguhanku. “Oke oke.. Syla, kau bisa melepaskan cengkramanmu.” Aku meluruskan kerahku. Perempuan ini serius dengan perkataannya. “Maaf Bob, tapi waktuku terbatas, aku harus memastikan bahwa kau mengerti apa yang ku katakan.”
“Kau akan kembali ke masa depan?” aku mulai merasa takut kehilangan perempuan ini “Mesin waktu ini belum sempurna. Partikel dalam tubuhku tidak mampu sepenuhnya bertahan dalam posisi solid. Perkiraanku hanya dua jam. Setelahnya ia akan kembali menjadi partikel dan kembali ke awal. Namun sayangnya kami belum bisa memperkirakan kemana kembalinya partikel tersebut. Bisa dikatakan ini tiket satu arah” “Maksudmu kau tak tau akan menjadi apa, di mana?” “Iya, bisa dikatakan begitu” “Tapi tubuhmu sama seperti lainnya” “Ya, dalam waktu tertentu” “Syla, mengapa kau mengambil resiko untuk itu?” “Di masa depan aku tak pernah siap saat harus berpisah denganmu. Ku ambil resiko ini untuk setidaknya bertemu denganmu walau untuk yang terakhir. Bukankan aku pernah bersumpah aku lebih baik mati dari pada harus berpisah denganmu”. “Lalu apa yang kita lakukan sekarang? Kau sudah menyampaikan pesanmu dan aku tidak percaya jika kau akan hilang menjadi partikel” “Tau usah pikirkan itu. Saat ini aku ingin merayakan pertemuan pertama kita di masa depan. Persis seperti ini, saat kita memperdebatkan pentingnya saling menghormati antaragama. Kita berdebat sengit” “Oh iya, apa yang kita lakukan setelah perdebatan sengit itu” “Kita Menikah..” “Oh Iya…” “Ya, kita menikah walau banyak tentangan dari berbagai pihak” “Wow aku terlihat heroik sekali” “Hahaha kamu memang pahlawanku sayang” “Bolehkah aku memeluk perempuan masa depan ini” “Tentu saja, aku istrimu, lagipula bukankah ku katakan tadi bahwa ini adalah sebuah perayaan pertemuan kita di masa depan nanti” Aku berdiri memeluknya. Ia mendekapku erat. Wajahnya disandarkan di dadaku. Kami larut dalam pelukan. Hening. Kemudian suara lirih terdengar di kupingku, “Bob aku sayang kamu”. Lalu, hanya ada hening.