
Aku menunggu jemputan mama didepan gerbang sekolah bersama Syafa. Ponselku bergetar pertanda ada pesan yang masuk.
Via WhatsApp Kak Firman♡,
"Dek, maaf ya. Kakak gak bisa nganter kamu pulang. Karna ada rapat osis hari ini" Tulisnya.
"Iya kak gapapa kok. Aku juga udah minta jemput mama. Kakak fokus rapat osis aja gausah mikirin adek dulu" Balasku.
"Iya dek, hati hati ya. Kalo ada apa apa kabari kakak" Balasnya.
__ADS_1
Aku hanya membaca pesannya.
Dan tiba tiba ada yang menghampiri kami berdua. Ternyata yang menghampiri kami adalah kak Arul. Dia memarkirkan sepeda motornya yang jaraknya lumayan dekat dari tempat kami berdiri. Awalnya aku merasa heran mengapa kak Arul tidak mengikuti rapat osis seperti kak Firman. Dia mendekat kearah kami.
"Hey Nisa, Syafa.. Kalian sedang apa disini? Kok belum pulang si?" Tanyanya.
"Eh kak Arul. Kenapa sih kakak selalu muncul. Emang perkataanku itu belum jelas ya? Aku tegasin lagi ya ke kakak. Kakak itu gausah deh ikut sok peduli dan ikut campur urusan kami. Dan kakak masih bertanya kami sedang apa? Emang kakak gak liat apa kami sedang duduk disini hah???" Tegas Syafa.
"Ohh gitu, yaudah tapi aku mau nungguin si nisa dulu. Kakak berdiri aja disitu. Kalo kakak gak mau, silahkan bisa ambil sendiri ke rumahku. Nanti aku bisa pulang naik angkot" Ujar Syafa kembali mempertegas.
__ADS_1
"Iya kakak tungguin kok" Sahut kak Arul.
Seketika itu juga, mama datang membawa mobilnya. Rasanya aku sedikit malu bila dijemput menggunakan mobil. Karena aku tak ingin teman teman melihatku. Aku ingin bersikap sederhana seperti biasanya tanpa memamerkan kemewahan.
Dan saat itu juga aku menawarkan Syafa untuk pulang bareng aku karna kebetulan mama bawa mobil. Jadi bisa sekalian anterin. Tapi Syafa menolaknya, padahal mama juga memintanya untuk ikut bareng kami. Mungkin Syafa juga merasa tidak enak hati dengan kak Arul yang menunggunya sejak tadi. Ternyata Syafa masih punya sedikit rasa peduli juga dengannya.
"Yaudah fa, aku duluan dulu ya. Bye..." Ujarku kepadanya.
"Iya nis, hati hati ya" Sahutnya.
__ADS_1
Mama pun melajukan mobilnya menuju rumah. Entah apa yang selanjutnya terjadi dengan Syafa. Semoga dia baik baik saja bersama kak Arul. Rasanya aku khawatir jika harus membiarkan Syafa pulang bersama kak Arul. Tapi kenapa ya Syafa menolak permintaanku untuk mengantarkannya pulang. Apa Syafa sekarang sudah berubah pikiran dan mulai membuka hatinya untuk si Playboy itu? Entahlah. Nanti aku akan segera mencari tau jawabannya langsung darinya.