
Sayaka mulai membuka lembaran pertama buku itu. Pada lembaran pertama, terdapat tulisan yang mungkin berisi mengenai ungkapan hati pemilik buku. Haruki membacanya dengan serius, namun entah mengapa hal itu membuatnya sedih. Tulisan ini adalah tulisan pacarnya yang sudah lama meninggalkannya.
Sayaka menatap wajah Haruki yang terlihat serius namun tersirat rasa sedih itu. Sayaka menundukkan kepala. Lembaran demi lembaran dibuka oleh Haruki, namun yang sedari tadi muncul hanyalah tulisan dari sang pemilik. Hingga ia tiba di lembaran terakhir dan juga merupakan pesan dari sang pemilik buku.
DEG! Haruki membulatkan mata begitu membaca akhir dari buku itu. Mengatakan waktu ditulisnya catatan itu dan meninggalkan nama pemilik buku, Mizuki Sayaka.
Haruki terkejut. Ia menatap Sayaka yang berada di hadapannya. Rupanya Sayaka tengah tertidur di sampingnya. Haruki kembali melanjutkan pandangannya kepada buku itu. Ia membalikkan halaman lagi, kali ini ia melihat beberapa foto di sana. Kali ini makin membuatnya terkejut, foto itu adalah foto mantan pacarnya dan juga memiliki wajah yang sama dengan Sayaka.
“Kau sudah bisa mengetahuinya, ‘kan?” ucap Sayaka yang terbangun dari tidurnya.
Haruki berbalik menatap Sayaka. “Apa maksudnya? Apa kau adalah Mizuki Sayaka, mantan pacarku?” tanya Haruki.
Sayaka duduk di hadapan Haruki. “Benar. Aku memiliki buku itu. Aku adalah Sayaka Mizuki, mantan pacarmu. Tidakkah kau ingat itu, Haruki?” ucap Sayaka sedih.
“Bohong!” ucap Haruki.
Sayaka menggeleng. “Aku tidak berbohong…”
Haruki terkejut. Di pelupuk matanya mulai menggenang air matanya. “Tapi kau meninggalkanku waktu itu!” teriak Haruki sambil mengguncang bahu Sayaka.
__ADS_1
Sayaka menangis. Ia tidak sadar bahwa Haruki sampai sesedih ini. “Maaf! Aku tidak bermaksud meninggalkanmu!” ucap Sayaka.
“Kenapa?! Kenapa kau lakukan itu? Kemudian kau datang padaku untuk menjadi pacarku kembali?! Seandainya aku tahu dari awal aku juga tidak akan menerimamu kembali!” Haruki melepaskan guncangannya pada bahu Sayaka. Ia terdiam, ia membalikkan tubuhnya membelakangi Sayaka.
Terdiam cukup lama, akhirnya Sayaka mulai berbicara. “Sebenarnya… aku meninggalkanmu karena waktu itu aku sakit. Dokter mengatakan hidupku tidak akan lama lagi. Aku tidak berani bersamamu karena hidupku sangat singkat. Aku tidak ingin tenggelam dalam kesedihan karena meninggalkanmu…”
Haruki terdiam di tempat. Ia membeku. “A-apa yang kau katakan? Bodoh! Seandainya aku tahu seperti itu kebenarannya aku tidak akan membiarkanmu! Aku ingin bersamamu!”
Sayaka tersenyum. “Maaf. Aku hanya takut merasa sedih.”
“Tapi, sekarang kamu di sini. Aku tidak perlu khawatir lagi.” Haruki mengusap puncuk kepala Sayaka.
Sayaka menggeleng. Ia menggenggam erat lengan Haruki sambil menundukkan kepala. “Terlambat… Aku terlambat!” ucap Sayaka.
“Aku meninggal sebelum aku menyadari bahwa meninggalkanmu adalah hal yang salah!” Sayaka kembali menangis.
Haruki membulatkan mata. Air matanya tidak mampu ia tahan. “Meninggal? Apa maksudnya? Tapi kau berada di sini.”
“Aku yang sekarang bukanlah diriku! Aku hanyalah roh yang diberikan kesempatan untuk bertemu denganmu. Aku memohon kepada Tuhan untuk bisa bertemu denganmu dalam keadaan apa adanya. Aku meminjam tubuhku untuk terakhir kalinya.”
__ADS_1
Haruki memeluk tubuh Sayaka. “Jangan pergi. Kumohon jangan pergi!” teriak Haruki sambil mengeratkan pelukannya.
“Aku hanya diberi waktu sedikit. Aku harus segera pergi. Aku bersyukur bisa memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin!” ucap Sayaka sambil memeluk Haruki.
“Jangan pergi!”
“Aku tidak bisa! Aku harus pergi.” Perlahan demi perlahan tubuh Sayaka mulai tak kasat mata. Haruki mulai merasa tidak dapat menyentuh Sayaka.
“Tapi aku harus bagaimana? Aku bisa gila kalau seperti ini! Kau meninggalkanku karena sakit. Hal itu membuatku merasa bersalah.”
Sayaka tersenyum. “Tidak perlu merasa bersalah. Aku selalu bersyukur karena bisa menemuimu. Kau harus jauh lebih bahagia daripada diriku, Haruki!”
“Aku tidak bisa bahagia tanpamu!!! Kau meninggalkanku! Aku tidak bisa!!!” teriak Haruki.
“Berjanjilah untuk selalu bersamaku. Kau akan selalu menginggatku meskipun hanya sedikit. Berjanjilah…”
Haruki terdiam sambil menangis. Haruki menatap Sayaka, ia sudah mulai menghilang. Tapi ia masih bisa merasakan tangan Sayaka yang memeluknya.
“Terima kasih! Terima kasih! Aku mencintaimu…” bisik Sayaka sebelum semua tubuhnya mulai menghilang. Haruki sudah tidak merasakan tubuh Sayaka yang memeluknya lagi.
__ADS_1
Haruki mengangkat wajahnya. Sudah tidak ada Sayaka di hadapannya. Ia mulai menangis lagi. Sayaka sudah pergi untuk selamanya. Haruki menatap buku Sayaka yang ada di hadapannya, diambilnya buku itu kemudian dipeluknya erat.
“Aku berjanji! Aku berjanji akan selalu mengingatmu. Pastikan kau akan selalu bersamaku, Sayaka…”