
Aku menghempaskan fikirku yang mulai melayang jauh ketika membacakan puisi tersebut. Terdengar tepuk tangan yang begitu riuh. Mereka yang sedang memandangiku merasa terharu terlebih kakak panitia semuanya bertepuk tangan dengan meriah. Aku mengucapkan terima kasih dan mulai melangkahkan kaki menuju tempat semula. Aku berada disebelah syafa, namun tiba tiba ada yang menepuk pundakku sembari menyapa.
"Hay, kamu nisa ya?" Sapanya
"Hay juga kak. Iya kok tau namaku?" Aku merasa heran.
"Ya taulah, barusan kan kamu yang membacakan puisi dan kamu juga memperkenalkan diri" Ujarnya sembari tersenyum.
"Oh iya aku bahkan hampir melupakannya. Kakak yang menolongku tadi pagi ya?" Tanyaku yang sebenarnya mengetahui jawabannya.
__ADS_1
"Iya, kamu masih ingatkan? Oh iya, kalo boleh tau puisi tadi kamu buat sendiri ya dek?" Tanyanya.
"Iya kak, masih ingatlah. Aku buat sendiri kok kak. Puisinya jelek ya kak, maaf ya kak soalnya aku bukan seorang puitis jadi gak pandai bila harus merangkai puisi. Terlebih puisi yang ditujukan untuk senior seperti kakak kakak" Ujarku sembari tertunduk lesu.
"Heh kamu itu, merendah banget sih. Tadi itu puisi kamu lebih dari kata bagus tau. Kakak aja sampe terkesan mendengarnya. Kamu pasti sudah biasa membuat puisi ya?" Tanyanya.
"Oh gitu ya, boleh minta nomor WA kamu gak dek?" Tanyanya dengan mata yang berbinar.
"Boleh kak, sini handphone kakak. Biar aku tuliskan" Ucapku sembari mengulurkan tangan.
__ADS_1
Setelah menulis nomorku diponselnya. Dia langsung meminta izin untuk kembali ke sekertariatan. Akupun kembali mengarahkan pandanganku untuk menikmati penampilan kelompok berikutnya. Namun sebelumnya namaku kembali dipanggil melalui microfon dipanggung itu. Ternyata aku dijenguk oleh mama yang sudah menantiku ditempat sekertariatan panitia.
Akupun bergegas menuju kesana seorang diri. Disana aku melihat kak Firman sedang menemani mama yang masih menungguku. Aku memeluk mama karena merasa rindu. Dua hari ini aku tak bertemu dengannya jadi beginilah tingkahku ketika melihatnya. Mama bertanya kepadaku apakah aku merasa tidak enak badan. Karena mama khawatir jika penyakitku kambuh.
Ternyata mama sudah bercerita kepada kak Firman tentang kondisiku. Mama juga meminta izin kepadanya untuk membawaku pulang. Tetapi aku menolak permintaan mama karena aku berfikir mengenai tanggung jawabku sebagai ketua. Aku harus membantu teman teman untuk berkemas membersihkan tenda esok hari. Jadi aku meminta mama untuk tidak membawaku pulang malam ini. Mama pun menyetujuinya dan menitipkanku kepada kak Firman. Nampaknya kak Firman menyanggupi permintaan mama dengan senang hati.
Mama mulai meninggalkanku. Di tempat sekertariatan kini hanya ada aku dan kak Firman yang kebetulan sedang bertugas menjaga sekertariatan. Kak Firman memintaku untuk meminum obat yang telah dibawakan oleh mama. Mama sempat menitipkannya kepada kak Firman. Akupun meminumnya. Kak Firman sungguh baik hati dari yang kukira.
Perlahan aku menyadari bahwa kak Firman yang jarang menampakkan diri dihadapan kami semua justru memberikan perhatian khusus kepada adik kelasnya. Sedangkan kak Arul, dia terlalu sering berdiri didepan dan memegang microfonnya untuk sekedar menarik perhatian kami semua.
__ADS_1