Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
KEBOHONGAN DI BULAN APRIL 6


__ADS_3

“Apa karena dingin ya? Kata-katamu terasa hangat. Rasanya kau seperti semakin dekat saja denganku. Mau jadi pengganti Franky atau apa pun itu tak masalah. Aku ingin selamanya seperti ini. Aku tak bisa tanya kenapa dia menangis.” Ucap Arima dalam hati.


Ketika sampai di ruangan Kaori.


“Aku hanya ingin mengatakan. Aku tak cukup baik untuk menutupinya.” Ucap Kaori sambil duduk di kasurnya


“Ini bohong. Ini bohong.” Ucap Arima sambil membayangkan yang ia lihat sama seperti ibunya.


“Maaf ya. Aku membuatmu mengingat hal yang tak ingin kau ingat. Kalau begini, lebih baik kita tak usah pernah betemu.” Ucap Kaori.


Keesokan harinya ketika Arima keluar dari kelas.


“Aku mau menjenguk Kaori di rumah sakit. Ikutlah denganku.” Ucap Franky.


“Aku tidak ikut.” Jawab Arima.


“Tak perlu memikirkan kami. Ikutlah saja.” Ucap Franky.

__ADS_1


“Sudah kubilang aku tak ikut!” Jawab Arima.


“Kau kenapa sih? Padahal Kaori sudah banyak melakukan hal untukmu. Kenapa kau menghindarinya?” Tanya Franky.


“Franky, apa yang harus kulakukan? Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Harus bersikap apa saat aku menemuinya?” Tanya Arima sambil menahan tangis.


“Ini hanya pendapatku, tapi kurasa kau memang harus menemui Kaori. Kalau aku yang dibutuhkannya, akan kulakukan apa saja. Jika itu untuk gadis yang kusukai, meminum air lumpur pun akan kulakukan. Tapi, kurasa yang dibutuhkan Kaori bukanlah aku. Orang yang dia butuhkan itu adalah kau Arima.” Jawab Franky.


Lalu Arima sendiri yang menjenguk Kaori, dan sampai ke rumah sakit dan ke ruangan Kaori.


“Karena aku sudah janji akan membawakan kue caneles.” Jawab Arima sambil menyerahkan kue caneles.


“Semuanya sehat-sehat saja, kan?” Tanya Kaori


“Yah, begitulah.” Jawab Arima.


“Aku tak tahu apa yang akan kukatakan.” Ucap Arima.

__ADS_1


“Kembali seperti dulu saja. Kau cukup melupakan segalanya, sama seperti menekan tombol reset. Tap tap gitu. Kalau begitu, hatimu akan bebas. Tak ada artinya kau mengingatku. Apalagi mengingat violinis yang tak bisa memegang busurnya lagi. Itu tak ada artinya.” Jawab Kaori dengan mata berkaca-kaca.


“Kenapa.. kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Setelah berteriak dan memukulku berulang kali. Setelah memaksaku untuk naik ke atas panggung lagi. Setelah membuat kenangan bersama yang tak ingin kulupakan.” Ucap Arima dalam hati.


“Kau tak bertanggung jawab!” Ucap Arima sambil memakan kue canelesnya.


“Kenapa kau makan kuenya! Aku sudah memintanya, kan.” Ucap Kaori dengan marahnya.


“Tapi aku yang membawanya. Aku tak kenal orang sepertimu!” Ucap Arima sambil memakan kuenya dan keluar dari ruangan Kaori.


“Tunggu. Kau sungguh orang yang aneh.” Ucap Kaori sambil tertawa.


Setelah keluar dari rumah sakit.


“Menyebalkan, menyebalkan, tapi ini tetap menyedihkan. Padahal kau sudah banyak melakukan hal untukku. Apa tak ada yang bisa kulakukan padamu?” Ucap Arima dalam hati.


Lalu Arima terus latihan piano untuk mengekspresikan kesedihan dia dan kekesalan dia. Setelah berhari-hari ia pun sudah dapat mendengar suara dari suara pianonya tersebut. Ia bermain dengan begitu indahnya dan ada satu juri pun yang mengundang Arima untuk bersekolah musik di luar negeri nantinya. Ia pun menolak tawaran tersebut, karena masih ada sahabatnya dan dia sudah berjanji kalau Kaori nanti sudah sembuh ia akan bermain bersama lagi. Saat di ruang dokter Kaori ingin meminta untuk dioperasi. Walaupun kemungkinannya kecil.

__ADS_1


__ADS_2