Kembalinya Seniman Romantis

Kembalinya Seniman Romantis
Jarak Terdekat 2


__ADS_3

Awan malam ini tampak berwarna kelabu, jalan yang kulalui begitu mulus tanpa ada lubang sedikitpun, cahaya lampu sangat elok menerangi membuat cantik jalanan yang kulewati meskipun sesekali ada kepulan asap dari kendaraan yang memadati kota ini. Aku duduk sembari memegangi pundak Rian, karena Vixionnya yang melaju cukup kencang membuat kerudungku tersibak terkena angin.


Tiba-tiba rintik hujan berjatuhan membasahi seluruh kota termasuk aku dan Rian yang saat itu berada di tengah perjalanan. Rian lantas membelokkan Vixionnya ke sebuah Indomaret SPBU yang memungkinkan kami untuk berteduh sementara.


“Ini pakai”, Ucap Rian sembari memakaikan jaket jeans nya kepadaku, menutupi lengan dan punggung yang basah terkena air hujan.


“Nggak usah, pakai aja, dingin”. titahku sembari melepas jaket dan menyodorkannya ke Rian yang saat itu hanya memakai kaos lengan pendek.


“Yang basah Kamu yang kedinginan aku”, kata Rian tersenyum menyindirku.


Aku tak bisa berkata-kata, kupakai jaket jeans warna abu-abu kehitaman itu dan duduk di teras licin minimarket tersebut sembari makan makanan ringan yang telah dibeli Rian. Sembari menunggu hujan mereda sekitar 30 menit lamanya, kami hanya terdiam di tengah derasnya hujan.


Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan. Vixion Rian berjalan cukup jauh menjajaki jalanan yang licin dan basah terkena air hujan, sampai kedua mataku tertuju pada sebuah tulisan GKB yang berwarna warni itu. Kini kami tiba di sebuah angkringan kemudian memesan camilan dan minuman.


“Gimana?“ Rian membuka pembicaraan.

__ADS_1


“Apanya?” tanyaku.


Perbincangan di antara kami begitu kaku, bahkan membuat suasana begitu hening di tengah keramaian taman ini, dan tiba-tiba


“Mungkin kita bisa menjadi lebih dari sekedar teman”, katanya.


Deg… hatiku berdegup kencang bahkan tenggorokanku terasa sulit untuk menelan sesendok es cendol yang berada di dalam mulutku.


“Maksudnya?” tanyaku dengan hati-hati.


“Tapi Rian, aku berbeda dengan mereka yang ada di luar sana yang jauh lebih baik daripada aku”, jawabku merendahkan diri.


“Tapi sudah kupikirkan Afna, Aku tidak apa-apa kalau nantinya kita jarang untuk berkomunikasi”, jawab Rian sembari menatapku.


”Apa kamu tidak takut, kalau nantinya aku tidak bisa pegang prinsip dan mungkin aku tertarik sama laki-laki di pesantren?” jawabku mencoba membujuknya.

__ADS_1


“Aku hanya punya satu prinsip yaitu percaya, meskipun aku tidak tahu kamu nantinya jika di pondok ada laki-laki yang kamu miliki, tapi aku tetap percaya bahwa aku yang kamu miliki” jawabnya meyakinkanku.


“Beri aku waktu dulu Rian”, pintaku.


Sepulang dari taman aku hanya termangu memikirkan perkataan Rian tadi, hati ini begitu bimbang dan takut akan keadaan yang sekarang ini terjadi. Kami berdua sangat jauh ditinjau dari jarak rumah pun masih jauh, tapi perasaan ini tak bisa dielakkan. Setelah pertemuan itu, kami tak lagi saling bertukar kabar beberapa hari hingga tinggalah satu hari liburan ini usai.


Drrrt drrrt, segera kuambil ponsel yang tergeletak di atas meja warna hijau sebelah tv. ternyata BBM masuk dari Rian


Rian: ”Gimana?”


Aku: “Iya”


Kutekan tombol send pada kolom BBM, dengan senyum-senyum sendiri, merebahkan tubuh di atas kasur yang empuk saking senangnya perasaanku 3 tahun terakhir ini telah terbalas. Pikiranku terbang melayang membayangkan saat bagaimana aku merasakan perasaan ini untuk pertma kalinya terhadapmu, di kantin sekolah, di angkot, di ruang guru, di rumah, dan di taman dua hari lalu.


Aku sadar, jika ditinjau dari jarak Aku dan Rian sangatlah jauh tapi di belakang adakalanya jarak itu menjadi sangat dekat, sedekat kuku dengan ujung jari. Walaupun kita telah berpisah satu sama lain, namun jarak tetap menyatukan kita kembali.

__ADS_1


__ADS_2