
Alana dan Rani saling beradu pandang.
“Iya gitu?”
Nada memutar matanya malas.
“Kalian pada kemana sih pas ospek?”
“Ada!” jawab mereka kompak.
“Mereka datang pas hari pertama kita ospek. Mahasiswi sini udah pada tahu kali.” Nada lagi-lagi memutar matanya jengah.
Siapa sih yang tidak tahu Kang Yuga dan Kang Gilang?
Mereka terkenal alumni terbaik, sekaligus mahasiswa tergalak dulunya. Meskipun yang galak cuma Kang Gilang aja, sih.
“Oh pantes.” Setelah sekian lama berpikir akhirnya Alana mendapatkan jawaban.
“Kenapa?” tanya Nada penasaran.
“Hari pertama ospek aku sakit.” Ungkap Alana sambil meringis.
“Gue juga hari pertama ospek izin karena kakak gue nikah!”
Nada menepuk jidatnya frustasi.
“Tapi terlambat. Kalian udah bikin masalah sama mereka berdua. Siap-siap kalian diospek lagi!!”.
Perasaan Alana berubah tak karuan. Tentunya tentang kejadian kemarin. Tentang Nada yang memperingati bagaimana kejamnya mereka berdua ketika ospek dulu. Tapi Alana sama sekali belum melihat mereka, dulu. Tapi, sedikit tercerahkan bagaimana Kang Yuga kemarin mencecarnya.
Namun, ada kalimat Kang Yuga yang menjadi kepikiran juga. Katanya soal Kang Gilang yang sedang mencari istri. Bagaimana ceritanya? Mencari istri seperti meminta dibelikan mie ayam. Apalagi caranya yang sangat tak sopan berteriak di depan banyak mahasiswa.
Pagi ini, Alana gusar. Orang yang dia tunggu setengah jam yang lalu belum muncul sama sekali. Si tukang tepat waktu nyatanya bisa terlambat juga. Di taman dekat fakultas, Nanda terus cek hpnya karena berkali-kali mengirim pesan kepada Rani tetap saja tak ada balasan.
Hingga, seseorang duduk di ujung kursi membuatnya urung untuk melanjutkan niatnya meninggalkan taman.
__ADS_1
“K-Kang Gilang?” tanya Alana takut-takut.
“Udah inget saya siapa?” tanya Gilang penuh selidik.
Alana mengangguk, meskipun benar-benar tak tahu karena dulu memang tak pernah bertemu. Alana tak tahu bahwa si teman sedang ditahan di balik tembok bangunan oleh Kang Yuga.
“Minta alamat rumah kamu!” pintanya sambil mengulurkan tangan ke samping.
“Buat apa, Kang?”
“Kamu mau tanggung jawab kan soal hp saya yang rusak?”
Ah.. Alana baru ingat bahwa dia sudah bermain api dengan alumni ini tempo hari.
“Iya, Kang.” Jawabnya sambil menunduk.
“Ya udah, sini alamat kamu. Saya mau kirim tagihan servis hp saya!”
“Oh. Baik Kang.” Tanpa babibu, Alana langsung mencatat alamat rumahnya lalu dia berikan ke tangan Kang Gilang. Hingga setelah mendapatkan apa yang ia mau, Gilang berlalu begitu saja setelah berpamitan.
“Al?”
“Sorry Al. Gue ada urusan tadi.” Sesalnya yang hanya kebohongan saja. Jelas-jelas Rani ditahan Kang Yuga untuk tidak menemui Alana di taman karena Kang Gilang tengah melancarkan aksinya. Begitu juga, Rani diancam untuk tidak menceritakan apa yang terjadi.
“Tadi Kang Gilang bilang apa?”
Alana mengernyit. “Ko tahu aku lagi sama Kang Gilang tadi?”
Rani gelagapan, namun secepat mungkin ia mencari alasan. “Lah barusan beberapa detik sebelum gue kesini gue liat Kang Gilang dari sini. Makanya gue nanya.
Alana tak jadi curiga. Ia menghela nafas kasar.
“Kang Gilang minta alamat gue buat kirim tagihan servis hp.” Terangnya sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Kening Rani berlipat dalam kala mendengar penuturan Alana tentang Kang Gilang yang terasa aneh. Kalau mau kirim tagihan kan bisa pakai M-Banking. Kenapa harus ke rumah segala? Tanyanya dalam hati. Namun tak lagi ia pikirkan karena beberapa detik kemudian Alana meminta ditemani ke kantin untuk membasahi tenggorokannya yang kekeringan akibat gugup diinterogasi Kang Gilang.
__ADS_1
—
“Teh, ada tamu di luar.” Ucap Ibu menyembul dari balik pintu kamar Alana yang sedikit terbuka.
“Ke aku?” tanya Alana menunjuk diri sendiri.
“Iya atuh, ke siapa lagi?” jawab Ibu.
“Siapa—?” belum lagi bertanya Ibu sudah meninggalkannya yang terbengong sendirian.
Tamu? Pikirannya menerawang, siapa gerangan tamu yang datang di malam hari jam 21.00 WIB ini? Tidak biasanya. Namun otaknya berpikir kepada kejadian tadi pagi di taman dekat fakultas jurusannya ketika Kang Gilang meminta alamat rumah untuk tagihan servis ponselnya.
Buru-buru Alana bergegas, kemudian mengambil beberapa uang cash untuk dibayarkan. Berkerudung panjang juga memakai baju tidur motif bunga sebagai outfit malam ini. Ya, kan namanya juga mau tidur, makanya Alana cuek-cuek saja dengan pakaiannya.
“Loh, Teh, kok bajunya pake yang begitu, sih?” tanya Ibu menghentikan langkahnya yang sedikit lagi menuju luar rumah.
“Ketimbang mau bayar tagihan masa harus pake gaun sih, Bu?” tanya Alana terkekeh.
“Tapi—” belum sempat mencegah, Alana sudah berlalu begitu saja ke luar.
Alana membeku di tempat, tangannya mengepal dengan uang cash yang teremas sampai kusut, lidahnya kelu, jantungnya berdetak sudah tak karuan, matanya melotot, tiba-tiba saja langkahnya seolah dipaku hingga ia tak bisa lari untuk menyembunyikan mukanya yang sudah memerah menahan malu.
Pantas saja Ibu menegurnya ketika Alana hanya memakai baju tidur saja. Ternyata tamunya bukan sembarang tamu.
Kang Gilang? Mau apa dia kesini?
Segala pertanyaan di otak sudah seperti kaset kusut yang sulit diurai. Antar gugup dan tak menyangka. Tamu yang awalnya Alana sangka adalah kurir atau penagih servis hp nyatanya tak seperti yang ia bayangkan. Yang ini tampan tanpa cela.
“K-Kang Gilang? Mau nagih uang servis hp ya? Ini Kang!” Alana memberikan uang cash yang sudah tak jelas bentuknya.
Sontak Ayah dan Kang Gilang tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan polos putri bungsunya.
“Kamu ada-ada aja, Teh. Kang Gilang bukan mau nagih uang!” timpal Ayah menyela di sisa tawa renyahnya.
“Hah? Terus mau ngapain?” kini Alana beralih meminta jawaban kepada Gilang yang tersenyum begitu manis membuat Alana jantungan.
__ADS_1
“Saya mau lamar kamu, Alana Liora Gantari.”
“APAAAAA?”