
“Hey, jadilah pengiringku nanti ya. Kalau tidak, mau kupukul nanti?” Ucap Kaori dengan paksaannya.
“Maaf, aku tidak bisa mendengar suara piano. Semakin aku berkonsentrasi semakin dalam permainanku, suara dari yang kumainkan semakin jauh dari jangkauanku, seperti daun yang terbawa angin musim semi lalu menghilang. Hanya suara dari permainanku yang tidak bisa kudengar. Sudah pasti ini hukuman.” Terus Arima dengan wajah sedihnya.
“Jangan cengeng! Terima ini! Bermainlah meski kau tidak bisa bermain! Meski kau sedih kau harus bermain!” Ucap Kaori sambil menendang kaki Arima.
“Iya, mungkin itu benar untukmu.” Balas Arima.
“Saat kau jatuh cinta padanya, dia akan berkilauan di matamu.” Ucap Franky dalam ingatan Arima.
“Saat aku bersamamu, aku mulai mengerti apa yang dikatakan Franky.” Ucap Arima dalam hati.
“Nah kau mau kan jadi pengiringku?” Ujar Kaori.
“Aku tidak bisa bermain piano lagi.” Ucap Arima dengan wajah kecewanya.
“Aku mohon padamu, tolong jadilah pengiringku. Tolong sedikit saja, bantulah aku saat ini saja.” Ucap Kaori dengan badan membungkuk sambil menangis.
__ADS_1
“Akan kulakakukan, aku akan menjadi pengiringmu. Kalau jelek aku tidak bertanggung jawab loh.” Balas Arima sambil menghapuskan air mata Kaori.
“Terima kasih Arima.” Ucap Kaori sambil tersenyum.
Saat diruang tunggu, Arima langsung latihan ia tidak punya cukup waktu untuk latihan karena permintaan Kaori yang mendadak. Lalu mereka pun dipanggil untuk tampil dipanggung. Semua orang termasuk Franky dan Rebecca pun kaget melihat Arima menjadi pengiring Kaori. Saat bermain, Kaori mengubah tempo permainan biolanya. Tak lama kemudian permainan piano Arima pun menjadi berantakan, ia mulai kehilangan suara dari suara pianonya. Kemudian Arima pun menghentikan permainan pianonya, semua orang serta para juri kaget melihat Arima menghentikan permainan pianonya. Saat selesai penonton hanya diam membisu, semua penonton pun kecewa. Lalu Kaori ingin meminta memainkan musik satu kali lagi, semua penonton kebingungan karena mereka memainkannya lagi. Tak lama kemudian Arima memainkan pianonya lagi walaupun suaranya masih berantakan, mereka berdua memainkan sudah diluar kendali seperti berkelahi. Penonton pun jadi ikut terbawa suasana perkelahian mereka. Kemudian saat selesai penonton bertepuk tangan untuk mereka, para juri kesal dengan gaya permainan mereka. Sudah pasti mereka tidak lolos ke babak berikutnya. Disaat itulah tiba-tiba Kaori jatuh pingsan diatas panggung, ia langsung dilarikan ke rumah sakit. Saat selesai Arima, Franky dan Rebecca menjenguk Kaori yang dirumah sakit.
“Bikin kami kaget saja, sampai dirawat inap begini.” Ucap Rebecca.
“Ayahku hanya terlalu khawatir, jadi untuk jaga-jaga aku dirawat inap.” Balas Kaori.
“Apa sebelumnya pernah pingsan seperti ini?” Tanya Arima.
“Ini ada kue caneles, dimakan ya. Sudah saatnya kami pulang, kami tidak boleh lama-lama di sini.” Ucap Rebecca sambil meletakkan kue canelesnya di meja.
“Huh? Aku mau menginap di sini.” Ujar Franky.
“Sampai ketemu di sekolah ya, Kaori.” Ucap Rebecca sambil mendorong Franky.
__ADS_1
“Hei, apa kau sudah bermain piano lagi?” Tanya Kaori.
“Tidak, aku belum bermain piano.” Balas Arima.
“Meski begitu, kau tidak bermain? Kau takkan bisa melupakannya.” Ucap Kaori.
Kemudian mereka meninggalkan rumah sakit tersebut. Ketika di luar rumah sakit Franky sedang menelepon seseorang.
“Cepat, cepat! Kamu ada engga?” Tanya Franky lewat teleponnya.
“Apa yang kau bicarakan dengan Kaori?” Tanya Rebecca.
“Huh? Bukan sesuatu yang penting kok.” Jawab Franky.
“Kalau begitu tidak apa kan kalau memberitahuku.” Ucap Rebecca.
“Violet! Ini aku, Franky. Iya, iya. Apa kau sibuk sekarang?” Ucap Franky lewat teleponnya.
__ADS_1
“Huh? Dasar playboy.” Ujar Rebecca