Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
When My First Love End


__ADS_3

Aku memasuki halaman stasiun Hakata sambil merapatkan jaketku. Musim dingin telah tiba. Jadi mulai sekarang, bila ingin bepergian, aku harus mengenakan jaket serta syal tebal. Aku memandangi sekitar lalu melihat sepasang kekasih yang berdiri tak jauh dariku. Si gadis yang memakai jaket ungu itu menunjuk ke langit.


“Lihat! Salju pertama!” serunya. Memang benar, butiran-butiran salju mulai turun dari langit. Pasangan dari si gadis hanya tersenyum dan mengusap rambut gadisnya, menyingkirkan butiran salju yang jatuh. Buru-buru aku mengalihkan pandanganku dari mereka. Aku berganti memandangi ujung syal berwarna merah yang kurajut sendiri.


Angin musim dingin menyentuh lembut pipiku. Aku menghembuskan nafas dan uap udara tipis keluar dari mulutku. Hari sudah semakin senja sementara aku belum ingin pulang. Aku masih sibuk mengamati pohon-pohon dan jalanan yang mulai diterangi lampu yang berkelap-kelip. Apa yang kutunggu?


Aku memegangi ujung syalku. Sebenarnya, syal ini kurajut untuk kuberikan kepada seseorang. Lebih tepatnya kepada orang yang kusuka, Yamada Tadashi. Tapi tidak mungkin kuberikan karena aku tidak berani. Lagipula Tadashi sudah memiliki pacar. Sebentar lagi juga kelulusan, dan semua murid sibuk menyiapkan diri untuk ujian masuk universitas. Jadi kupikir, selain tidak ingin mengganggu hubungan Tadashi dan Kurumi, aku tidak punya cukup waktu memberikan syal ini kepada Tadashi. Jika syal ini hanya bisa sebagai kenangan atas perasaanku padanya, aku tidak keberatan.


Bagaimanapun, perasaan ini tidak bisa kukatakan. Biarkan perasaanku ini tetap kupendam. Sudahlah, aku tidak akan memikirkannya. Aku menadahkan tanganku, sebutir salju jatuh dan langsung meleleh ketika menyentuh tanganku.


Aku melirik jam tanganku. Sebentar lagi kereta akan datang dan aku mulai kedinginan. Butiran salju semakin lama semakin banyak yang turun, mulai menutupi beberapa bagian pohon. Aku pun berbalik dan berjalan untuk memasuki stasiun ketika tiba-tiba aku melihat Tadashi. Kulitnya terlihat pucat. Kurasa ia kedinginan. Aku memutuskan untuk berjalan ke arahnya.

__ADS_1


“Yamada-san?” panggilku. Tadashi menoleh. Uap udara tipis berhembus dari mulutnya.


“Eh, Taneda-chan. Baru mau pulang?” kata Tadashi sambil tersenyum, membuatku sedikit salah tingkah.


“Iya.”


Hening sejenak.


“Iya, rencananya kami mau kencan dulu sebelum pulang”, jawabnya riang. Ada jarum tak terlihat yang menembus hatiku. Tadashi mengalihkan pandangannya dan menatap pepohonan yang mulai memutih. Sementara aku hanya menatapnya datar, lalu memikirkan sesuatu.


“H-Hei, Yamada-san”, kataku lagi. Aku melepaskan syal yang melingkar di leherku. Tanganku sedikit gemetaran dan dadaku bergemuruh. Kumohon, Tuhan, hanya untuk sekali saja tolong beri aku kekuatan!

__ADS_1


Tadashi menoleh. Ia memandangiku tanpa mengucapkan apapun.


“I-Ini. Pakailah syal ini supaya kau tidak kedinginan”, kataku dengan bibir bergetar. Dapat kurasakan pipiku juga memanas. Aku tidak butuh kata-kata maupun jawaban lagi karena perasaanku sudah lega.


mengerjapkan matanya—bingung. Kemudian, tangannya terulur dan mengambil syal merah ini dari tanganku.


“Arigatou”, katanya sambil tersenyum sambil. Syal merah ku pun melingkar nyaman di lehernya. Tadashi melirik jam tangannya.


“Aku harus pergi”, kataku kemudian.


“Ah.. ya, hati-hati di jalan”, jawab Tadashi. Aku segera berbalik dan berjalan memasuki stasiun tepat saat bel kedatangan kereta berbunyi.

__ADS_1


Aku duduk di bangku kereta. Melamun, memikirkan pertemuanku tadi dengan Tadashi. Aku bersyukur bisa bertemu dan mewujudkan untuk memberikan syalku padanya. Tahun depan, di musim yang sama, bagaimanakah perasaanku nanti, ya?


__ADS_2