Ketika Playboy Jatuh Cinta

Ketika Playboy Jatuh Cinta
Kesedihan Kami


__ADS_3

Ketika sampai didepan rumahku, kak Arul terlihat sedang menatap kagum rumahku. Mungkin karena penampilanku yang tidak seperti anak orang kaya. Aku memang tidak suka memamerkan kekayaanku disekolah. Aku terlihat seperti anak pada umumnya. Memakai sepatu yang ala kadarnya dan tidak menggunakan motor yang bagus seperti yang digunakan kak Arul. Motorku hanya sederhana dan tidak begitu mahal harganya. Karena aku yang meminta kepada ayah untuk tidak membelikanku motor mahal seperti anak orang kaya umumnya disekolahku.


"Ini beneran rumah kamu ya Nis?" Bisik Syafa ditelingaku.


"Bukan Fa, ini rumah orang tuaku. Wkwk" Ujarku sembari tertawa kecil.


Syafa yang mendengarnya langsung mendengus kesal.

__ADS_1


Aku membuka gerbang dan memasukkan motor ke bagasi. Aku mengajak Syafa untuk masuk ke rumah. Aku hampir saja melupakan bahwa kak Arul yang masih berada didepan gerbang. Akupun menghampirinya sembari berkata,


"Kak Arul mau mampir dulu?" Ujarku.


"Oh iya dek gausah repot repot. Kak Arul pulang langsung aja karena masih ada urusan. Titip salam ya buat Syafa" Sahut kak Arul sembari bergegas melajukan motornya meninggalkanku.


Aku bergegas menghampiri Syafa yang sedang menungguku diruang tamu. Mama dan Ayahku sedang tidak dirumah. Mungkin mereka masih sibuk dengan urusan masing masing. Aku menuju dapur meninggalkan Syafa yang sedang duduk, membuatkan minum untuknya lalu kembali ke ruang tamu. Syafa nampak sedang kebingungan melihat seluruh ruangan disini. Entah apa yang ada difikirannya.

__ADS_1


"Nis, kamu beruntung banget si. Orang tuamu memiliki rumah semegah ini dan juga kamu itu anak tunggal. Pasti kamu sering banget dibelikan sesuatu yang mahal mahal. Sangat berbeda jauh denganku. Aku memang anak terakhir dari tiga bersaudara. Namun ayahku meninggal disaat ibu sedang mengandungku. Sehingga ibu membesarkanku seorang diri. Dia hanya mendapatkan penghasilan dari usaha cattering kecil kecilan" Ujarnya menampakkan wajah yang sedih.


"Nggak kok syafa, kamu malah beruntung sekali bisa mendapat kasih sayang dari saudaramu. Sedangkan aku sama sekali tidak memiliki saudara sekandung. Meski mama memanjakanku, namun aku juga merasa kesepian meski berada dalam kemewahan. Ayah selalu membelikanku sesuatu yang mahal namun aku sebenarnya tak menginginkan hal itu. Yang kubutuhkan hanyalah seseorang yang mau menjadi pendengar setia disetiap hari. Mendengarkan setiap curhatanku. Aku justru ingin sepertimu yang memiliki kakak" Sahutku sembari meneteskan air mata.


Mendengar jawabanku, Syafa langsung memelukku erat. Mungkin karena dia melihatku menangis jadi dia ingin menenangkanku saat ini. Aku bersyukur sekali bisa memiliki teman sepertinya yang mau mendengarkan dan sekaligus berbagi kesedihan ini.


Dan mulai saat ini aku juga berjanji pada diriku sendiri akan berbagi apapun yang kumiliki untuk Syafa. Karena aku baru tau bahwa Syafa tak seberuntung diriku. Kamipun melepaskan pelukan masing masing dan berjanji mulai sekarang akan saling melengkapi satu sama lain. Bila Syafa membutuhkanku, aku akan senantiasa ada didekatnya dan begitupun sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2