Ketika Playboy Jatuh Cinta

Ketika Playboy Jatuh Cinta
Api Unggun


__ADS_3

Matahari pun sudah mulai tenggelam menandakan hari yang beranjak petang. Kelompok kami mempersiapkan diri untuk menampilkan pentas seni sehabis api unggun. Kakak panitia terlihat sibuk mempersiapkan kayu bakar yang akan digunakan untuk api unggun. Mereka mendesain sedemikian rupa agar api unggun tampak lebih indah ketika menyala dalam keadaan gelap gulita.


Kini saatnya yang ditunggu para peserta telah tiba. Seluruh lentera telah dipadamkan oleh panitia. Semua berkumpul melingkari api unggun namun menyisihkan ruang untuk para petugas yang bertugas menyalakan api unggun. Mereka terdiri dari 9 orang yang masing masing membawa obor. Berada dalam dua barisan dan berjalan layaknya petugas paskibra lalu melingkari kayu bakar yang sudah tersusun rapi.


Pembina upacara api unggun mulai menyalakan salah satu obor dari mereka. Lalu mereka membacakan satu per satu dasa dharma pramuka secara bergantian sembari menyalakan api satu sama lain dalam obor tersebut. Ketika semua obor sudah berhasil menyala. Mereka mendekat lalu meletakkan obot tersebur diantara kayu bakar.


Menjauh secara perlahan dan api unggun pun mulai berkobar. Tiba tiba terdengar suara ledakan yang membuat semua orang kaget. Ternyata ledakan tersebut bersumber dari petasan yang dinyalakan diatas menara. Menara itu sengaja dibuat oleh panitia guna mengabadikan momen. Dari atas, nampak api unggun membentuk tunas kelapa yang sengaja dibuat menggunakan lilin yang telah disambungkan dalam kayu bakar. Namun kami yang berada diantara api unggun tidak melihat jelas betapa indahnya pemandangan tersebut.


Api mulai menghangatkan tubuh. Semakin membara dengan diiringi lantunan orang yang menyanyikan lagu api unggun.


"Hoaiiiyooo... Apiiii, unggun berkobar... Hoaiiiyooo... Pramuka, riang dan sabar... Hoaiiiyooo..."

__ADS_1


Begitulah lirik yang dilantunkan. Sungguh membuat hati merasa tenang seketika. Disela api unggun yang sedang menyala, kakak panitia mengintruksikan kami untuk berpentas seni. Satu persatu kelompok dari kami telah menampilkan diri.


Dan saat ini kelompokku yang mendapat giliran selanjutnya. Aku tampil sebelum penampilan kelompok terakhir. Aku sudah merasa sedikit tenang dan menaiki panggung yang sudah disediakan panitia. Aku membacakan puisi yang sudah kususun rapi. Sedangkan yang lain, melantunkan alat musik yang membuat semua mata menatap kearah kami.


"Untukmu Seniorku"


Sesaat setelah ini..


Menyapa kami didepan gerbang sekolah,


Tak lupa senyum senantiasa merekah menghiasi wajahnya,

__ADS_1


Seniorku..


Kau tunjukkan keindahanmu,


Bak rinai hujan diantara awan biru,


Bak pelangi menghias setelah itu,


Begitulah sepenggal puisi yang kubuat untuk menggambarkan bayangnya yang pernah hadir menghiasi fikirku. Tapi tak kusangka dia hanyalah seorang playboy semata. Yang hanya mempermainkan hati seorang wanita. Membuatnya tergila gila akan senyuman palsunya. Sungguh tak tau malu. Sudahlah seharusnya aku tak perlu memikirkan hal itu. Aku tau, bahwa seorang playboy pasti tidak akan jatuh cinta kepada seorang wanita.


Dia hanya mencari mangsa untuk diajaknya berpacaran lalu seketika ditinggalkan. Karena mungkin wanita yang melihatnya pasti akan tergoda akan ketampanannya. Dan bila diajak berpacaran pastilah merasa senang. Aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan memberinya pelajaran atas apa yang pernah dia lakukan. Meski dia tak mengenalku untuk saat ini. Namun aku yakin, seiring berjalannya waktu pasti dia akan mulai melirikku. Dan aku akan membuatnya jatuh cinta terhadapku lalu mencampakkannya sebelum dia meninggalkanku seperti wanita yang diceritakan syafa kala itu.

__ADS_1


__ADS_2