Ketika Playboy Jatuh Cinta

Ketika Playboy Jatuh Cinta
Mencekam


__ADS_3

Selepas aku meminum obat, ada dua kakak panitia perempuan yang berjalan mendekat kearahku dan kak Firman. Mereka menyapa kami sembari bertanya mengapa aku berada disini. Mereka mengira aku sakit namun kak Firman menjelaskan bahwa aku baru saja dijenguk oleh mama dan disuruh untuk meminum obat. Lalu kak Firman meminta kepada kedua temannya itu untuk menjaga sekertariatan.


Aku berjalan hendak meninggalkan sekertariat namun kak Firman ternyata mengejarku. Dia menemaniku menuju depan panggung. Setelah aku sampai disana, kak Arul ternyata sedang berada dipanggung dan memberitahu kepada seluruh peserta untuk segera tidur ditenda masing masing. Karena malam ini sudah terasa dingin sekali. Kamipun membubarkan diri menuju tenda masing masing.


Aku tertidur, namun tak lama kemudian kami dibangunkan sekitar pukul satu malam. Ternyata akan ada caraka malam. Aku sudah paham betul mengenai acara ini karena sewaktu smp aku sudah pernah menjadi panitia persami.

__ADS_1


Terlihat sedikit sekali kakak panitia yang membariskan kami semua di lapangan. Nampaknya sebagian dari mereka sudah menyiapkan diri dipos masing masing dan memakai pakaian ala hantu untuk menakut nakuti kami semua. Pastinya aku tidak akan takut kali ini karena sudah berpengalaman menjadi panitia.


Kami dibariskan oleh kakak alumni yang tidak kuketahui namanya. Dia cukup tegas dalam berbicara dihadapan kami semua. Mungkin saja dia pernah menjabat sebagai ketua osis dimasanya karena terlihat jelas nada bicaranya sungguh berwibawa. Sepertinya dia sudah terbiasa berbicara didepan umum seperti saat ini. Kami disuruh menutup mata kami memakai kain penutup yang sudah disiapkan sebelumnya.


Nampaknya aku mengetahui nama dari seseorang yang bersuara tersebut. Tak asing lagi, dia pasti kak Isti yang suka melawak diruanganku beberapa hari kemarin. Mungkin dia akan mengeluarkan leluconnya lagi meskipun sedang dalam suasana yang mencekam. Benar saja, ketika kami sedang berjalan. Tiba tiba kak isti berbicara.

__ADS_1


"Awas dek ada makam yang nggak berpenghuni, awas dek ada ular yang sedang melompat, awas dek ada ribuan semut hendak menyebrang dan kalian sekarang harus melompatinya" candanya yang membuat kami menahan tawa. Ada juga yang menganggap candaan kak Isti itu serius, mungkin mereka tidak tau bahwa yang sedang bicara itu kak Isti. Jadi ya menurut saja apa yang diperintahnya. Karena mereka berteriak sambil melompat. Seperti anak kecil saja.


"Diam dek, gausah teriak teriak. Kita sedang berada diantara rumah warga. Jadi jangan mengganggu waktu istirahat mereka" Ujar salah satu kakak panitia.


Kelihatannya dia galak. Dari nada bicaranya sungguh terdengar jelas. Saat kami sedang berjalan, suara ketukan itu berhenti. Ini menandakan bahwa disinilah kami akan dipisahkan dengan jarak yang cukup dekat.

__ADS_1


__ADS_2