Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
Come Back 2


__ADS_3

PRRKKKKKK “Woooe Cung, awas depanmu ada orang nyeberang tuh,” ucapnya sambil memukul kepalaku.


Aku langsung tersadar dan melambatkan laju kendaraku yang awalnya bisa dibilang cukup kencang, dalam hatiku berkata, untung saja aku tidak merenggut nyawa orang.


Setelah perjalanan yang cukup panjang, karena padatnya kendaraan bermotor, kami pun sampai di rumah sahabatku yang paling cantik. Ia turun dan langsung masuk ke dalam pagar.


“Cung, kamu gak mau mampir dulu, mama lagi masak masakan kesukaanmu loo,”


“Enggak deh, aku langsung pulang aja,” jawabku tak bersemangat.


“Kamu kenapa heh? Dari tadi keliatannya bete aja,”


“Gak kok, kecapekan aja, banyak kerjaan tadi di kampus,”


“Ya sudah deh, hati-hati ya cung,” dengan wajah yang masih bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi padaku.


pulang dengan cepat, karena memang jarak antara rumahku dengan Ivana hanya beberapa komplek saja. Sesampainya aku di rumah, aku hanya bisa terdiam sambil memandangi langit-langit rumah dan mengulang kenangan indah saat masih kecil bersama Livana. Dengan sangat rinci dan bagaikan melihat masa lalu, di langit-langit rumah aku seakan memutar film masa laluku.

__ADS_1


“Hei Ipan, ayo kita main ke taman belakang sekolah, ada banyak anak-anak disana, jadi kita bisa main petak umpet bareng yang lain,” ucapku yang masih berusia 6 tahun.


“He’em, ayo Man,” angguk Livana kecil.


Kami bedua berlarian menuju ke taman belakang sekolah, namun saat tiba di taman, tiba-tiba Livana langsung terdiam dan takut melihatnya banyak anak-anak yang tidak ia kenal. Ia bersembunyi di punggungku dengan sedikit mengintip ke arah anak-anak yang lain.


“Lho kenapa Ipana sembunyi?”


“Ipana gak mau main sama anak-anak itu, mau mainnya sama Eman aja,”


“Mereka baik kok, ayo kamu main bareng Elman ya,”


Aku pun berlarian bersamanya dan langsung dalam permainan petak umpet yang sangat seru kala itu, melihatnya ceria waktu itu begitu membuatku senang dan setiap hari pun kami berdua selalu pulang bersama setelah kotor-kotor. Tidak jarang kita kena’ semprot oleh ibu-ibu rempong kita, namun kita terus mengulanginya setiap hari.


Saat itu bertepatan dengan ulang tahunku yang ketujuh, itu adalah hari terakhirku tinggal rumah yang lama, rumah yang bersebelahan dengan rumah Livana dan akan pindah ke blok sebelah karena ayahku beli rumah lebih besar dan luas dan cocok dijadikan sebagai tempat bermain. Di saat pesta ulang tahunku itu tiba-tiba Livana mendatangi ayahku yang sedang makan dan menarik-narik bajunya.


“Om…om… apa Elman juga ikut pindah?” dengan wajah polos ia bertanya.

__ADS_1


“Iya dong cantik, kenapa?” jawab ayahku dengan senyum.


“Ipan ndak bisa main sama Elman lagi dong?”


“Lho, ya bisa dong sayang, kan Elman cuma di blok sebelah,”


“Oh dekat ya om?”


“Iya dong sayang,”


Setelah mendengar jawaban dari ayahku, Livana yang imut dan lucu itu berlari ke arahku dan memberikan kadonya kepadaku.


“Elman, ini hadiah buat Eman dari Livana,” dengan ceria memberikan kadonya padaku.


“Terima kasih ya Ipan hehehe,”


“Elman bakal sering main kesini kan? Ipan ndak mau jauh dari Elman,”

__ADS_1


“Iya, Elman janji tidak akan meninggalkan Ivana dan pasti akan terus berada di sisi Ivana,” jawabku dengan senyum.


__ADS_2